INDUSTRI MEBEL : Produk Gunungkidul Kalah Bersaing

INDUSTRI MEBEL : Produk Gunungkidul Kalah BersaingPameran produk-produk mebel digelar Asosiasi Pengusaha Mebel Gunungkidul (Apmeg) di lapangan Alun-alun Wonosari, Jumat (10/7/2015). Pameran yang berlangsung selama 9-14 Juli ini diharapkan bisa meningkatkan penjualan mebel produk lokal Gunungkidul dan membuka peluang pasar di luar negeri. (JIBI/Harian Jogja - Uli Febriarni)
12 Juli 2015 00:20 WIB Uli Febriarni Ekbis Share :

Industri mebel di Gunungkidul dikuasai dua daerah dari Jawa Tengah.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Produk mebel lokal Gunungkidul kalah bersaing dengan produksi dari wilayah Jawa Tengah, yakni Klaten dan Salatiga.

Berdasarkan riset pasar yang dilakukan Asosiasi Pengusaha Mebel Gunungkidul (Apmeg), hasil produksi dua kabupaten di Jawa Tengah itu sudah mulai menguasai pangsa pasar di Gunungkidul. Dilihat dari kualitas padahal produk lokal lebih bagus dari segi bahan baku maupun finishing atau penyelesaian produk barang.

Pengusaha mebel dari Risqi Meubel, Marni Bayu Utama, menyoroti produk lokal kalah saing dari segi permodalan, tenaga penyelesai produk dan pemasaran. Dari segi modal, kebanyakan pengusaha masih menggunakan dana pribadi dan takut mengajukan kredit di bank atau layanan lembaga keuangan mikro.

“Mereka [pengusaha] takut kalau produk tidak laku, bingung bagaimana cara membayar,” ungkapnya di sela-selea agenda Gelar Mebel Apmeg Gunungkidul di Alun-alun Wonosari, Jumat (10/7/2015). Karena itu, keberadaan Pemkab diperlukan guna membukakan pintu kredit bunga lunak dari bank atau lembaga keuangan mikro.

Dari tenaga penyelesai produk, tidak semua pengusaha mebel memiliki tenaga finishing yang mumpuni. Selama ini, sesama anggota Apmeg bahu-membahu apabila misalnya pengusaha di Kecamatan Gedangsari yang kesulitan tenaga finishing, akan dibantu anggota Apmeg di Karangmojo, yang memiliki lebih banyak tenaga penyelesai produk.

Sisi pemasaran yang dianggap menjadi ujung tombak juga tak lepas dari masalah. Marni memaparkan sudah lama Apmeg mengusulkan agar Pemkab dapat memberikan lahan untuk dibangun showroom bersama guna mewadahi penjualan mebel dari harga terendah sampai tertinggi.

Apmeg mengusulkan showroom didirikan di wilayah Desa Bandung, Kecamatan Playen. Namun, sampai saat ini belum direalisasikan Pemkab. “Apmeg juga mengusulkan Pemkab ikut membantu membuka pasar di luar negeri. Kalau Apmeg bergerak sendiri, tidak mungkin,” ungkap Divisi Publikasi Apmeg itu.

Ketua Panitia Gelar Mebel Apmeg, Subardi, memaparkan produk lokal masih dipasarkan di seputaran DIY, Jakarta dan Surabaya. Bahan baku yang selama ini digunakan antara lain kayu jati, mahoni dan akasia. Untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan kualitas produk, secara rutin Apmeg menggelar pertemuan dan pembinaan kepada pengusaha.

Termasuk membangun kesadaran dan penerapan sertifikasi kayu untuk produk. Selama ini, sertifikasi kayu baru diupayakan dari sisi pemilik lahan atau kayu sedangkan sekarang Apmeg mencoba agar bisa ada kesadaran pula dari para pengusaha.