Kementan Klaim Peningkatan Ekspor ke Asia dan Eropa Bikin Neraca Perdagangan Membaik

Kementan Klaim Peningkatan Ekspor ke Asia dan Eropa Bikin Neraca Perdagangan MembaikIlustrasi Kelapa Sawit
23 Juni 2019 10:57 WIB Iim Fathimah Timorria Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Kementerian Pertanian mengklaim peningkatan ekspor ke sejumlah negara Asia dan Eropa berdampak baik pada neraca perdagangan secara nasional selama kuartal I 2019. 

Salah satu neraca perdagangan yang memperlihatkan performa positif adalah antara Indonesia dan Malaysia. Berdasarkan data Kementan, surplus perdagangan yang dinikmati Indonesia untuk periode Januari-Maret 2019 mencapai 480,442 ton dengan nilai US$241 juta.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian Kuntoro Boga Andri menyatakan total nilai ekspor pertanian Indonesia ke Malaysia selama kuartal I sendiri mencapai US$287 juta dengan volume sebesar 513,917 ton.

Sementara untuk impor selama Januari-Maret 2019, Indonesia tercatat membeli produk pertanian asal Malaysia sebanyak 33,476 ton dengan nilai US$44 juta.

Selain Malaysia, Kuntoro mengatakan kinerja positif dan surplus juga terjadi dalam kerja sama dagang dengan negara Asia lain seperti China, Jepang, Korea dan Filipina.

Namun Kuntoro tak memperjelas besaran perdagangan dengan negara-negara tersebut.

Ia hanya mengungkapkan bahwa pasar China masih potensial untuk produk pertanian Indonesia. Ia merujuk pada surplus perdagangan yang dirasakan Indonesia pada 2018 yang mencapai nilai US$2,265 miliar.

"Nilai ekspor pertanian Indonesia ke China pada 2018 mencapai US$4,025 miliar atau meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan transaksi sebelumnya yang hanya US$2,058," kata Kuntoro dalam keterangan resmi, Jumat (21/6/2019).

Kuntoro mengungkapkan bahwa Indonesia sejatinya masih memiliki potensi ekspor pertanian yang lebih besar ke China. Namun sampai saat ini sejumlah komoditas hortikultura dan perkebunan asal Indonesia masih menghadapi hambatan berupa bea masuk yang relatif tinggi. Selain itu, China juga menerapkan standar sanitary and phytosanitary (SPS) yang sulit dipenuhi oleh petani Indonesia.

Untuk komoditas yang berkontribusi besar dalam perdagangan kedua negara, Kuntoro mengakui produk kelapa sawit masih menjadi andalan. Produk lain seperti karet, kelapa, kakao, dan produk hewan juga tercatat memiliki kontribusi besar.

"Untuk kelapa sawit masih menjadi andalan kita karena nilainya yang cukup besar. Kami mencatat sampai saat ini sebanyak 3,935 juta ton kelapa sawit diekspor ke China dengan nilai transaksi mencapai US$2,69 miliar," ujarnya.

Sumber : bisnis.com