PERTUMBUHAN EKONOMI : Kenaikan Harga Wajar, Inflasi Terkerek Tipis

28 Juli 2015 00:20 WIB Abdul Hamied Razak Ekbis Share :

Pertumbuhan ekonomi, pada Juli ini diprediksi inflasi miliki perbedaan kecil dibanding bulan lalu.

Harianjogja.com, JOGJA- Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY memprediksi inflasi pada Juli ini tidak jauh berbeda dengan inflasi pada Juni lalu. Meski muncul tekanan akibat kenaikan harga kebutuhan masyarakat selama Ramadan hingga libur lebaran, namun diyakini inflasi pada Juli masih dalam taraf wajar.

Ketua III TPID DIY Arief Budi Santoso menyampaikan, kenaikan harga kebutuhan masyarakat selama Ramadan dan libur lebaran, sejalan dengan karakteristik yang selama ini terjadi. Terutama, untuk komoditas-komoditas tertentu. "Kenaikan harga pada H-2 ini terjadi pada komoditas cabai, daging sapi dan daging ayam. Sementara, untuk harga komoditas lainnya turun seperti bawang merah dan telur ayam broiler. Adapun komoditas lainnya cenderung stabil seperti beras, gula pasir dan minyak goreng," ujarnya akhir pekan lalu di Kepatihan Jogja.
??
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) Jogja itu menambahkan, sesuai kondisi dan hasil pantauan harga di DIY, tekanan inflasi pada Juli lebih banyak disebabkan oleh naiknya permintaan bahan-bahan kebutuhan masyarakat. Dia memprediksi inflasi pada Juli tersebut lebih tinggi sedikit dibandingkan Juni lalu sebesar 0,35%. "Perkiraan inflasi Juli 2015 adalah 0,4 hingga 0,48 persen. Kalau hasilnya demikian, maka kami masih menilai inflasinya tetap lebih rendah dari bulan-bulan pada tahun sebelumnya," paparnya.

Meski begitu, dia berharap inflasi yang terjadi masih dapat ditekan. Jika harga daging sapi dan ayam mengalami kenaikan yang tidak wajar akan digelar Operasi Pasar (OP) daging di tingkat nasional yang berpengaruh di tingkat lokal, termasuk DIY. "Selama Juli ini harga komoditas strategis masih terkendali pada H-2. Harga komoditas yang merangkak naik yaitu daging sapi, daging ayam, cabai yang naik karena meningkatknya permintaan," jelas Arief.

Menurut Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) DIY, Didik Purwadi, perkembangan inflasi inti di DIY cenderung stabil seiring terjaganya ekspektasi masyarakat, ketersediaan stok dan kelancaran distribusi. Harga daging sapi, katanya memang terjadi kenaikan antara Rp5.000 hingga Rp10.000 per kilogram ?(Kg) atau berkisar antara Rp110.000 hingga Rp120.000 per kg.

"Kenaikan harga daging sapi ini memang ada kesepakatan dikalangan pedagang. Ini fakta mereka memiliki bergaining untuk menaikkan harga. Namun, kenaikan yang disepakati secara tidak tertulis itu masih dalam taraf yang wajar," ujar Didik di Gedhong Pracimosono Kepatihan.

Anggota TPID DIY ini menyampaikan karakteristik harga kebutuhan masyarakat sebelum puasa naik, puasa turun dan jelang Lebaran kembali naik, juga diakui menjadi temuan.TPID, sambungnya, sudah meninjau lima pasar induk di kabupaten/kota se-DIY, kenaikan terjadi pada daging sapi dan cabai. "Kenaikan komoditas cabai diakui oleh asosiasi pedagang karena ketergantungan dengan supir. Jika harga sudah tinggi dari pemasok mau tidak mau harga juga tinggi di tingkat pedagang," tandasnya.

Dijelaskan Didik, untuk dapat mengendalikan harga kebutuhan di pasar, maka kunci utama adalah mengendalikan harga ditingkat pemasok atau distributor. Harga cabai di Pasar, ujarnya, sangat bervariasi. Tetapi, permintaan dan ketersediaanya cukup stabil sehingga tidak perlu dikhawatirkan. Selain kenaikan harga daging dan cabai, fenomena penurunan harga justru dialami komoditas bawang merah, minyak goreng, telur ayam broiler dan gula pasir.

"Pemerintah tidak bisa campur tangan terlalu dalam untuk mengendalikan harga. Sebab, terbentuknya harga itu karena ketersediaaan dan permintaan. Pemerintah hanya pertugas mengamankan pasokan, kelancaran distribusi, keterjangkauan harga bagi masyarakat. Kami juga harus melakukan pendidikan konsumen sehingga masyarakat tidak resah," ungkap Didik.