Pekan Pertama Ramadan, Harga Kebutuhan Pokok Dinilai Masih Stabil

Pekan Pertama Ramadan, Harga Kebutuhan Pokok Dinilai Masih StabilPembeli memilih bawang putih di salah satu kios sembako di Pasar Argosari, Wonosari, Rabu (10/4/2019). - Harian Jogja/Rahmat Jiwandono
15 Mei 2019 08:27 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pada pekan pertama bulan Ramadan harga sejumlah kebutuhan pokok dinilai masih stabil hingga saat ini. Berbagai upayapun coba dilakukan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY untuk menjaga harga tetap stabilitas.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Disperindag DIY, Yanto Aprianto mengatakan secara umum ketersediaan bahan pokok cukup dan aman. Untuk harga secara keseluruhan stabil. “Hanya beberapa harga yang mengalami kenaikan seperti cabai. Itupun karena permintaan tinggi. Untuk bawang putih juga sudah mengalami penurunan secara signifikan, sudah diangka Rp38.000/kilogram (kg),” ucap Yanto, Selasa (14/5).

Harga bawang putih tersebut dimungkinkan oleh Yanto akan kembali turun karena stok telah mencukupi. Stabilitas harga tersebut diungkapkan Yanto juga terjadi pada komoditas daging ayam dikisaran Rp33.000/kg, telur Rp22.500/kg, gula Rp12.000/kg dan persediaan mencukupi.

Adapun harga untuk cabai yang dinilai mengalami kenaikan, yaitu untuk harga cabai merah keriting rata-rata dari tiga pasar besar di Jogja yaitu Beringharjo, Kranggan dan Demangan Rp23.000/kg, sementara cabai merah besar Rp32.000/kg. Kemudian cabai rawit hijau Rp20.600/kg dan Cabai rawit merah Rp21.000/kg.

Untuk menjaga stabilitas selama bulan puasa ini dikatakan Yanto pihaknya juga terus melakukan monitoring harga dan ketersediaan bahan pokok. Selain itu juga diselenggarakan pasar murah dan bazar pada Kamis (16/5) dan Jumat (17/5) mendatang di kantor Disperindag DIY. “Akan diadakan juga 10 kali di Kabupaten/Kota,” katanya.

Kepala Bulog Divre DIY, Rini Andrida mengatakan telah mengantisipasi dengan memastikan ketersediaan bahan pokok mencukupi. Berbagai upayapun dilakukan guna penstabilan harga tersebut. “Kalau bicara beras bukan OP (Operasi Pasar) tetapi KPSH (Ketersedian Pasokan dan Stabilisasi Harga). Kalau OP saat harga naik, tetapi kalau KPSH sepanjang tahun ada program itu,” katanya.

Diungkapkannya KPSH tersebut bermacam-macam salurannya, dapat melalui Rumah Pangan Kita (RPK), upaya mendekatkan titik transaksi dengan masyarakat, kemudian memasok di pasar-pasar mitra, dan berbagai saluran lainnya.