Advertisement
Sri Ratu Semarang Tidak Tutup Permanen, Ini Penjelasan Direktur
Kompleks Pasaraya Sri Ratu di Jl. Pemuda, Kota Semarang tampak sepi, Selasa (19/2 - 2019). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
Advertisement
Harianjogja.com, SEMARANG — Beberapa waktu terakhir, dunia maya dihebohkan dengan kabar akan ditutupnya Pasaraya Sri Ratu yang berpusat di Jl. Pemuda No. 29-33, Kota Semarang. Salah satu pusat perbelanjaan tertua di Semarang akan resmi ditutup, Kamis (28/2/2019).
Direktur Pasaraya Sri Ratu, Hendra Aribowo, mengatakan alasan di balik penutupan pusat perbelanjaan yang sudah berdiri sejak 1978 itu. Salah satunya, yakni omzet yang terus menurun seiring persaingan toko retail modern yang semakin ketat.
Advertisement
“Tren omzet memang terus menurun seiring pengurangan selling space. Biaya [operasional] akhirnya harus menyesuaikan,” ujar Hendra saat dihubungi, Rabu (20/2/2019).
Hendra berdalih penutupan Sri Ratu tidak akan berlangsung lama. Perusahaannya akan kembali bangkit dengan mengusung konsep yang berbeda. Konsep dari yang sebelumnya department store akan berubah menjadi plaza.
BACA JUGA
“Target kami dalam satu tahun ini akan melakukan renovasi. Setelah itu akan ganti konsep menjadi plaza, bukan department store dan supermarket lagi. Pokoknya yang sesuai dengan life style dan perubahan budaya belanja saat ini,” imbuh Hendra.
Kendati demikian, Hendra enggan membeberkan berapa nilai investasi yang akan dikeluarkan untuk mengubah Pasaraya Sri Ratu menjadi Sri Ratu Plaza. Ia juga memastikan tidak akan menggandeng investor dari luar dalam rencana masa depan perusahaannya tersebut.
“Tidak, tidak ada pemodal lain. Saat ini konsepnya hanya plaza, belum kepikiran dengan yang lain, seperti hotel atau lainnya. Untuk biaya [nilai investasi] tak bisa saya bahas, sambil jalan saja,” beber Hendra.
Hendra juga memastikan tidak akan menjual atau menyewakan lahan Sri Ratu Jl. Pemuda untuk kegiatan usaha lain pasca-ditutup. “Enggak ada, murni renovasi saja sebelum berubah konsep,” terang Hendra.
Penutupan Sri Ratu sebenarnya sudah diprediksi sejak lama. Masa kejayaan Sri Ratu terlihat memudar menyusul tutupnya sejumlah cabang Sri Ratu di daerah lain, baik di Jawa Tengah (Jateng) maupun Jawa Timur (Jatim).
Pada Desember 2017 lalu, Sri Ratu bahkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran terhadap karyawan. Total ada 286 karyawan yang di-PHK oleh perusahaan dan diberikan pesangon secara bertahap.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Solopos.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Rentenir dan Pinjol Ilegal Kini Bisa Dipidana, Ini Aturannya
- Pemerintah Tanggung PPh 21 Pekerja 5 Sektor Padat Karya 2026
- Venezuela Punya Cadangan Minyak Terbesar, tapi Produksi Anjlok
- Penjualan Tiket KAI Tembus 4 Juta pada Arus Balik Nataru
- GIPI DIY: Nataru Ramai, Lama Tinggal Wisatawan Masih Jadi PR
Advertisement
Agenda Event, Pariwisata, Konser dan Olahraga, 7 Januari 2026
Advertisement
Jadi Primadona, Umbul Pelem Klaten Raup Omzet Miliaran Sepanjang 2025
Advertisement
Berita Populer
- Libur Nataru, Konsumsi Pertamax Naik 3,5 Persen
- BI Proyeksikan Ekonomi DIY 2026 Tumbuh hingga 5,7 Persen
- Harga Emas Hari Ini 7 Januari 2026, UBS dan Galeri24 Melonjak
- Rentenir dan Pinjol Ilegal Kini Bisa Dipidana, Ini Aturannya
- Ekonomi Vietnam Tumbuh 8,02 Persen pada 2025, Tertinggi 3 Tahun
- Konsumsi Dex Series di Jateng-DIY Naik 35,6 Persen Saat Nataru 2026
Advertisement
Advertisement



