Koperasi Harus Melek Digital

Koperasi Harus Melek DigitalKetua Dekopin Wilayah DIY Syahbenol Hasibuan ketika ditemui di Bangsal Kepatihan, Jogja, Rabu (17/7)./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
18 Juli 2019 08:22 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Agar tidak tergerus zaman dan tinggal nama, koperasi dinilai perlu mengikuti perkembangan zaman dan mengadopsi semangat Revolusi Industri 4.0. Koperasi perlu memanfaatkan kemajuan digital untuk mengembangkan diri agar tidak ketinggalan zaman.

Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Wilayah DIY Syahbenol Hasibuan mengungkapkan perlu reformasi total koperasi di era Revolusi Industri 4.0. Menurutnya, perlu perubahan mental dan sikap dari pengelola koperasi agar bisa mengikuti alur zaman yang sudah menggunakan teknologi digital. "Ini harus diikuti dan kalau enggak akan tertinggal. Kami dorong para pengelola untuk mau berkembang dan mengikuti zaman," kata dia ketika ditemui di Bangsa Kepatihan, Jogja, Rabu (17/7).

Ia menjelaskan saat ini terdapat sekitar 2.300 koperasi yang ada di DIY. Namun, tidak banyak yang sudah melek digital. Di setiap kabupaten dan kota jumlah koperasi yang sudah melek digital kurang dari 10 koperasi. Pemanfaatan teknologi digital itu pun belum maksimal. "Digitalisasi belum untuk pemasaran. Masih di internal lembaga. Ini perlu digencarkan edukasi untuk digitalisasi, anggotanya juga harus diubah, banyak yang tua dan tidak bisa mengginakan teknologi digital," jelas dia.

Ia mengatakan meskipun banyak pengurus koperasi yang telah berumur, hal itu tidak menjadi halangan untuk terus belajar. Pengetahuan dan keterampilan untuk memahami digitalisasi harus diupayakan baik untuk segi jasa, produk, maupun manajemen.

"Kalau enggak, akan tertinggal dan bisa tinggal nama. Teknologi digital ini telah mengubah banyak hal. Teknologi terus berkembang. Kalau koperasi enggak pakai digital, anggota bisa lari. Walaupun sudah tua, jangan minder untuk terus belajar," jelas dia.

Pengurus koperasi juga disarankan untuk menggaet generasi muda untuk menangani koperasi secara digital karena hal itu menjadi kebutuhan. Ia mencontohkan ketika koperasi memiliki unit usaha warung, maka warung itu sebaiknya dilengkapi dengan Wi-Fi dan sambungan listrik. Hal ini untuk mengikuti kebutuhan konsumen terutama generasi milenial.

"Jangan lagi menggunakan pola isaku iki [bisaku ini] dan loyalitas anggota diharapkan. Loyalitas saat ini transaksional. Harus ada yang diberikan oleh pengurus," ungkap dia.

Koperasi juga diimbau untuk tidak mengotak-ngotakkan diri. Koperasi harus merambah semua bidang yang bisa diikuti oleh pengelola koperasi,  pengurus, sehingga anggota merasa puas. Selain itu, manfaat menjadi anggota harus diperlihatkan misalnya dengan pembagian sisa hasil usaha (SHU). SHU jangan didiamkan atau malah ditahan. Hal itu justru membuat anggota tida termotivasi.