Masyarakat Semakin Memilih Bright Gas, Ini Alasannya

Masyarakat Semakin Memilih Bright Gas, Ini AlasannyaBright gas - JIBI/Bisnis Indonesia/Paulus Tandi Bone
08 Maret 2019 06:00 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Keberadaan LPG nonsubsidi di tengah masyarakat semakin digemari. Setiap tahun konsumsi LPG nonsubsidi seperti Bright Gas selalu mengalami peningkatan termasuk di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

LPG Nonsubsidi seperti Bright Gas semakin digemari karena lebih irit dan lebih aman. Bright Gas memiliki fitur keamanan berkatup ganda atau double spindle valve system dan warnanya yang menarik. Selain itu, Bright Gas memiliki varian 5,5 kg yang mudah dibawa baik oleh wanita maupun pria.

Unit Manager Communication & CSR Pertamina MOR IV Andar Titi Lestari mengungkapkan PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region IV Wilayah Jawa Tengah dan DIY mencatat kenaikan tren konsumsi LPG nonsubsidi di wilayah DIY sebesar 54%. Peningkatan itu dari 4.723 metric ton atau setara 858.000 tabung LPG bright gas 5,5 kg pada 2017 menjadi 7.294 metric ton atau setara dengan 1.326.181 tabung LPG bright gas 5,5 kg pada tahun 2018.

"Tren ini memang meningkat setiap tahunnya. Pada 2016 ke 2017 juga terjadi peningkatan sebesar 179 persen yaitu dari 1.695 metric ton menjadi 4.723 metric ton," kata dia, Selasa (5/3).

Peningkatan paling tinggi di wilayah DIY terjadi di wilayah Sleman. Andar mengungkapkan pada konsumsi LPG nonsubsisi di Sleman pada 2017 meningkat 340% dibandingkan 2016 yakni dari 246 metric ton menjadi 1.083 metric ton. Kemudian, pada 2018 meningkat 93% dibandingkan 2017 dari 1.083 metric ton menjadi 2.092 metric ton.

Peningkatan terbesar kedua terjadi di Bantul. Dari 2016 ke 2017 terpantau peningkatan 269% dari 151 metric ton ke 558 metric ton. Kemudian dari 2017 ke 2018 meningkat 67% dari 558 metric ton menjadi 931 metric ton.

Untuk Kulonprogo ada peningkatan 185% dari 2016 ke 2017 dari 214 metric ton menjadi 609 metric ton. "Pada 2017 ke 2018 ada peningkatan 41 persen dari 609 metric ton menjadi 861 metric ton," kata dia.

Sementara, di Jogja sendiri ada peningkatan 128% dari 2016 ke 2017 dari 1.084 metric ton menjadi 2.474 metric ton. Kemudian pada 2018 ada peningkatan 38% dari 2.474 metric ton menjadi 3.409 metric ton.

 

Kesadaran Meningkat

Hal senada diungkapkan Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) DIY Siswanto. Menurutnya, saat ini masyarakat semakin pandai dalam memilih produk yang bagus dan berkualitas. Selain itu, masyarakat semakin sadar jika penggunaan LPG 3 kg merupakan LPG  subsidi yang diperuntukkan masyarakat kurang mampu.

"Bright Gas ini lebih aman dan irit karena ada katup dobel. Kami mengimbau masyarakat terutama yang mampu dan pengusaha-pengusaha restoran besar agar tidak lagi memakai LPG 3 kg karena itu untuk orang dengan penghasilan kecil," kata dia.

Marketing Branch Manager Pertamina MOR IV wilayah DIY dan Surakarta Teuku Johan Miftah mengatakan Pertamina komitmen untuk menyalurkan LPG subsidi sesuai yang ditugaskan pemerintah. Namun, pihaknya juga gencar mengedukasi masyarakat dan pelaku usaha nonmikro untuk tidak lagi memakai LPG subsidi.

"Segmen sektor usaha nonmikro yang omzet Rp300 juta per tahun atau kurang lebih Rp800.000 per hari, bukan peruntukan LPG subsidi. Kami menyediakan varian lainnya yakni Bright Gas," ujarnya.

Ia berharap masyarakat mampu dan pengusaha nonmikro semakin tergugah untuk tidak memakai LPG subsidi.