Sertifikasi Jadi Kendala Pengembangan Halal Tourism

Sertifikasi Jadi Kendala Pengembangan Halal Tourism Warga berebut sisa-sisa gunungan di halaman masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Rabu (21/11/2018). - Galih Yoga Wicaksono.
15 Desember 2018 10:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJAHalal tourism atau pariwisata halal merupakan salah satu konsep yang cukup populer beberapa tahun terakhir. Apalagi sejak Lombok berhasil menyabet juara dan dinobatkan sebagai salah satu tujuan pariwisata halal terbaik pada 2016 lalu. Jogja dianggap punya potensi untuk menggarap konsep wisata ini, terutama jika New Yogyakarta International Airport (NYIA) mulai beroperasi.

Ketua Association of Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) DIY Udhi Sudiyanto mengatakan jika NYIA sudah mulai beroperasi pada April 2019, akan ada peningkatan traffic kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) ke Jogja. Pasalnya akan ada banyak direct flight yang selama ini tidak dimungkinkan mendarat di Bandara Internasional Adisutjipto. Termasuk para wisman dari negara-negara Timur Tengah yang merupakan segmen utama pariwisata halal. "Para wisman Timur Tengah ini juga terkenal suka belanja. Nah kita sebenarnya sudah punya potensi itu, banyak pusat suvenir lokal yang harganya terjangkau yang bisa mengakomodasi kebutuhan mereka," katanya kepada Harian Jogja, Jumat (14/12).

Udhi menyebut Jogja punya potensi besar dalam menggarap konsep pariwisata halal. Sebab ada banyak objek wisata religi seperti situs sejarah Islam yang bisa menarik kunjungan wisata, misalnya Masjid Agung Mataram di Kotagede. Jogja juga relatif dekat dengan wilayah lain di Jawa Tengah yang memiliki wisata religi seperti Kudus dan Demak sehingga bisa menjadi wilayah transit wisman Timur Tengah sebelum menuju objek wisata lainnya.

Selain itu sudah ada banyak akomodasi, baik penginapan ataupun kuliner yang sudah memenuhi standar halal, pengembangan konsep ini bisa digarap dengan cepat untuk menyambut kedatangan para wisman tahun depan. Namun Udhi mengaku masih ada kendala yang dihadapi para pelaku wisata untuk mengembangkan pariwisata halal, terutama masalah sertifikasi dan sosialisasi.

Meskipun sudah memenuhi standar halal, pengelola wisata hingga kini belum mendapatkan sertifikasi atas hal itu karena harus melalui tahapan yang ditentukan. Selain itu, sosialisasi kepada para pengelola wisata juga belum dilakukan sehingga banyak kekhawatiran yang timbul pada para pengelola wisata jika konsep ini bisa mengurangi jumlah kunjungan wisman Eropa yang sampai saat ini masih jadi yang terbesar di Jogja.

"Padahal halal itu berarti rapi dan bersih, sehingga objek wisata itu dianggap muslim friendly. Bukan khusus bagi para wisatawan beragama Islam, semua wisman bisa mengakses halal tourism ini. Pemahaman yang keliru ini perlu diluruskan sehingga pengelola tidak takut menggarap sektor yang berpotensi ini," ujarnya.