Aura Persaingan Gojek & Grab Kian Panas

Aura Persaingan Gojek & Grab Kian PanasPendiri Gojek, Nadiem Makarim - Ist via Marketeers.com
15 April 2019 06:27 WIB Newswire Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA --Raut wajah Nadiem Makarim, Founder sekaligus Global CEO Gojek menyunggingkan senyum ketika menyebut sederet pencapaian yang diraih perusahaannya. Di depan puluhan awak media, dia menyatakan Gojek sebenarnya menganut filosofi padi “semakin berisi, semakin merunduk”.

Nyatanya, acara Mitra Juara Gojek yang digelar pada pekan lalu itu dimanfaatkan betul menjadi panggung untuk menegaskan posisi Gojek sebagai tuan di rumahnya sendiri.

“Biasanya Gojek punya kepribadian berdasarkan filsafat padi. Kami bukan perusahaan yang teriak-teriak dengan semua pencapaian. Namun sudah saatnya kami klarifikasi sedikit. Analisa weekly active user Gojek berdasarkan App Annie pada tahun lalu mencapai 1,5 kali kompetitor. Jadi bisa dihitung, bagaimana mungkin kami tidak menguasai pasar di Indonesia?” ujarnya beberapa waktu lalu.

Bermula dari bisnis call center dengan 20-30 pengemudi, Gojek kini berkembang menjadi aplikasi super yang memiliki 21 layanan mulai dari transportasi dan pembayaran, pesan-antar makanan, logistik dan masih banyak lainnya. Ekosistemnya juga menghubungkan pelanggan dengan 1,7 mitra pengemudi, lebih dari 300.000 pedagang makanan dan minuman, serta lebih dari 600.000 penyedia layanan.

Nilai transaksi atau Gross Transaction Value (GTV) Gojek mencapai lebih dari US$9 miliar pada 2018 di 204 kota dan kabupaten di lima negara Asia Tenggara. Nilai tersebut diklaim tumbuh sebanyak 13,5 kali lipat selama 2016-2018.

Nadiem menjelaskan perusahannya melakukan revolusi digital dengan mengadopsi konteks lokal. Menurutnya, hal tersebut menjadi keunggulannya dalam memenangkan persaingan dibandingkan dengan kompetitor.
"Karena mulai di Indonesia adalah keunggulan kita. Pemain lokal akan selalu menang di Indonesia. Tidak akan menang di Asia Tenggara kalau tidak menang di Indonesia, " ujarnya.

Chief Commercial Expansion Go-Food Catherine Hindra Sutjahyo mengatakan Go-Food semakin kuat posisinya sebagai pemain jasa pesan-antar makanan terbesar di Indonesia. Berdasarkan data internal, pangsa pasar Go-Food di Indonesia diklaim mencapai 80%.

“Mitra Go-Food saat ini lebih dari 300.000, padahal pada April 2018 jumlahnya masih 125.000. Banyak sekali UMKM baru yang tumbuh karena platform dari Gojek,” ujarnya.

Per akhir 2018, Go-Food mencatatkan jumlah order sebesar 30 juta per bulan di Asia Tenggara. Dia menyebut sebanyak 85% pesanan Go-Food merupakan makanan yang dijual pelaku UMKM, sedangkan sisanya restoran besar dengan banyak cabang.

Persaingan Ketat
Klarifikasi yang dilontarkan Nadiem seakan membantah pernyataan kompetitornya. Kedua perusahaan aplikasi super itu memang terlihat saling adu klaim di kesempatan yang berbeda. Sebelumnya, Grab Holdings Inc juga mengklaim telah menguasai 62% pangsa pasar transportasi online di Indonesia berdasarkan ABI Research.

Berdasarkan keterangan resmi perusahaan, GrabFood disebut tumbuh sangat pesat di Indonesia, di mana telah beroperasi di 178 kota dengan volume pesanan diklaim tumbuh 10 kali lipat pada 2018. Lembaga Riset CSIS dan Tenggara Strategics juga menyatakan kontribusi ekonomi yang disumbang Grab kepada Indonesia juga disebut mencapai Rp48,9 triliun, disumbang terbesar oleh Grabfood, lalu diikuti oleh GrabBike dan GrabCar.

Berbeda dengan Gojek yang cenderung tertutup perihal valuasi perusahaan maupun rencana peraihan pendanaan terbaru, Grab justru terang-terangan mengumumkan rencana ekspansinya dengan investasi yang jumbo. Perusahaan yang berpusat di Singapura itu menargetkan perolehan pendanaan baru hingga total US$6,5 miliar pada akhir tahun ini.

Co-Founder dan CEO Grab Anthony Tan mengungkapkan niat perusahaannya untuk berinvestasi secara agresif, dengan komitmen untuk melakukan setidaknya enam investasi atau akuisisi di seluruh wilayah tahun ini. Hal ini dimungkinkan berkat dukungan dari SoftBank dan investor strategis utama lainnya yang telah berinvestasi lebih dari US$ 4,5 miliar pada putaran Seri H Grab saat ini. Bulan lalu, Grab mendapatkan investasi US$1,46 miliar dari SoftBank Vision Fund.

“Dukungan dari investor strategis seperti Softbank dan lainnya memungkinkan kami untuk tumbuh sangat agresif pada tahun ini melalui banyak vertikal kami seperti pembayaran, transportasi dan makanan. Dengan tingkat pertumbuhan ini, kami berharap dapat tumbuh empat kali lipat lebih besar daripada kompetitor terdekat kami di Indonesia dan seluruh regional pada akhir tahun ini,” ujarnya.

Ketua Penasehat Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) Wilson Cuaca menilai dampak ekonomi dari digital startup sangat besar terhadap perekonomian Indonesia. Dalam dua pekan terakhir ini, ujarnya, Gojek dan Grab dengan kuantitatif dan fakta dapat menunjukkan kontribusi digital ekonomi yang nyata.

“Sebagai Ketua Penasehat Amvesindo, saya merasa bangga ekosistem Indonesia bisa berkembang sampai ke tahap ini, dan ini baru permulaan saja,” ujarnya.

Google dan Temasek dalam laporan bertajuk e-Conomy SEA 2018 menyatakan nilai transaksi atau Gross Merchandise Value (GMV) sektor ride hailing di Asia Tenggara, termasuk di dalamnya transportasi online dan pesan-antar makanan mencapai US$7,7 miliar pada 2018, dan berpotensi tumbuh hingga US$30 miliar pada 2025.

Layanan ride hailing juga disebut telah mendapatkan daya tarik yang luar biasa di Indonesia di mana transaksinya mencapai US$3,7 miliar pada tahun 2018 setelah nilai Compund Annual Growth Rate (CAGR) tumbuh 58% sejak 2015, sekaligus menjadikan sektor ini sebagai pasar terbesar dan tercepat di kawasan ini. Transaksi layanan pesan-antar makanan online sudah melebihi US$1 miliar di Tanah Air, terutama didorong oleh pertumbuhan bisnis Go-Food.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia