BPR Perlu Jaga Kualitas Kredit, Bagaimana Kondisinya di Jogja?

BPR Perlu Jaga Kualitas Kredit, Bagaimana Kondisinya di Jogja? Ilustrasi replika uang di Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (4 - 4).Bisnis Indonesia/Abdullah Azzam
06 Juli 2019 09:27 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Dalam menyalurkan kredit, bank perkreditan rakyat (BPR) diharapkan terus menjaga kualitas kredit sehingga sisi non-performing loan (NPL) terus terjaga.

Ketua Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) DIY Ascar Setiyono mengungkapkan meningkatnya kebutuhan jelang Lebaran dan masuk ajaran baru juga mendongkrak kredit. Hal ini diharapkan menjadi momentum untuk meningkatkan outstanding loan.

"Namun, yang perlu diingat, harus menjaga kualitas kredit karena akses kredit lebih banyak untuk konsumsi. Oleh karena itu, perlu antisipasi penggunaannya jangan sampai memunculkan kesulitan pembayaran. Kami jaga dari sisi NPL-nya," kata dia, Jumat (5/7).

Perbarindo terus memonitor pertumbuhan BPR di DIY. Berdasarkan data yang diterima dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga April 2019 aset BPR DIY terpantau turun 1%. Penurunan ini lantaran banyak penggunaan dana oleh masyarakat lantaran menjelang Lebaran. Banyak terjadi penarikan deposito dan tabungan untuk keperluan menjelang Lebaran. "Untuk simpanan tercatat kenaikan, tetapi kecil tidak sampai satu persen. Masih banyak dana yang digunakan untuk keperluan dibandingkan disimpan terlebih dahulu," terang dia.

Dari sisi kredit dan pembiayaan terpantau tumbuh 3,7% yakni sebesar Rp195 miliar. Menurutnya pertumbuhan ini masih terlalu kecil karena sudah mencapai April 2019. Jika kondisi perlambatan ini terus terjadi hingga akhir tahun, Perbarindo DIY pesimistis pertumbuhan bisa mencapai angka 10%.

"Semoga Mei-Juni nanti laporannya meningkat. Awal-awal tahun sampai di tiga, empat bulan pertama agak pelan. Semester kedua agak kejar target sehingga diharapkan sampai 10 persen pertumbuhannya," kata dia.

Untuk menjalankan bisnisnya, BPR menghadapi berbagai tantangan yakni adanya kredit usaha rakyat (KUR), teknologi finansial (tekfin), dan turunnya permintaan. BPR harus kembali pada pakemnya yakni sektor mikro karena ada beberapa BPR yang mulai bermain di sektor kredit besar Rp100juta ke atas dan Rp500 juta ke atas. "Ini yang perlu dijaga agar BPR dari sisi pertumbuhan kredit. Selain itu enggak cuma nominal yang dijaga, tetapi juga jumlah rekening yang harus dikerjakan untuk dijaga loyalitas. Perlu pendekatan personal," jelas dia.

Ia mengatakan dalam menjalankan bisnisnya, BPR menghadapi beberapa tantangan misalnya adanya kredit usaha rakyat (KUR), teknologi finansial (tekfin), dan menurunnya permintaan. "Untuk persaingan, hal ini adalah hal biasa. Kami aka ikuti perkembangan dan menggandeng bank umum yang memiliki struktur TI (teknolofi informasi) lebih baik. Kami juga sudah kerja sama dengan BPD DIY untuk Apex bank," terang dia.