Asita Masih Ragukan Efek Harga Tiket Turun

Asita Masih Ragukan Efek Harga Tiket TurunIlustrasi penumpang boarding. - The Active Times
05 Juli 2019 09:17 WIB Herlambang Jati Kusumo & Rio Sandy Pradana Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Association of The Indonesian Tours & Travel Agencies (Asita) DIY sependapat dengan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang menilai penurunan harga tiket pesawat hanya gimmick marketing, dan seharusnya PPN tiket dan PPN Avtur dihapuskan.

Diketahui Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengungkapkan penurunan harga tiket tersebut hanya seperti gimmick marketing atau tipuan pada konsumen. Tanpa diminta pun, pihak maskapai akan menurunkan tarif tiketnya pada jam dan hari yang tergolong low hours tersebut.

Menurutnya, jika tarif tiket pesawat mau turun signifikan, pemerintah harus menghapus PPN tiket sebesar 10% dan PPN Avtur sebesar 10%. Di banyak negara lain tidak ada yang menerapkan PPN tiket dan Avtur. “Saya juga pikir seperti itu [hal yang diusulkan YLKI],” kata Ketua Asita DIY, Udhi Sudiyanto, Kamis (4/7).

Udhi mengungkapkan pihak Asita masih menunggu realita yang terjadi. Penurunan tiket itu juga tidak serta merta langsung menaikkan jumlah wisatawan, karena biasanya efek akan dirasakan setelah tiga bulan setelahnya. “Kan sekarang turunnya hanya pada hari tertentu dan jam tertentu, sangat agak khawatir kalau itu tidak akan berpengaruh banyak terhadap peningkatatan animo wisatawan untuk datang ke Jogja,” katanya.

Masalah tiket, kata dia, ada banyak variabel yang harus diperhatian. Contohnya biaya parkir, pajak penumpang, PPN, dan lain sebagainya. Jadi jika yang diturunkan hanya satu variabel, menurutnya kurang pas. Pemerintah mestinya menjadi komando bagi BUMN yang terlibat didalamnya.

Ia mengungkapkan setuju jangan sampai airlines gulung tikar. Namun ia mengharapkan pula agar pariwisata yang telah dibangun tidak gulung tikar. Memang sulit menurutnya, tetapi itu menjadi tugas pemerintah mencari solusi yang cerdas.

“Yang bikin lucu memang, ketika kita dulu ditarget 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) dan akhirnya direvisi, tetapi komponen pariwisata malah dinaikkan. Ini kan jelas sekali bahwa antarinstansi pemerintah itu tidak ada kebijakan yang selaras. Kebijakan mereka berbanding terbalik. Mereka harus duduk bareng, bagaimana agar bisa terselamatkan semua,” ucapnya.

 Penerapan Kebijakan

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma, sekaligus pengamat pariwisata, Ike Janita Dewi menilai bisa saja penurunan harga tiket pesawat tersebut dapat meningkatkan kunjungan wisatawan. Dinilainya pergerakan wisatawan di Indonesia sangat tergantung transportasi udara. Akan tetapi perlu dilihat juga bagaimana penerapannya nanti.

Ike mengatakan harga tiket hanya salah satu faktor yang mendorong perjalanan wisatawan. Ada sejumlah faktor lain yang memengaruhi seperti pull factors atau menarik tidaknya suatu destinasi, tingkat harga di suatu destinasi, amenitas di destinasi dan keamanan dan keselamatan wisatawan di destinasi. “Selain itu push factor yaitu daya beli masyarakat sehingga ada disposable income yangg dipakai untuk berwisata. Untuk DIY yang perlu menjadi perhatian infrastuktur transportasi, layanan pendukung dan SDM yang berstandar internasional,” ucapnya. 

Tiket Murah

CEO AirAsia Group Tony Fernandes mengaku sudah menjadi kewajibannya untuk menjaga harga tiket yang dijual tetap rendah. Pihaknya juga tidak akan mengikuti maskapai yang menjual harga tinggi dengan alasan bisnis. "Sudah tugas kami untuk membuat semua orang bisa terbang. Kami tidak pernah menjual harga mahal, jika demikian maka kami bukan Air Asia lagi," kata Tony, Kamis.

Dia mengaku memiliki cara tersendiri untuk menjaga harga tiket tetap stabil di batas terendah. Caranya, adalah dengan mengurangi biaya operasional atau mengoptimalkan pendapatan lain secara cerdas.

Beberapa biaya pendukung, seperti kebandarudaraan, akan selalu naik dan membebani operasional maskapai. Namun, dirinya tidak memiliki pilihan selain berupaya mendapatkan pendapatan tambahan untuk membayar biaya tersebut tanpa membebani penumpang.

Kendati demikian, pihaknya tetap mengutamakan keamanan dan keselamatan penerbangan. Manajemen operasional penerbangan tetap dijaga supaya semakin baik dari tahun ke tahun.

Pihaknya juga mengaku sangat menyukai suasana kompetisi dan menghindari perilaku kartel. "Saya adalah orang yang pro-kompetisi dan pro-pelanggan. Saya melawan segala perilaku kartel," ujarnya.