Founder Educa Studio: Kreator Perlu Ubah Pola Pikir

Founder Educa Studio: Kreator Perlu Ubah Pola PikirCEO, Founder Educa Studio Andi Taru Nugroho NM menunjukkan gim Emak-Emak Matic di Canting Restaurant, Galeria Mall, Jogja, Rabu (6/3)./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
09 Maret 2019 12:15 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Karakter Emak-Emak Matic semakin dikenal. Karakter ini dikenal berawal dari gim Emak-Emak Matic yang dikembangkan oleh Educa Studio. Namun, Emak-Emak Matic tidak sebatas gim, tetapi sudah merambah ke komik dan board game.  

CEO, Founder Educa Studio Andi Taru Nugroho mengungkapkan gim Emak-Emak Matic lahir berawal dari viralnya video maupun kabar soal kelakuan ibu-ibu yang mengendarai sepeda motor matik di jalanan. Ada yang nekat menerobos jalan yang baru selesai diaspal hingga ada yang memarahi polisi karena ditilang lantaran tidak memakai helm.

"Saat itu, kami juga ingin keluar dari zona nyaman. Biasanya kami fokus pada gim edukasi untuk anak-anak. Kami sudah tujuh tahun di situ. Kemudian viral emak-emak matik dan pas kami ingin keluar dari zona nyaman," jelas dia kepada Harian Jogja di Canting Restaurant, Galeria Mall, Jogja, Rabu (6/3).

Untuk membuat gim tersebut, ia dan tim di Educa Studio terlebih dahulu melakukan riset selama kurang lebih 1,5 tahun. Dalam kurun waktu itu bahkan hingga sekarang, emak-emak matik masih viral. Akhirnya, keluarlah karakter gim dengan nama Emak-Emak Matic.

"Kami bikin gimnya dan ternyata viral juga sampai menjadi Pilihan Editor di Google Play. User-nya mencapai lebih dari 200.000. Respons masyarakat luar biasa bahkan kami sudah ekspansi ke komik digital dan board game juga," ujar dia.

Kemudian, ia bertemu dengan program Katapel dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Katapel merupakan program yang digagas Deputi Pemasaran Bekraf untuk menjembatani pelaku kreatif atau pemilik IP dengan para ahli di bidang pemasaran lisensi IP. Diharapkan program ini membuat pelaku kreatif semakin maju dan melesat tinggi, baik dari segi wawasan memasarkan karya maupun pendapatan dan pengembangan bisnisnya.

"Sama Katapel, kami diajari untuk mengubah mindset, jangan produk mindset, tetapi karakter mindset. Jadi, Emak-Emak Matic kami transform dan perbaiki. Dulu kami kreasi saja, sekarang kami pikirkan sampai tebal border dan warna juga," kata dia.

Ia ingin karakter Emak-Emak Matic semakin dikenal masyarakat seperti karakter Mickey Mouse dan Doraemon. Meskipun dibuat siluet dan hitam putih, orang-orang tetap mengenali kedua karakter itu. "Bentuk Emak-Emak Matic dan warnanya merupakan hasil riset. Kalau Emak-Emak Matic yang tone-nya itu," kata dia.

Ia mengakui ketika mengembangkan Emak-Emak Matic berawal dari gim. Namun, justru gim itulah yang seharusnya menjadi implementasi dari karakter si Emak-Emak Matic. "Awalnya memang belum berpikir ke situ. Tetapi, setelah ikut program Katapel, jadi sadar dan tahu seberapa luas market-nya," tutur dia.

Ia pun menjadi sadar pentingnya mengurus lisensi karakter itu untuk melindungi kekayaan intelektualnya. Sebuah karakter bisa dikembangkan untuk platform apa saja seperti gim, komik, board game hingga merchandise.

"Paling penting itu mengubah mindset. Kreator juga harus memikirkan bisnis. Kalau mau besar yang harus mau mengurus hak cipta. Selain itu harus konsisten," kata pria asal Salatiga ini.