DAMRI Siapkan US$150 Juta untuk Ganti 500 Bus Disesel Menjadi Bus Listrik

DAMRI Siapkan US$150 Juta untuk Ganti 500 Bus Disesel Menjadi Bus ListrikBus DAMRI - JIBI/Bisnis.com
25 Juli 2019 23:27 WIB Rinaldi Mohammad Azka Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Perusahaan Umum (Perum) Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia (DAMRI) berencana mengganti 500 unit bus diesel menjadi bus listrik dalam lima tahun. Rencana itu diluncurkan setelah beleid kendaraan listrik diteken. Investasinya diperkirakan mencapai US$150 juta.

Kepala Divisi Manajemen Aset dan Pengembangan Properti, sekaligus Pelaksana Tugas Khusus Program Bus Listrik, Perum DAMRI, Dipo Wirawan, menjelaskan dalam perencanaannya, DAMRI memiliki visi untuk mengganti bus diesel hingga 500 unit menjadi bus listrik.

“DAMRI memiliki visi untuk mengganti sebanyak 400--500 bus diesel menjadi bus listrik secara bertahap dalam waktu 5 tahun, yang dimulai sejak disahkan dan diberlakukannya Peraturan Presiden tentang Kendaraan Listrik,” jelasnya kepada Bisnis, Kamis (25/7/2019).

Rencana tersebut dengan asumsi bahwa pengelolaan sumber tenaga listrik untuk pengisian baterai oleh PT Perusahaan Listrik Negara juga berkembang seiring dengan diberlakukannya beleid yang ditandatangani presiden tersebut.

“Jika diasumsikan investasi satu unit bus listrik adalah sebesar US$200.000 – US$300.000/unit, maka total investasi yang dibutuhkan adalah sebesar US$80 juta – US$150 juta dalam jangka waktu 5 tahun,” ujar dia.

Sementara itu, tipe yang akan digunakan seusai kebutuhan dimana bus tersebut ditempatkan. Bus bandara akan menggunakan tipe Coach Bus dan untuk TransJakarta direncanakan menggunakan tipe City Bus.

Selain itu, Dipo mengatakan pihaknya belum mengevaluasi kemungkinan penggunaan bus listrik untuk trayek antarkota antarprovinsi (AKAP) maupun antarkota dalamprovinsi (AKDP).

“Masalah utama yang harus dihadapi adalah bobot baterai dan titik untuk pengisian ulangnya. Bobot batere bisa mencapai 1 ton per 1 kW,” tuturnya.

Berdasarkan perhitungannya, trayek AKAP akan memerlukan baterai dengan kapasitas besar, lebih dari 4 kW, sehingga bobot tambahan akibat baterai mencapai 4 ton.

Sementara itu, untuk AKDP, titik pengisian ulang baterai menjadi isu penting karena akan diperlukan pengisian ulang baterai yang lebih sering agar ukuran baterai bisa diperkecil.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia