Angkutan Perdesaan Buatan Dalam Negeri Diproduksi Januari 2019, Harga Rp70 Juta

Angkutan Perdesaan Buatan Dalam Negeri Diproduksi Januari 2019, Harga Rp70 JutaAngkutan perdesaan bikinan dalam negeri di Klaten, Jawa Tengah, Kamis (25/10/2018). - Antara/Aloysius Jarot Nugroho
26 Oktober 2018 11:45 WIB Taufik Sidik Prakoso Ekbis Share :

Harianjogja.com, KLATEN—Alat mekanis multiguna perdesaan (AMMDes) rencananya mulai diproduksi massal Januari 2019. Sebanyak 3.000 unit akan dibikin pada tahun pertama.

AMMDes diproduksi PT Kiat Mahesa Wintor Indonesia (KMWI). Lokasi produksi di Bogor, Jawa Barat serta Klaten. Sementara, penjualan dan suku cadang dilakukan melalui PT Kiat Mahesa Wintor Distributor (KMWD).

Presiden Direktur PT KMWI, Reiza Treistanto, mengatakan persiapan alat produksi sudah sekitar 80%.

“Harapan kami akhir Desember 2018 sudah selesai dan sudah mulai low volume production trial. Januari sudah mulai untuk produksi,” kata Reiza saat ditemui wartawan di Bengkel Kiat Motor, Kecamatan Ceper, Klaten, Kamis (25/10).

Reiza menjelaskan pada tahun pertama produksi alat tersebut ditargetkan mencapai 3.000 unit. Sementara, tahun selanjutnya sebanyak 15.000 unit. “Kalau nanti permintaannya banyak, kami bisa produksi lebih dari itu,” kata dia.

Pada Januari 2019, mobil itu diproduksi di Citeureup, Bogor, Jawa Barat. Sementara, produksi di Klaten ditargetkan mulai April 2019. Pabrik di Klaten untuk sementara di Desa Dlimas, Kecamatan Ceper, memanfaatkan bangunan yang sudah disewa. Sementara, Bengkel Kiat Motor di Desa Kradenan, Kecamatan Trucuk masih dalam tahap perizinan. “Setelah perizinan selesai rencananya dari Dlimas nanti dipindah ke Trucuk,” kata Reiza.

AMMDes dibuat untuk membantu petani menambah produktivitas pertanian. Alat tersebut memiliki fasilitas power take off (PTO) yang bisa terintegrasi dengan beragam alat dan mesin pertanian (alsintan) seperti pemutih padi, pemecah gabah, penjernihan air, generator, serta pompa air.

Reiza menjelaskan dari 200 komponen AMMDes, 70% komponen adalah produksi lokal. Sementara, 30% komponen yang diimpor impor adalah gearbox. Sekitar 53% komponen berasal dari UMKM di Indonesia. Sekitar 10% menggunakan komponen dari anak perusahaan PT Astra Otoparts Tbk.

Suku cadang mobil, PT Ardedni Jaya Sentosa (AJS) yang juga anak perusahaan PT Astra Otoparts Tbk dan menjadi salah satu pemegang saham PT KMWD akan menanganinya. “AJS sudah memiliki jaringan di seluruh Indonesia,” kata dia

Presiden Komisaris PT KMWI dan PT KMWD, Sukiyat, mengatakan AMMDes, merupakan alat multiguna. Selain bisa membantu produktivitas pertanian, alat tersebut bisa dimanfaatkan untuk alat transportasi dan pengangkut barang.

Sekitar 85 unit AMMDes sudah disebar untuk diuji coba melalui kelompok tani. Salah satunya uji coba ke salah satu petani asal Magelang dengan proses penyerahan AMMDes di Bengkel Kiat Motor, Kamis.

“Setiap pekan dan setiap bulan tim saya akan mengamati langsung bagaimana digunakan untuk melayani petani dan masih ada kekurangan seperti apa agar segera diperbaiki sebelum produksi massal,” kata Sukiyat.

Menurut Sukiyat, proses uji coba sebenarnya sudah dilakukan sejak tiga tahun lalu untuk memastikan ketahanan, keamanan, dan kenyamanan mobil tersebut. Soal harga AMMDes, ia mengatakan berkisar Rp60 juta hingga Rp70 juta.

Sekitar lima unit AMMDes sudah dibawa ke daerah bencana gempa bumi di Lombok serta bencana gempa bumi dan tsunami di Palu. AMMDes itu dilengkapi alat penjernih air guna membantu para pengungsi.

Petani asal Kecamatan Dukun, Magelang, Jatmiko, 34, mengatakan ia tertarik untuk menjajal alat tersebut lantaran ada inisiatif membuat alat yang membantu petani. “Sebenarnya ini cukup membantu. Kalau dibandingkan dengan grandong [angkutan modifikasi] yang ini lebih bagus,” kata Jatmiko.

Sumber : JIBI/Solopos