Laba Bersih PLN Melejit

Laba Bersih PLN MelejitIlustrasi jaringan PLN - Bisnis/Paulus Tandi Bone
31 Mei 2019 08:57 WIB M. Nurhadi Pratomo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Laba bersih yang dikantongi PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) melejit 162,13% secara tahunan pada 2018 ditopang oleh kenaikan penjualan, efisiensi, serta kebijakan domestic market obligation untuk produk batu bara.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan melalui laman Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (29/5/2019), Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengantongi pendapatan penjualan tenaga listrik Rp263,47 triliun atau naik 6,85% secara tahunan pada 2018. Selanjutnya, pendapatan dari penyambungan pelanggan mencapai Rp7,30 triliun tahun lalu atau naik 2,67% dari periode yang sama tahun lalu.

Selain itu, PLN memiliki tambahan pendapatan usaha lain-lain senilai Rp2,11 triliun pada 2018. Dengan demikian, total pendapatan perseroan mencapai Rp272,89 triliun atau tumbuh 6,89% secara tahunan.

Dari sisi beban usaha, korporasi setrum milik negara itu mengeluarkan beban bahan bakar dan pelumas Rp137,26 triliun pada 2018 atau naik 17,38% secara tahunan. Beban pembelian tenaga listrik juga naik 16,35% secara tahunan menjadi Rp84,26 triliun.

Sebaliknya, beban sewa tercatat turun 35,20% secara tahunan menjadi Rp4,27 triliun. Kondisi itu serupa dengan beban kepegawaian yang susut 0,74% secara tahunan menjadi Rp22,95 triliun.

Adapun, beban pemeliharaan naik dari Rp19,51 triliun pada 2017 menjadi Rp20,73 triliun pada 2018. Beban penyusutan naik 5,42% menjadi Rp30,74 triliun dan beban lain-lain naik 3,25% menjadi Rp7,95 triliun.

Total beban usaha PLN tahun lalu mencapai Rp308,18 triliun. Posisi itu naik 11,87% dari Rp275,47 triliun pada 2017.

Dari situ, beban usaha PLN pada 2018 naik lebih tinggi dari pendapatan usaha. Akibatnya, perseroan membukukan rugi usaha sebelum subsidi Rp35,29 triliun pada 2018 atau naik 74,96% dari Rp20,17 triliun pada Rp20,17 triliun pada 2017.

Kendati demikian, PLN mendapatkan subsidi listrik pemerintah Rp48,10 triliun pada 2018. Jumlah itu bertambah 5,18% dari Rp45,73 triliun pada 2017.

Selanjutnya, perseroan juga mengantongi pendapatan kompensasi Rp23,17 triliun pada 2018. Pos itu tidak muncul dalam laporan keuangan 2017.

Dalam catatan laporan keuangan 2018, perseroan membeberkan pendapatan itu merupakan kompensasi dari pemerintah atas penggantian biaya pokok penyediaan (BPP) tenaga listrik beberapa golongan pelanggan yang tarif penjualan tenaga listriknya lebih rendah dibandingkan dengan BPP dan belum diperhitungkan dalam subsidi diakui sebagai pendapatan atas dasar akrual.

Naik 162%

Dengan demikian, PLN membukukan laba bersih Rp11,56 triliun pada 2018. Pencapaian itu naik 162,13% dari Rp4,41 triliun pada 2017. Sarwono Sudarto, Direktur Keuangan Perusahaan Listrik Negara, mengatakan pertumbuhan laba bersih yang dibukukan perseroan pada 2018 ditopang sejumlah faktor. Salah satunya penjualan listrik yang diklaim tumbuh signifikan.

Selain itu, Sarwono menyebut korporasi setrum milik negara itu melakukan efisiensi. Selanjutnya, keuntungan tahun lalu juga ditopang oleh kebijakan kewajiban memasok untuk pasar dalam negeri atau domestic market obligation (DMO) untuk komoditas batu bara. Adapun, harga batas atas batu bara DMO ditetapkan US$70 per ton. “Dari DMO yang paling besar,” ujarnya saat ditemui di Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rabu (29/5/2019).

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia