Investasi di Sektor Alat Musik Bakal Naik 15%

Investasi di Sektor Alat Musik Bakal Naik 15%Pekerja menyelesaikan pembuatan gitar listrik di pabrik alat musik Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (27/3/2018). - ANTARA/Wahyu Putro A
27 November 2018 13:10 WIB Wibi Pangestu Pratama Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Kementerian Perin­dustrian memperkirakan investasi di bidang manufaktur alat musik dapat tumbuh 15% pada tahun depan seiring dengan peningkatan permintaan terhadap produk-produk buatan dalam negeri.

Muhdori, Direktur Industri Teks­til, Kulit, Alas Kaki, dan Ane­ka Ke­menterian Perindustrian, men­je­las­kan bahwa kekayaan budaya Indo­nesia sangat potensial untuk ditampilkan dalam berbagai elemen alat musik.

Pemerintah gencar melakukan promosi alat musik produksi Indonesia, salah satunya adalah dengan membawa produk alat musik Indonesia ke pameran NAMM Show, pameran alat musik terbesar di dunia.

“Indonesia sebagai negara asal alat musik telah dikenal reputasinya dalam memproduksi alat musik merek dunia dengan skema original equipment manufacturer [OEM],” ujar Muhdori kepada Bisnis, Minggu (25/11).

Kemenperin pun mendukung per­tum­buhan industri alat musik dengan terus menarik investor untuk menanamnkan modal di sektor tersebut. Dia optimistis investasi di sektor alat musik akan tumbuh 15% pada tahun depan.

Pada 2017 nilai investasi sektor tersebut mencapai US$31,3 juta, meningkat pesat dibandingkan dengan tahun sebelumnya senilai US$1,31 juta. Capaian pada 2017 merupakan yang tertinggi dalam 5 tahun terakhir.

Pada 2014 nilai investasi di sektor industri alat musik mencapai US$12,4 juta dan terus meningkat pada 2015 menjadi US$17,5 juta, walaupun sempat terperosok tahun berikutnya.

Adapun, Kemenperin memasang target pertumbuhan industri alat musik pada tahun depan sebesar 6%-6,5% dan ekspor ditargetkan meningkat 7%. Dengan target tersebut, industri alat musik diharapkan dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak, berkisar 1.000 orang-1.500 orang.

Salah satu alat musik yang men­catatkan pertumbuhan permintaan adalah gitar. Suar Nasution, pemilik Genta Guitar Factory, menjelaskan permintaan produk gitar dalam negeri terus meningkat.

Menurutnya, hal ini menunjukkan gitar dalam negeri memiliki kualitas tinggi. Produsen gitar asal Bandung, Jawa Barat tersebut menjelaskan Indo­nesia unggul dalam segmen gitar akustik.

Suar menjelaskan, Genta menarget­kan pertumbuhan produksi sebesar 20% pada tahun ini. Saat ini, Genta memiliki kapasitas produksi sebesar 700 gitar dan 200 ukulele dalam 1 bulan.

Dia pun akan menambah kapasitas pabrik hingga dua kali lipat untuk memenuhi lonjakan permintaan.

Melimpahnya sumber daya kayu, lanjutnya, menjadi potensi besar bagi industri gitar dan alat musik lain di Indonesia. Jenis kayu mahoni yang banyak dijadikan bahan baku alat musik jumlahnya melimpah.

“Kita ini banyak kayu berkualitas. Bahan baku untuk gitar itu spesifik. Kalau kita gali banyak sekali [jenis] kayu [di] Indonesia yang bisa dijadikan alat musik,” ujar Suar kepada Bisnis, Senin (26/11).

Kendati demikian, pengembangan beberapa jenis kayu yang sangat baik dijadikan bahan baku alat musik, seperti kayu jenis sonokeling dan ki hujan, terkendala regulasi mengenai lingkungan hidup.

Suar mencontohkan, produksi gitar dari jenis kayu sonokeling mengalami pe­ningkatan biaya sebesar 15% untuk keper­luan izin, sertifikasi, dan biaya lain-lain.

Untuk mengatasi masalah ini, dia mengharapkan pemerintah dapat memperbanyak penanaman jenis-jenis kayu tersebut sehingga keberadaannya tidak terganggu oleh kebutuhan industri.

Suar menjelaskan, Genta lebih banyak memproduksi gitar untuk permin­taan ekspor. “Sangat timpang, untuk lokal porsinya hanya 15%, ekspor sisanya.”

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia