EKONOMI DAERAH BENCANA: Mengembalikan Denyut Aktivitas Industri di Palu

EKONOMI DAERAH BENCANA: Mengembalikan Denyut Aktivitas Industri di PaluMenteri Perindustrian Airlangga Hartarto (berdiri) saat berdialog seusai meninjau Rumah Cokelat di Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (7/10/2018) - Antara/Sella Panduarsa Gareta
09 Oktober 2018 10:35 WIB Annisa Sulistyo Rini Ekbis Share :

Harianjogja.com, PALU—Pemerintah mulai mendata dan menata ulang aktivitas industri di Palu, Sulawesi Tengah yang porak poranda karena gempa dan tsunami. Pengusaha kecil pun mengadu kepada Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

Dengan suara terbata-bata sambil menangis, seorang perempuan paruh baya menyampaikan kesedihannya kepada Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat meninjau kerusakan di salah satu tempat pengolahan biji kakao hasil produksi petani Sulawesi Tengah, Rumah Cokelat, Minggu (7/10).

Perempuan ini bernama Fatmawati Tajuddin, seorang pelaku usaha industri pengolahan cokelat skala kecil menengah di Palu, Sulawesi Tengah.

Fatmawati bercerita ketika gempa bumi dengan magnitudo 7,4 mengguncang Palu dan disusul oleh gelombang tsunami, dia bersama beberapa pegawainya sedang memproduksi brownies beku dan biskuit brownies. Rencananya, produk olahan cokelat dengan merek Bu' Emma akan mengikuti pameran Trade Expo Indonesia 2018 di Tangerang pada akhir bulan ini.

Fatmawati telah menyiapkan 5.000 buah brownies beku dan 60 kilogram biskuit brownies yang sekiranya akan dibawa ke acara tersebut. Namun, rencana tinggal lah rencana karena rumah, yang menjadi tempat produksi, porak poranda terkena gempa bumi dan terjangan tsunami yang terjadi pada Jumat (28/9).

Rumah Fatmawati terletak di Jalan Diponegoro, Palu. Lokasinya sangat dekat dengan bibir pantai, kurang dari satu kilometer, dan menjadi salah satu wilayah dengan dampak terparah. Dia pun sempat terbawa arus tsunami, tetapi bisa menyelamatkan diri. "Semuanya tinggal kenangan, semua terbawa arus," ucapnya lirih.

Pikirannya tak tentu, dia belum memiliki rencana apa yang akan dilakukan dalam waktu dekat. Fatmawati masih sangat berduka dengan apa yang terjadi. Dia menyampaikan harapannya pemerintah, melalui Kementerian Perindustrian, bisa membantu para pelaku IKM di Palu dan sekitarnya yang terdampak bencana yang menelan ribuan korban jiwa tersebut.

Sulawesi Tengah merupakan salah satu sentra produksi biji kakao di Indonesia. Berdasarkan Outlook 2017 Komoditas Pertanian Sub Sektor Perkebunan Kakao yang diterbitkan oleh Kementerian Pertanian, Sulawesi Tengah menempati urutan pertama sebagai penyumbang produksi dengan kontribusi sebesar 19,37%.

Peringkat kedua ditempati oleh Sulawesi Tenggara dengan kontribusi sebesar 16,29% dan Sulawesi Selatan dengan kontribusi sebesar 16,28%.

Sebagai provinsi sentra produksi kakao, Sulawesi Tengah memiliki beberapa kabupaten penghasil kakao. Pada 2015, produksi kakao terbesar berasal dari Kabupaten Paringi Mountong, Kabupaten Poso, Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi Biromaru, dan Kabupaten Banggai. Tak heran, banyak IKM olahan cokelat berdiri di provinsi ini.

Bencana gempa bumi dan tsunami di Palu membawa kerusakan yang cukup parah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut nilai kerugian dan kerusakan akibat gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah mencapai lebih dari Rp10 triliun.

Saat rombongan Menteri Perindustrian meninjau lokasi bencana, tampak bangunan-bangunan roboh dan sisa bangunan berserakan, terutama di wilayah yang dekat dengan pantai.

Di Petobo, di mana terjadi fenomena likuifaksi, terlihat lumpur menutupi wilayah ini. Para tenaga sukarela dan alat berat tampak masih bekerja keras menggali dan menemukan korban yang masih tertimbun. Terlihat rumah-rumah telah rata dan mobil-mobil rusak berat.

KEK Palu

Dalam kesempatan yang sama, Mulhanan Tombolotutu, Presiden Direktur PT Bangun Palu Sulawesi Tengah, selaku pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu, melaporkan bahwa kawasan industri tersebut tidak terlalu terdampak oleh bencana yang terjadi, walaupun lokasinya sangat dekat dengan Pelabuhan Pantoloan.

Bangunan yang sedikit runtuh hanya kantor administrator milik badan pengelola yang dibangun pada dua tahun lalu. KEK Palu merupakan salah satu dari 12 kawasan khusus yang dikembangkan oleh pemerintah untuk menarik lebih banyak investasi dan membantu memeratakan ekonomi di luar Jawa. KEK Palu berada di lahan seluas 15.000 hektare, dengan pengembangan pada 2017 terealisasi hingga 482 hektare.

Kawasan itu ditargetkan bisa menggaet investasi senilai Rp12,5 triliun, dan hingga Juli 2017 realisasinya mencapai Rp115 miliar. Kawasan ini menjadi salah satu KEK yang berada di lokasi strategis karena berada di wilayah utara-selatan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI).

Setelah mendengarkan laporan, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, menyatakan pihaknya terus berupaya untuk memulihkan aktivitas ekonomi masyarakat pascagempa dan tsunami di Sulawesi Tengah serta wilayah sekitarnya.

Misalnya, bagi para pelaku industri kecil dan menengah (IKM) yang terkena dampak bencana, akan mendapat bantuan peralatan supaya mereka bisa kembali berproduksi.

Kemenperin juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk menghapuskan utang kredit bagi pelaku IKM yang terkena dampak bencana agar dapat mengurangi beban mereka. Saat ini, Kemenperin masih mendata jumlah IKM yang menjadi korban tersebut.

Sementara untuk memfasilitasi rekonstruksi di KEK Palu, Kemenperin akan memasukkan ke dalam anggaran tahun depan karena ada beberapa yang harus diperbaiki. Namun demikian, menurut Airlangga, investor yang akan masuk di KEK Palu masih berjalan normal.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia