Premi Asuransi ASEAN Menjadi US$96,3 miliar

Premi Asuransi ASEAN Menjadi US$96,3 miliarKetua Dewan Asuransi ASEAN (ASEAN Insurance Council/AIC) Michael F Rellosa (paling kanan) ketika memberikan keterangan mengenai pertumbuhan industri asuransi di ASEAN dalam jumpa pers Konferensi Asuransi ASEAN (ASEAN Insurance Summit/AIS) 2016 di Hotel Royal Ambarrukmo, Sleman, Rabu (23/11/2016). (Kusnul Isti Qomah/JIBI - (Harian Jogja)
24 November 2016 19:55 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Premi Asuransi Asean meningkat 2,9%

Harianjogja.com, SLEMAN -- Dewan Asuransi ASEAN (ASEAN Insurance Council/AIC) mengumumkan total premi tertulis bruto yang terdaftar di ASEAN meningkat sebesar 2,9% menjadi US$96,3 miliar melalui Laporan Statistik Asuransi ASEAN Tahun 2015 dalam pembukaan Konferensi Asuransi ASEAN (ASEAN Insurance Summit/AIS) ke-2 di Hotel Royal Ambarrukmo, Sleman, Rabu (23/11).

Ketua Dewan Asuransi ASEAN (ASEAN Insurance Council/AIC) Michael F Rellosa mengungkapkan, industri asuransi memberikan kontribusi terhadap PDB meningkat 0,4%, menjadikan tingkat penetrasi asuransi keseluruhan sebesar 3,8% di tahun 2015. Singapura, Thailand, dan Malaysia memiliki pasar asuransi yang paling berkembang dengan  kontribusi premi asuransi masing-masing sebesar 33%, 23%, dan 21%. Di sisi lain, Kamboja, Vietnam, dan Filipina mencatat pertumbuhan premi bruto tertinggi sebesar 38,4%, 22,6%, dan 10,9%.

"Pertumbuhan premi asuransi sampai dua digit menunjukkan masih besarnya potensi pasar yang bisa digarap," ujar dia di Hotel Royal Ambarrukmo, Sleman, Rabu (23/11).

Pasar asuransi jiwa ASEAN mencatat adanya peningkatan premi sebesar 3,9% menjadi US$68,7 miliar di tahun 2015, dengan Singapura (32,4%), Malaysia (22,9%), dan Thailand (22,1%) sebagai kontributor terbesar. Pertumbuhan tertinggi ditunjukkan oleh Kamboja dengan peningkatan sebesar 192,6% untuk asuransi jiwa, diikuti dengan Vietnam (30,1%) dan Filipina (13,5%).

Pasar asuransi umum juga melaporkan pertumbuhan yang signifikan dengan peningkatan 2,9% untuk premi bruto, dipimpin oleh Singapura (33,3%), Thailand (24,3%), dan Indonesia (15,4%) sebagai kontributor terbesar. Dalam hal pertumbuhan, Kamboja dan Vietnam mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 16,4% dan 13,9%. “Meski kami melihat pertumbuhan yang menakjubkan dalam industri asuransi di beberapa negara, kontribusi asuransi terhadap PDB di beberapa negara sangatlah beragam, karena perbedaan tahap perkembangan sosial dan ekonomi di berbagai negara di ASEAN,” ujar Sekretaris Jenderal AIC Evelina Pietruschka.

Ia menyebutkan, hal ini berarti ada potensi untuk pertumbuhan di masa depan. Melalui kolaborasi dan komunikasi yang lebih luas secara lintas pasar, AIC ingin memposisikan industri asuransi untuk memainkan peran yang lebih besar di dalam MEA. Beberapa pasar, seperti Singapura dan Thailand, menunjukan tingkat penetrasi hampir dua digit, sehingga dapat dibandingkan dengan pasar-pasar maju seperti AS atau Eropa. Tetapi tingkat penetrasi asuransi ASEAN secara umum masih 3,8%. Ini berarti masih banyak kesempatan bagi asuransi di kawasan untuk berkembang lebih jauh.

Industri asuransi mewakili stabilitas tinggi dan komitmen jangka panjang, serta dapat memainkan peran penting dalam mendukung sekaligus menyangga pertumbuhan ekonomi regional. Premi tertulis bruto ASEAN secara menyeluruh memiliki tingkat pertumbuhan 5,8% setiap tahun dari 2012 sampai 2015, yang menunjukan adanya pertumbuhan dan potensi yang stabil, meski adanya fluktuasi pada berbagai pasar dan sektor di kawasan ASEAN ini.

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad mengemukakan, pertumbuhan asuransi pada 2015 secara global cenderung turun dibandingkan 2014. Industri asuransi jiwa secara global tumbuh 3,3% (2014 sebesar 4,7%), sedangkan industri asuransi umum mengalami pertumbuhan 2,5% (2014 sebesar 2,8%). Pertumbuhan tersebut didukung peningkatan jumlah pelaku usaha industri asuransi di ASEAN dari 483 perusahaan pada 2014 menjadi 509 pada 2015.

Bisnis asuransi di ASEAN pada 2015, menunjukkan asuransi umum masih memegang proporsi paling besar yaitu 63% diikuti asuransi jiwa sebesar 22%, professional reinsurers 9%, composite insurance 5%, dan badan usaha milik negara 1%. Dari sisi aset, total aset industri asuransi di ASEAN mendapai US$388,1 miliar dengan kontribusi asuransi jiwa memegang 83% dari total aset tersebut atau mencapai US$322 miliar. Sementara itu, industri asuransi umum memiliki total aset US$66,1 miliar atau sebesar 17%.

Industri asuransi di Indonesia menempati posisi keempat di ASEAN dengan total aset RpUS$45,42 miliar. Posisi pertama dipegang Singapura dengan total aset US$148,84 miliar, diikuti Thailand dengan total aset US$83,95 miliar, dan Malaysia dengan total aset US$55,70 miliar.