Sekarang Sepi, 10 Tahun Mendatang Kawasan YIA Dipenuhi Hotel

Sekarang Sepi, 10 Tahun Mendatang Kawasan YIA Dipenuhi HotelPembangunan terminal Bandara Internasional Yogyakarta di Kulonprogo, Sabtu (6/4/2019). - Harian Jogja/Budi Cahyana
13 Mei 2019 08:27 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Meski Yogyakarta International Airport (YIA) mulai beroperasi terbatas, pertumbuhan perhotelan di kawasan tersebut diprediksi baru akan terjadi 10 tahun mendatang.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Istidjab Danunagoro mengungkapkan potensi pengembangan hotel di wilayah Kulonprogo sebenarnya ada, tetapi saat ini belum ada yang mulai melakukan pembangunan.

Ia melihat kondisi serupa juga terjadi saat awal Bandara Soekarno-Hatta beroperasi pada 1985. Kala itu, belum ada yang mau mendirikan hotel di sekitar bandara. Namun dalam jangka waktu 20 tahun, Istidjab menyatakan kawasan tersebut dipenuhi hotel.

“Kulonprogo sudah ada satu sebenarnya yang melakukan peletakan batu pertama pada Februari tahun lalu,tetapi belum lanjut sekarang. Tarulah 10 tahun lagi baru berkembang. Prospeknya bagus utamanya wisatawan mancanegara,” kata Istidjab, Minggu (12/5).

Menurutnya, untuk mendorong pertumbuhan itu, perlu penunjang infrastruktur lainnya. Selain itu setidaknya harus ada satu hotel terlebih dahulu. Istidjab juga mendorong untuk pembangunan homestay untuk menunjang wisata.

 

Aerocity dan Aerotropolis

Kepala Dinas Perizinan dan Penanaman Modal (DPPM) DIY, Arief Hidayat mengatakan saat ini belum ada investor di bidang hotel dan resto yang masuk, tetapi untuk investor di sektor lain mulai ada penawaran. Tidak hanya investor dari dalam negeri, tetapi juga luar negeri. Dicontohkannya investor yang menawarkan tentang energi surya, kemudian tentang pengembangan konsep tata kota melalui pendekatan teknologi informasi (TI).

Selain itu, Arief mengatakan kawasan bandara YIA telah dikonsep menjadi aerocity dan aerotropolis untuk menjadi penunjang pengembangan sekitar bandara. Menurutnya, aerocity mendukung langsung keberadaan bandara seperti kebutuhan gudang, wisma awak pesawat atau orang yang bekerja di bandara. Sementara aerotropolis adalah jenis usaha bangkitan dari bandara, seperti wisata, hotel, rumah makan. Aerotropolis, tegas dia, perlu dibahas secara lebih mendetail. “Ini yang sekarang sebetulnya menuju finalisasi, bagaimana aerotropolis itu,” ucapnya.

Menurutnya, hal ini menjadi kerja lintas sektor agar benar-benar siap menyambut wisatawan atau orang yang mendarat di YIA. Untuk investor, harapan Gubernur DIY Sri Sultan HB X untuk penyusunan business plan, segera terelaisasi. Jika diperlukan juga dapat menyusun tim teknis perusahaan dan Pemerintah Daerah (Pemda) DIY.

Lebih lanjuta, dia menilai investor itu harus memberi manfaat pada masyarakat, dengan konsep memindahkan sementara atau memberdayakan tanah yang ada tidak dengan menggeser warga. “Kedua tidak mematikan usaha yang ada disitu, memberdayakan masyarakat atau usahanya,” ucapnya.