GM PLN UIP JBT II: Setiap Lampu yang Menyala Adalah Amal

GM PLN UIP JBT II: Setiap Lampu yang Menyala Adalah AmalGeneral Manager PLN UIP JBT II Eko Priyantono Aviantoro./ Ist - PLN UIP JBT II
16 Juli 2019 12:22 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Melihat sebuah pekerjaan sebagai sebuah ibadah dan mendatangkan manfaat bagi masyarakat menjadi motivasi bagi Eko Priyantono Aviantoro dalam melakoni tugasnya sebagai General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Jawa Bagian Tengah II (UIP JBT II).   

Eko berkecimpung di PLN sejak 1995. Sampai saat ini ia sudah makan asam garam meniti karier dan menjalankan tugasnya di berbagai posisi. Setiap posisi dan tugas memiliki tantangan sendiri. Ia memiliki jurus jitu untuk menjaga motivasinya tetap tinggi.

"Dahulu, kami diberi arahan, motivasi. Karena kami menyediakan infrastruktur listrik, Direktur kami dahulu bilang 'berpikirlah bahwa setiap lampu yang menyala itu adalah zikir atau amal jariyah yang akan diterima selama itu dimanfaatkan'," kata dia kepada Harian Jogja ketika ditemui di kantornya di PLN UIP JBT II, Jogja, beberapa waktu lalu.

Ia mengakui kalimat itu selalu berhasil menjadi pemantik semangat ketika menghadapi suatu tantangan. Ia pun mengingat pekerjaan yang ia lakukan bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk kepentingan banyak orang.

Eko mengawali karier di setelah lulus kuliah dari jurusan Teknik Mesin UGM. Kala itu ia ditempatkan di proyek induk Kalimantan di Balikpapan. Pria yang hobi gowes ini bertugas hingga 1999. "Pada 1997 kan ada krisis moneter, kegiatan proyek pun berkurang dan saya diarahkan ke bagian pengusahaan ke cabang di cabang Balikpapan," ujar dia.

Kemudian pada 2001, ia dipercaya menjadi manajer cabang di Bima, Nusa Tenggara Barat selama dua tahun. Kemudian, dia kembali dipindahtugaskan ke PLN Area Pamekasan, Jawa Timur kira-kira selama satu tahun."Saya kemudian mendapatkan beasiswa ke Australia selama dua tahun. Pulang dari Australia saya kembali ke Jawa Timur menjadi Deputi Manager Humas dan Komunikasi sekitar satu tahun. Saya juga sempat jadi pelaksana harian Manager Area Surabaya Utara," tutur dia.

Pada 2007, ia ditarik ke PLN Pusat selama dua tahun. Kemudian, ia kembali lagi ke Jawa Timur, tetapi tidak lagi di distribusi melainkan kembali ke proyek yakni UIP Pembangkit Termal Jawa-Bali. Ia bertugas mengawasi pembangunan pembangkit seluruh Jawa dan Bali. "Kemudian saya jadi Manajer Operasi Konstruksi di Surabaya selama 1,5 tahun atau dua tahun," jelas dia.

Kemudian, ia ditarik lagi ke PLN Pusat sebagai Manajer Senior Konstruksi Pembangkit untuk Jawa Bali. Tak lama kemudian, ia dipercaya sebagai General Manager di UIP Makassar selama satu tahun. Kemudian terjadi perubahan organisasi dan dipecah menjadi UIP Sulawesi bagian utara dan Sulawesi bagian selatan.  "Kemudian saya dipindah ke bagian yang utara. Jadi, pindah lagi ke Manado, tetapi enggak lama. Lalu, saya dimutasi lagi ke Jawa Timur di UIP yang dahulunya termal menjadi UIP Jawa Bagian Timur dan Bali," jelas dia.

Kemudian, pada Juni 2018 ia dipercaya menjadi General Manager PLN UIP JBT II. Berkarier di PLN dan menjalani berbagai posisi, memberikan banyak pengalaman bagu pria asli Bandung, Jawa Barat itu.

 

Berpikiran Terbuka

Ia mengaku setiap posisi di bagian proyek dan distribusi memberikan pengalaman unik masing-masing. Misalnya, ketika berada di proyek yang pertama kali di Kalimantan, ia dituntut bisa berbahasa Inggris karena kerap berinteraksi dengan orang asing seperti dari Jepang dan Inggris. Hal itu membrikan banyak pengalaman dan kesenangan tersendiri baginya.

"Berbeda ketika jadi manajer area di cabang. Yang dihadapi adalah masyarakat. Saat di Bima, waktu itu banyak pemadaman karena defisit. Pembangkit kurang, tetapi permintaan banyak. Satu sisi melayani pelanggan, sisi lain kemampuan pembangkit enggak cukup. Harus ada pemadaman bergilir dan harus dijalani. Kami pun memberi penyuluhan dan lampu emergency. Jadi kenangan tersendiri dan pengalaman unik. Lebih banyak sukanya bekerja di PLN," jelas dia.

Berpindah dari satu tempat ke tempat lain membuatnya memahami setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda. Ia pun harus menjadi pribadi yang adaptif dan berpikiran terbuka. "Harus mau komunikasi. Di sini kan proyek, transmisi yang berkaitan dengan banyak orang. Di sini saya beruntung karena didukung tim yang solid dan didukung pemerintah setempat pemangku kepentingan setiap daerah," jelas dia.

Tak hanya hubungan dengan pemangku kepentingan yang dijaga, tetapi hubungan dengan masyarakat juga dipererat. Ia dan menggunakan pendekatan personal kepada masyarakat sehingga tecipta kedekatan emosional. Dukungan masyarakat sangat dibutuhkan untuk mewujudkan pembangunan proyek.