GM IBIS STYLES JOGJA: Jaga Harmoni, Maksimalkan Dua Sisi

GM IBIS STYLES JOGJA: Jaga Harmoni, Maksimalkan Dua SisiGeneral Manager Ibis Styles Yogyakarta, Aris Retnowat - Ist./Aris Retnowati
30 Oktober 2018 07:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Melakoni pekerjaan sebagai General Manager sekaligus menjadi istri dan ibu di sisi lain, membuat Aris Retnowati harus pintar membagi waktu. Antara urusan pekerjaan dan keluarga.

Lima tahun sudah Retno, sapaan akrabnya, diberi kepercayaan untuk memimpin tim di Hotel Ibis Styles Yogyakarta. Artinya sudah lima tahun pula Retno harus hidup terpisah kota dengan keluarganya di Semarang, Jawa Tengah. Bahkan lebih dari itu, terhitung sudah tujuh tahun ia bekerja di luar Semarang. Namun ada prinsip yang selalu dipegang teguh oleh Retno selama ini. Keberhasilan dalam pekerjaan harus dicapai pula dalam mengurus keluarga. Tidak lantas mengorbankan salah satu di antaranya.

"Prinsip saya, kalau kita bisa maksimal dalam pekerjaan, kita juga harus maksimal mengurus keluarga. Harus ada keseimbangan, balance. Prinsip itu terus saya pegang teguh selama ini," katanya kepada Harian Jogja saat ditemui di sela-sela jadwalnya yang cukup pada Senin (29/10).

Sambil mengobrol santai, Retno mengisahkan beberapa prinsip dan nilai yang ia terapkan dalam bekerja maupun mengurus keluarga. Meskipun harus bolak-balik Jogja-Semarang setiap akhir pekan, Retno tak merasa keberatan untuk menyediakan penuh waktunya bagi suami dan kedua anaknya. Setiap Jumat, ia mengusahakan agar seluruh pekerjaannya beres pada sore hari sehingga bisa segera pulang ke Semarang dan kembali bekerja pada Senin pagi.

Saat di rumah, Retno pun mengaku selalu menempatkan dirinya sebagai selaiknya perempuan sebagai istri sekaligus ibu. Social atribut sebagai General Manager ia lepaskan, komunikasi yang ia terapkan saat bersama keluarga pun berbeda dengan saat ia tengah bekerja. Itu semua menurutnya menjadi kunci menjaga harmoni dalam hidupnya. "Jika dalam pekerjaan kita bisa menggunakan cara komunikasi yang berbeda saat menghadapi divisi yang berbeda. Apalagi saat bersama keluarga," ujarnya sambil terus tersenyum.

Retno memang terus berusaha menerapkan cara komunikasi yang berbeda dengan masing-masing divisi dalam timnya. Pasalnya sebagai orang yang merintis karier di dunia perhotelan mulai dari bagian operasional hotel hingga berhasil menapaki jenjang tertinggi saat ini, Retno sadar betul ada konvensi-konvensi yang berbeda yang beroperasi dalam suatu divisi tertentu. Sehingga ia sebagai pemimpin, harus mampu berbicara dalam "bahasa" masing-masing divisi yang ada. Dengan 9-11 divisi yang biasanya ada di setiap hotel, Retno berusaha menciptakan suasana yang nyaman bagi mereka dalam bekerja.

Lulusan Sastra Prancis Universitas Gadjah Mada ini memahami prestasi karyawan tak hanya diraih lewat penerapan target tetapi juga penciptaan atmosfer kerja yang nyaman. Menurut Retno, pressure harus tetap ada sebagai pendorong tiap-tiap individu dalam divisi mampu bekerja sesuai tugas dan tanggung jawabnya. Namun di sisi lain, dengan menciptakan atmosfer kekeluargaan, karyawan akan punya rasa memiliki yang tinggi dan berusaha melakukan yang terbaik bagi "keluarga" mereka. Pasalnya untuk mampu meraih target revenue maupun profit, seluruh divisi harus mampu bekerjasama. Bahu membahu dalam batas kemampuan dan tanggungjawabnya masing-masing. "Masing-masing divisi harus paham kalau ada target yang memang harus dikerjakan bersama antar divisi untuk mencapai keberhasilan pencapaian bersama," imbuhnya.

Namun bekerja dengan sederet target-target pencapaian, tak lantas membatasi ruangnya untuk melakukan hobi-hobinya. Di waktu-waktu senggang, Retno yang dahulu pernah menjadi seorang penyanyi profesional ini, kadang menyempatkan diri untuk menyanyi kembali. Bahkan ia telah beberapa kali mengisi program di stasiun televisi lokal dan mengadakan konser solo di Kampayo, XT Square. Retno juga tak pernah segan untuk menghibur para tamunya dengan bernyanyi di d'Sky Bar Hotel Ibis Styles Yogyakarta. Ia pun selalu meluangkan waktu untuk membaca dan juga menonton film, hobinya yang lain. "Semua itu membuat hidup saya seimbang. Tidak hanya terus bekerja tetapi juga melakukan apa yang saya suka," ucapnya.