Harga BBM Nonsubsidi Turun, Konsumsi Masih Stabil

Harga BBM Nonsubsidi Turun, Konsumsi Masih StabilSPBU Pertamina. Ilustrasi - Solopos/Nicolous Irawan
09 Januari 2019 09:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Turunnya harga jual BBM nonsubsidi dan nonpenugasan yakni Pertalite, Pertamax dan Pertamax Turbo sejak Sabtu (5/1) lalu belum berpengaruh pada konsumsi harian masyarakat di wilayah DIY. Hingga Selasa (8/1) nilai konsumsi harian tercatat masih stabil, yakni di kisaran 1.200-1.300 kilo liter (kl).

Ketua Hiswana Migas DIY, Siswanto mengakui turunnya harga BBM nonsubsidi belum berpengaruh pada meningkatnya konsumsi bahan bakar jenis ini pada tingkat konsumen. Setiap harinya, pasokan BBM baik subsidi maupun nonsubsidi ke DIY masih sama, belum ada perubahan, yakni sekitar 300 kl untuk Premium dan 1.200-1.300 kl untuk bahan bakar nonsubsidi lainnya. "Kan turunnya juga cuma Rp200, jadi sampai sekarang stabil saja tuh konsumsinya, tetap sama pasokannya," katanya kepada Harian Jogja.

Selain karena turunnya harga BBM nonsubsidi tersebut tidak signifikan, Siswanto menyebut pasar yang sudah terbentuk juga berpengaruh pada stabilnya konsumsi bahan bakar. Pasalnya sejak pembatasan konsumsi Premium, masyarakat sudah banyak beralih ke bahan bakar Pertalite. Baik mobil, motor, ataupun beberapa angkutan umum juga sudah memakai Pertalite. Bahkan menurut Siswanto, seluruh pengecer BBM juga menjual bahan bakar jenis Pertalite. Hal ini menurutnya merupakan imbas aturan pembatasan konsumsi bahan bakar Premium sejak adanya Pertalite.

"Kalau dihitung secara persentase. Malah konsumsi bahan bakar nonsubsidi lebih banyak sejak ada Pertalite. Dari total keseluruhan kira-kira jumlahnya mencapai 75%-80% dari konsumsi masyarakat sehingga hampir tidak ada perubahan yang berarti saat harga BBM nonsubsidi turun," ujarnya.

Sedangkan dari sisi penjual, Siswanto mengakui penurunan harga BBM nonsubsidi ini juga tak berimbas pada segi bisnis atau pada perputaran uang. Pasalnya harga BBM di tingkat penjual pun akan menyesuaikan dengan harga jual di tingkat pembeli. Kalaupun ada perbedaan harga, kelebihannya dapat dikalkulasikan dengan pembelian setelahnya sehingga kerugian yang dialami penjual pun dapat diminimalkan.