IDE BISNIS: Palem Craft, Rumput Liar Jadi Karakter Produk

IDE BISNIS: Palem Craft, Rumput Liar Jadi Karakter Produk Deddy Effendi, pemilik Palem Craft/Harian Jogja - Salsabila Annisa Azmi
06 April 2019 07:37 WIB Newswire Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Menjalankan bisnis kerajinan sejak 2003 menjadikan Deddy Effendi, pemilik Palem Craft harus pintar menghasilkan produk yang berbeda agar bisa bersaing dengan kompetitor. Ia percaya diri desainnya yang orisinil dengan memanfaatkan limbah rumput liar dan serat batang pisang akan menonjol di mata konsumen.

Delapan tahun bekerja menjadi karyawan sebuah perusahaan swasta di bidang transportasi, Deddy yang merupakan lulusan Teknik Mesin selalu menyempatkan waktunya menggambar. Buku sketsadibawanya ke mana-mana.

Ia menggambar mulai dari gedung, perabot rumah tangga hingga manusia. Makin lama hasrat untuk menyalurkan kepuasannya berkarya seni semakin besar. Dia pun mencoba mewujudkan desainnya dengan membuat kerajinan kecil-kecilan lalu memasarkannya.

Deddy mengaku sempat ada rasa malu sebab desainnya bukan desain ala lulusan sekolah seni. Namun lama kelamaan dia menyadari, justru orisinalitasnya itulah yang akan menjadi karakteristik produknya. "Makin lama kok prospeknya makin besar, ya sudah saya putuskan resign di tahun 2003 dan mendirikan Palem Craft. Sejak awal, saya sudah langsung sasar pasar ekspor kerajinan, sudah cari info sana sini," kata Deddy kepada Harian Jogja, belum lama ini.

Ia lalu mulai mencari pinjaman modal di bank dan mendirikan gerai di kawasan Malioboro. Produk awal yang ditawarkan adalah lampu dengan paduan bahan baku rotan, bambu, kulit kerang dan batu apung. Produk itu sesuai tren pada awal 2000-an.

Tak lama setelah itu terjadi goncangan dalam bisnisnya. Salah satu karyawan menyebabkan kerugian besar bagi perusahaan dan pergi begitu saja. Deddy yang masih tak bisa membedakan antara bahan baku kayu pandan dan kayu rotan itu, harus berhadapan dengan tanggungan bank.

"Justru itu yang mendorong saya untuk terus belajar banyak soal bahan baku. Desain saya yang tangani sendiri, proses produksi dan inovasi saya tangani sendiri. Sampai akhirnya saya ikut Pameran Pasar Ekspor [PPE] dan dapat order dari Arab Saudi, di situlah Palem Craft bangkit," kata Deddy.

Kala itu tatakan piring dengan bahan lidi tenun yang dipesan oleh buyer Arab Saudi tengah menjadi tren. Setelah melegalisir usahanya menjadi CV, Deddy sadar dia harus terus terus berinovasi dengan bahan alam, di mana dengan bahan alam itu kompetitor asal Cina tidak bisa membuat dan menirunya. Deddy pun menajamkan kepekaan pengamatannya terhadap limbah alam yang tingkat ketersediaannya tinggi.

"Di pinggir pantai ada rumput liar bernama rayung. Selama ini cuma digunakan untuk bikin sapu. Nilai jualnya rendah. Maka saya olah rayung itu jadi desain cermin. Pinggiran cermin dan anyaman cermin itu dari rayung. Nilai jualnya jadi tinggi. Saat ini pasar terbesarnya ada di Perancis, kami bisa kirim 500 pieces per harinya," kata Deddy.

Sebagai pelopor dekorasi cermin dari rumput rayung, Deddy terus memperkenalkan produknya ke berbagai pameran pasar ekspor. Ternyata responnya pun luar biasa. Kini cermin rayung itu merambah pasar Eropa, Timur Tengah dan Amerika Serikat. Sebab produk tersebut dinilai layak memenuhi ekspektasi pasar mereka yang mencari produk unik dan berkonsep green product.

Kini 90 persen pasar Palem Craft berada di pasar ekspor, sisanya adalah pasar resort dan cottage bertema alam. Maka dari itu, Deddy terus mengembangkan radarnya menangkap potensi limbah alam yang bisa menjadi penguat karakteristik produknya. Suatu hari Deddy duduk di sekitar sungai dan melihat batang pisang terapung terombang-ambing di atas permukaan air.

Deddy langsung mewujudkan idenya menyisir dan menggunakan teknik press untuk mengambil serat-serat batang pisang. Serat itu kemudian dijadikan benang untuk dekorasi pinggiran cermin. Sisa press batang pisang yang lebih tipis dan halus pun digunakan Deddy untuk membuat dekorasi lampu. Bentuknya seperti sarang burung, cahaya lampu akan menembus celah-celah serat benang pisang dan menambah nilai keindahan produknya.

"Jadi saya konsepnya manfaatkan limbah alam dan juga zero waste. Sisa press serat batang pisang juga harus dimanfaatkan. Ternyata dari situ konsumen jadi respek dengan konsep desain kami, karena belum ada juga yang pakai serat batang pisang. Itu yang jadi kunci kekuatan kami," kata Deddy.

Selain memanfaatkan rayung dan serat batang pisang, Deddy juga memanfaatkan motif yang terdapat dalam irisan biji mahoni. Bentuknya yang seperti bintang menambah keindahan produk lampu berbahan baku kulit kerang dan bambunya. Semua bahan baku yang digunakan terbuat dari alam. Harga produknya pun sesuai dengan keunikannya, semua produk dipatok harga mulai Rp500.000. Kini seluruh produk Palem Craft dapat menghasilkan Rp200 Juta per bulannya dari pasar ekspor.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia