Konsumen Tak Persoalkan B20, Pasokan Diharap Terjamin

Konsumen Tak Persoalkan B20, Pasokan Diharap TerjaminIlustrasi petugas memindahkan Bahan Bakar Minyak (BBM) di salah satu SPBU yang ada di Jakarta, beberapa waktu lalu./Bisnis Indonesia - Nurul Hidayat
20 September 2018 08:30 WIB Holy Kartika N.S & Ni Putu Eka Wiratmini Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Penerapan kembali bahan bakar biodiesel atau biosolar (B20) tak dipersoalkan konsumen. Upaya pemerintah menekan defisit neraca perdagangan dengan menerapkan penggunaan B20 tersebut tak menjadi persoalan di tingkat daerah.

Ketua Himpunan Wiraswasta Minyak dan Gas Bumi (Hiswana) Migas DIY Siswanto mengungkapkan alokasi biosolar telah dilakukan menyeluruh oleh Pertamina. "Suplai biosolar ini sudah dilakukan dan sejauh ini berlangsung normal," ujar Siswanto kepada Harian Jogja, Rabu (19/9).

Siswanto memaparkan pada dasarnya konsumen tidak mempersoalkan diberlakukannya B20 yang saat ini dilakukan pemerintah. Pasalnya, bagi konsumen ketersediaan bahan bakar jenis solar ini tetap mencukupi dan pasokan tetap terjamin.

Terkait jumlah pasokan biodisel tersebut, Siswanto mengaku tidak mengetahui secara pasti. Dia menegaskan jenis bahan bakar tersebut sebelumnya juga sudah pernah diberlakukan.

"Jadi tidak ada masalah dari konsumen. Karena biosolar ini juga sebelumnya sudah pernah ada. Untuk konsumsi juga nantinya akan menentukan permintaan," papar Siswanto.

Kendati demikian, ada beberapa pilihan jenis solar yang bisa dimanfaatkan konsumen, namun porsi konsumsi biosolar masih lebih tinggi dibandingkan Pertamina Dex maupun Dexlite. Sedangkan untuk harga untuk Dexlite dipatok sekitar Rp9.000 per liter dan Pertamina Dex dipatok dengan harga Rp10.500 per liter.

"Biosolar masih lebih murah dengan harga Rp5.500 per liter, jadi konsumsinya masih lebih mendominasi dibandingkan produk lainnya," jelas Siswanto.

Hemat Devisa

Menteri Keuangan Sri Mulyani optimistis kebijakan B20 akan menghemat devisi negara hingga Rp2,3 miliar. Saat ini impor migas sudah mulai menurun sejak adanya penerapan kebijakan B20. Walaupun tidak memberikan angka pasti, menurutnya ekspor migas justru jauh lebih besar daripada impor.

Adapun saat ini migas mengalami penurunan lifting [realisasi produksi minyak dan gas] hingga 35% dibandingkan kondisi 12 tahun lalu. Adapun lifting migas sejak 12 tahun lalu dari volume satu juta barel per hari (BOEPD) menjadi 750 barel per hari (BOEPD).

“Kami masih berharap dengan adanya B20 akan mengurangi porsi kebutuhan [impor] sampai akhir tahun ini, kira-kira Rp2,3 miliar bisa dihemat dan kita akan mengharapkan bisa terjadi,” katanya, Selasa (18/9) sore.

Beberapa kebijakan fiskal dan moneter memang harus diterapkan lantaran suku bunga Amerika Serikat (AS) yang meningkat dan likuiditas yang ketat. Sehingga, defisit perdagangan tidak semakin melebar dan capital inflow [aliran madal masuk] yang meningkat. Selain menurunkan impor migas, dia juga akan meningkatkan eskpor segala komoditi. Insentif untuk investasi juga akan semakin ditingkatkan sehingga perekonomian Indonesia bisa aman dari goncangan ekonomi dunia yang terjadi saat ini.

Namun, dia menegaskan, kondisi ekonomi pasti tidak akan selamanya baik dan selalu mengalami goncangan. Sehingga, kebijakan untuk melakukan adaptasi di setiap goncangan yang terjadi memang harus diterapkan.

Sri Mulyani juga mengatakan pihaknya akan menjaga penerimaan negara dari perpajakan dan belanja negara secara produktif dan efisien. Termasuk didalamnya pembiayan utang yang pruden. APBN akan dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk menstimulus ekonomi, mengurangi kemisikinan, memeprluas kesempatan kerja, hingga kesenjangan ekonomi.

“Ekonomi yang sehat adalah yang mampu beradaptasi dan cara saat mengalami guncangan,” katanya.