Duh, Jumlah Wisman di DIY Turun hingga 6,05%

Duh, Jumlah Wisman di DIY Turun hingga 6,05%Wisatawan memotret kirab pembukaan festival budaya Kampung Prawirotaman dan Kampung Panggung Krapyak di Jalan Prawirotaman, Yogyakarta, Sabtu (15/07/2017). - Harian Jogja/Desi Suryanto
12 Juni 2019 08:37 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Johanes De Britto Priyono mengatakan pada April 2019, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke DIY melalui pintu masuk Adi Sutjipto mencapai 9.980 kunjungan atau turun 6,05% dibanding jumlah kunjungan wisman pada bulan sebelumnya yang berjumlah 10.623 kunjungan.

Persentase penurunan juga terjadi apabila dibandingkan dengan April 2018, yaitu dengan penurunan sebesar 12,72%. Penurunan jumlah wisatawan mancanegara juga terlihat pada periode Januari hingga April 2019 jika dibandingkan dengan periode Januari hingga April 2018 yaitu sebesar 21,69%.

“Secara umum, pola kedatangan wisatawan mancanegara ke DIY selama empat bulan terakhir pada 2018 dan 2019 cenderung sama. Tingkat kedatangan wisatawan mancanegara merangkak naik dari Januari hingga Maret dan mengalami penurunan pada April. Pola yang cenderung berbeda terjadi pada 2017. Pada April 2017 terjadi kenaikan jumlah wisatawan mancanegara apabila dibandingkan dengan Maret 2017,” ucap Priyono, Senin (10/6).

10 Negara asal wisatawan mancanegara yang mendominasi kunjungan ke DIstiY pada periode Januari hingga April 2019 yaitu Malaysia, Singapura, Tiongkok, Jerman, Amerika Serikat, Perancis, India, Jepang, Inggris, dan Australia. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dari sepuluh negara tersebut mencapai 79,20% jumlah seluruh kunjungan wisatawan mancanegara ke DIY selama Januari hingga April 2019.

Dari 10 besar negara dengan tingkat kunjungan terbanyak tersebut, sebagian mengalami penurunan tingkat kunjungan. Penurunan paling besar berasal dari Singapura sebesar 23,44%, diikuti oleh Malaysia dan Jepang dengan penurunan berturut-turut sebesar 14,35% dan 12,29%. Meski begitu, kunjungan wisatawan dari beberapa negara mengalami kenaikan, seperti dari Perancis dan Inggris, dengan kenaikan berturut-turut sebesar 97,35% dan 44,65%.

Udhi mengatakan penurunan kunjungan wisman tersebut memang terjadi dan tentu berimbas pada pelaku wisata. Ia menduga ada beberapa faktor penyebabnya.

“Untuk Januari Februari memang low season sana musim dingin. Maret April mendekati masa Pemilu 2019. Itu otomatis menunggu gimana, kalau kerusuhan otomatis akan tidak jadi ke Jogja,” ucap Udhi.

Selain itu juga beberapa kejadian bencana alam yang terjadi di Indonesia, dalam waktu terakhir sedikit banyak memengaruhi kunjungan wisman ke Jogja.

 

Ekspor dan Impor

Ekspor dan Impor di DIY selama April mengalami kenaikan jika dibandingkan bulan sebelumnya.

“Selama April 2019,ekspor DIY mencapai US$33,1 juta [Rp470 miliar] naik 0,61 persen dibanding bulan sebelumnya. Sementara impor mencapai US$9,8 juta [Rp139 miliar] naik 55,56 persen,” ucap Johanes De Britto Priyono, Senin.

Tiga besar negara tujuan utama ekspor barang DIY April 2019 adalah Amerika Serikat dengan 36,86%, disusul Jerman dengan 11,78% dan Jepang dengan 7,85%. Peningkatan ekspor April 2019 jika dibandingkan dengan Maret 2019 terjadi di lima negara tujuan utama, yaitu Amerika Serikat US$0,9 juta  [Rp12 miliar]atau 7,96%, Australia US$0,8 juta [Rp11 miliar] atau 100,00%, Prancis US$0,5 juta [Rp7 miliar] atau 45,45%, kemudian Singapura US$0,4 juta [Rp5 miliar] atau 200%, dan Vietnam US$0,1 juta [Rp1 miliar]atau 100%.

Untuk nilai impor kumulatif Januari–April 2019 adalah US$30,1 juta [Rp428,5 miliar] atau naik 6,36% dibandingkan periode yang sama tahun 2018. Total nilai impor dari lima negara selama April 2019 sebesar US$8,3 juta [Rp118 miliar] atau naik US$3,3 juta [Rp4,6 miliar] atau 66,00% dibanding Maret 2019. Kondisi tersebut disebabkan oleh naiknya nilai impor beberapa negara utama seperti Taiwan, Tiongkok dan Hong Kong.

Sementara jika dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, impor Januari–April 2019 dari lima negara utama naik 11,02%. Peningkatan ini terutama disumbang oleh Tiongkok naik 34,85%, disusul Jepang 11,76%, dan Hongkong 2,97%.

Dari sisi peranan terhadap total impor Januari–April 2019, lima negara utama memberikan peranan 87,04% atau US$26,2 juta [Rp372 miliar]. Hong Kong masih menjadi negara asal impor terbesar dengan peran 34,55%.