Ini Harapan Pengusaha untuk Presiden Terpilih

Ini Harapan Pengusaha untuk Presiden Terpilih Ilustrasi investasi. - Bisnis Indonesia
20 April 2019 08:27 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Asosiasi Pengusaha Nasional (Apnas) DIY mengharapkan kepada presiden terpilih nanti dapat memicu pertumbuhan ekonomi baik regional maupun nasional, dan tidak hanya pada ekonomi makro namun juga mikro ekonominya.

“Tidak cukup hanya berkutat soal persoalan pertumbuhan hanya makro ekonomi, tetapi juga mikro ekonominya, penghasilan masyarakat akan meningkat, pendapatan perkapita rakyat juga akan bertumbuh. Kalau pertumbuhan tinggi 5 persen, 7 persen, 12 persen  tetapi ketika pendapatan perkapita rakyat tidak bergerak itu juga sulit dikatakan pertumbuhan yang menyeluruh,” ucap Ketua Apnas DIY, Mirwan Syamsudin Syukur, Kamis (18/4).

Ia menegaskan indikatornya jelas makro dan mikro, keduanya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Ia menilai pertumbuhan dikatakan meningkat ketika masyarakat pendapatan perkapitanya juga naik. Hal itu menurutnya indikator yang jelas.

Kemudian pula daya beli meningkat, daya tahan ekonomi rakyat juga meningkat. Jadi tidak ada lagi masyaraat yang disibukan dengan persoaln pemenuhan kebutuhan hakiki masyarakat, persoalan kesehatan, pendidikan, kebutuhan perumahan. “Ini kan belum terlaksana dengan baik. Siapapun yang menjadi presiden kebutuhan pokok masyarakat terpenuhi dengan baik,” ucapnya.

Untuk mewujudkan itu menurutnya perlu adanya sebuah aturan investasi yang longgar. Perizinan diharapkan tidak menjadi momok yang menakutkan bagi investor untuk masuk dalam wilayah tertentu melakukan investasi. Menurutnya jika ada kelonggaran investasi akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal, nasional, dan aka nada rekrutmen tenaga kerja.

“Sekarang terus terang saja. Teman-teman pengusaha sedikit kewalahan bahkan sudah mulai dimungkinkan terjadinya pengurangan karyawan,” ucapnya.

Pihaknya juga menyinggung proses Pemilu 2019 saat ini untuk bisa menghentikan quick count, lantaran dinilai menimbulkan suasana tidak kondusif, dan akan berpengaruh pada daya tahan masyarakat. “Kekhawatiran kita disitu ketika keamanan, kestabilan tidak terjadi, kondisi usaha akan berpengaruh,” ucapnya.