Fluktuasi Dolar Jadi Tantangan dan Peluang

Fluktuasi Dolar Jadi Tantangan dan PeluangIlustrasi asuransi. - orixinsurance.com
02 Desember 2018 21:01 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Fluktuasi nilai mata uang dolar terhadap rupiah dianggap menjadi tantangan sekaligus peluang bagi para pelaku industri asuransi umum di Jogja. Di satu sisi belanja asuransi bakal dikesampingkan, di sisi lain nilai aset yang dihitung dalam dolar bisa meningkat.

Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) DPD DIY, Bodi Hadisuwarno mengakui perkembangan ekonomi nasional akhir-akhir ini dinggap penting untuk diantisipasi oleh para pelaku industri, termasuk asuransi umum. Fluktuasi nilai dolar dan tahun Pemilu 2019 menjadi isu utama di bidang ekonomi yang dianggap akan paling mendominasi kondisi industri asuransi umum. Bodi menyebut khusus untuk kondisi fluktuasi dolar, hal itu menimbulkan dua kondisi yang berbeda. Fluktuasi dolar bisa jadi tantangan tetapi juga bisa dipandang sebagai peluang.

Bodi menjelaskan fluktuasi nilai dolar bisa mengakibatkan belanja asuransi dikesampingkan oleh konsumen karena dianggap sebagai kebutuhan sekunder. Kondisi tersebut bisa jadi lebih parah jika menimbang 2019 merupakan tahun pemilu. Menjelang tahun pemilu, biasanya beberapa institusi finansial sepeni bank, BPR, atau bahkan leasing memilih untuk menahan atau mengalokasikan dana lending ke sektor lain. Hal itu menyebabkan porsi asuransi dari kepentingan bank juga berkurang.

Namun tantangan tersebut sekaligus memberikan peluang bagi pelaku industri. Bodi menuturkan kenaikan nilai tukar dolar tahadap rupiah akan meningkatkan nilai aset yang dihitung dalam dolar sehingga berpotensi ikut menaikkan nilai premi dalam rupiah. Sedangkan tahun pemilu bagi pelaku usaha secara umum akan meningkatkan resiko kerugian fisik atas aset mereka. "Biasanya karena sering sekali terjadi kerusuhan pada masa kampanye yang berpotensi merusak aset para pengusaha. Sehingga mau tidak mau kebutuhan atas pelindungan aset melalui asuransi meningkat," katanya kepada Harian Jogja, Minggu (2/12).

Bodi menambahkan perkembangan industri asuransi kerugian di Jogja sampai dengan trimester III/2018 ini cukup beragam. Dari 38 perusahaan asuransi umum yang menjadi anggota AAUI DIY, 15 kantor cabang atau perwakilan perusahaan mencatat pertumbuhan, enam mengalami zero growth, sedangkan delapan membukukan produksi premi yang lebih rendah dari tahun kemarin atau minus. Sementara delapan cabang atau perwakilan perusahaan asuransi umum lainnya belum memberikan data produksinya secara umum.

Maka menurut Bodi, jika dihitung rata-rata industri asuransi kerugian di Jogja mengalami pertumbuhan. "Tantangan yang dihadapi secara internal AAUI adalah persaingan yang semakin ketat bagi pelaku industri ini, secara eksternal ada pengaruh kondisi ekonomi nasional yakni fluktuasi dolar dan tantangan jelang tahun politik," ujarnya.