Pariwisata DIY Rasakan Imbas Kerusuhan, Apa Saja?

Pariwisata DIY Rasakan Imbas Kerusuhan, Apa Saja?Pelancong menikmati suasana kawasan pedestrian Malioboro, Yogyakarta yang lengang seperti terlihat pada Senin (29/05/2017). - Harian Jogja/Desi Suryanto
25 Mei 2019 10:57 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Demonstrasi yang diwarnai kericuhan menolak hasil Pemilu 2019 pada Selasa (21/5) dan Rabu (22/5) cukup berpengaruh terhadap pariwisata di DIY. Terkhusus untuk paket kombinasi Jakarta dan Jogja dan wisatawan ASEAN.

“Akibat dari peristiwa 22 Mei di Jakarta memang berpengaruh terhadap pariwisata di DIY khususnya yang paketnya kombinasi Jakarta dan Jogja. Wisatawan dari ASEAN ada beberapa yang batal walaupun sangat kecil persentasenya, dan ada yang di-reschedule,” ucap Ketua Association of The Indonesian Tours & Travel Agencies (ASITA) DIY, Udhi Sudiyanto, kepada Harian Jogja, Jumat (24/5).

Udhi mengatakan kejadian-kejadian seperti ini sebaiknya tidak terjadi, karena pariwisata sangat sensitif. Terjadi sedikit masalah di daerah tertentu akan berpengaruh terhadap daerah lainnya.

“Pariwisata kita ini sebenarnya sudah cukup prihatin dengan berbagai kejadian. Seperti Gunung Agung di Bali; gempa Lombok; bencana Palu, Tsunami Banten dan lain sebagainya. Ini bagaimanapun juga berpengaruh kepada image wisatawan yang akan datang ke Indonesia. Ditambah lagi dengan naiknya harga tiket pesawat dan kejadian 22 Mei,” katanya.

Meski begitu ia cukup optimistis dampak kerusuhan itu tidak akan berlangsung lama. Diperkirakannya pekan depan sudah kembali normal. Dia berharap pemerintah serius menaikkan kembali branding ke pasar di luar negeri bahwa Indonesia adalah destinasi aman untuk dikunjungi.

 

Marketing Public Relations

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma, sekaligus pengamat pariwisata, Ike Janita Dewi mengatakan demonstrasi dan kerusuhan pasca-pengumuman hasil Pemilu 2019 berpengaruh besar pada pariwisata di Indonesia.

Meski travel advice yang dikeluarkan sejumlah negara tergolong peringatan yang masih di bawah travel warning dalam dunia pariwisata, hal itu tetap perlu menjadi perhatian. Keamanan dan keselamatan merupakan hal yang paling penting menentukan daya saing, dalam bisnis pariwisata.

“Itu [keamanan dan keselamatan] faktor yang lebih daripada daya tarik wisata itu sendiri. Jadi kalau ada isu apapun yang berkaitan dengan keamanan dan keselamatan yang terdampak pertama kali pasti pariwisata,” ucap Ike.

Masalah keamanan dan keselamatan itu akan berdampak pada kunjungan wisatawan terutama pada negara yang mengeluarkan travel advice, seperti Amerika Serikat dan Singapura. Namun ada sejumlah negara lain juga yang terdampak seperti Australia dan negara yang sangat menghindari risiko yaitu Jepang.

“Saya dapat laporan bahwa banyak dari Jepang membatalkan kunjungan ke Jogja. Paling pertama balik kanan Jepang. Negara yang sangat sensitif terhadap keamanan memang Amerika Serikat, Singapura, Australia dan Jepang itu. Eropa tidak begitu, tetapi pada umumnya semua negara akan memperhatikan keamanan dan stabilitas negara lain untuk wisata,” ucapnya.

Guna mengatasi masalah itu, pemerintah perlu membuat pernyataan resmi dengan marketing public relations, yang menyatakan kondisi demonstrasi kerusuhan itu hanya terjadi di Jakarta selama dua hari dan sudah bisa terselesaikan.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM, Eko Suwardi mengatakan sektor pariwisata merupakan salah satu penunjang perekonomian bagi DIY maupun secara nasional. Oleh karenanya wisata harus dirancang berkelanjutan, atau sustainable tourism dengan memperhatikan lingkungan, hingga keamanan dan stabilitas.

“Berpengaruh pastinya [demonstrasi], tetapi saya rasa tidak akan berlangsung lama. Paling pokok jangan sampai terulang lagi dan menciptakan ketakutan psikologis,” ucapnya.