Kolaborasikan Gaya Hidup untuk Gaet Wisatawan

Kolaborasikan Gaya Hidup untuk Gaet WisatawanPelancong menikmati suasana kawasan pedestrian Malioboro, Yogyakarta yang lengang seperti terlihat pada Senin (29/05/2017). - Harian Jogja/Desi Suryanto
31 Juli 2019 09:27 WIB Kusnul Isti Qomah & Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Pariwisata DIY tengah menggencarkan kolaborasi gaya hidup untuk menarik wisatawan ke DIY. Kolaborasi gaya hidup seperti olahraga, musik, dan wisata menjadi atraksi tersendiri yang mampu memikat pelancong.

Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharja mengatakan olahraga kini tak hanya menjadi gerak tubuh, tetapi sudah menjadi gaya hidup. Begitu pula musik dan berwisata. Kegiatan-kegiatan itu menjadi bagian dari gengsi. "Perkembangan sport tourism terus didorong. Event-event besar seperti Mandiri Jogja Marathon, Sleman Temple Run, terus didukung dan respons masyarakat luar biasa," kata dia ketika dihubungi Harian Jogja, Selasa (30/7).

Ia menyebutkan kegiatan tersebut disebut gaya hidup lantaran ada penggabungan dua atau tiga kepentingan. Ia mencontohkan kegiatan olahraga bersepeda yang dikemas menjadi event sport tourism menjadi bagian gaya hidup itu sendiri. Begitu pula dengan event lari yang melalui candi-candi yang merupakan penggabungan olahraga dengan heritage. "Contoh lain adalah pertunjukan musik yang digelar di lokasi wisata seperti Gunung Api Purba Nglanggeran, Gungkidul dan di dalam hutan pinus Mangunan, Bantul. Itu penggabungan musik dan destinasi. Di Nglanggeran mampu menarik 2.300 penonton. Luar biasa," kata dia.

Ia menyebutkan pengembangan wisata kini merambah ke ranah kolaborasi tersebut. Hal itu dipercaya mampu menambah daya tarik. "Kalau bersepeda sudah biasa, tetapi kalau melewati rute destinasi wisata itu jadi event yang bagus. Event musik juga sama. Kalau digelar di gedung pertunjukan sudah biasa, kalau di hutan pinus baru luar biasa," terang dia.

Kolaborasi ini diharapkan mampu mendorong pencapaian target kunjungan wisatawan dan spending money dari wisatawan. Pada 2019, ditargetkan ada kunjungan enam juta wisatawan yang terdiri dari 5,5 juta wisatawan nusantara dan 500.000 wisatawan mancanegara. "Kalau ada event yang bagus lama tinggal mereka akan bertambah. Atraksi budaya malam hari juga bisa menambah lama menginap dan spending money wisatawan," tutur dia.

Dinas Pariwisata DIY pun akan menggarap potensi dari gaya hidup ini. Menurutnya, saat ini masyarakat cenderung mencari sesuatu yang unik.

 

Potensi YIA

Singgih mengatakan atraksi wisata yang semakin beragam juga untuk menangkap potensi yang akan timbul dengan beroperasinya Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulonprogo. YIA digadang-gadang menjadi hub yang bisa mengurangi volume di Bandara Changi Singapura dan Ngurah Rai Bali. "Kami harapkan itu. Kita optimistis untuk kemudian di sisi jumlah wisatawan mancanegara akan bertambah. Pergerakan ekonomi juga tambah lagi," kata dia.

Singgih menuturkan kultur di DIY masih menjad daya tarik luar biasa dan menjadi kekuatan untuk mendongkrak jumlah kunjungan. Hal ini tidak bisa digeser oleh daerah lain. "Kalau bicara nature ada kultur juga. Sebuah destinasi yang merupakan nature kalau enggak ada kultur akan sama dengan destinasi lain. Kultur jadi roh," kata dia.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata Rizki Handayani Mustafa sempat menyinggung pentingnya positioning DIY untuk destinasi wisata. "Kamboja, Vietnam, dan Myanmar ada yang dikaitkan dengan heritage seperti candi. Ini yang bisa kita jual ke Asia Tenggara. Jadi, bagaimana DIY ini mau mem-positioning destinasi wisata," kata dia.

 

Peningkatan SDM

Terkait dengan peningkatan sumber daya manusia (SDM), pakar ekonomi UGM, Eko Suwardi mendorong kurikulum Balai Latihan Kerja (BLK) harus diperbarui sesuai dengan perkembangan zaman.

“Kalau belum update harus di-update, bisa ditambah atau dimodifikasi agar dapat membekali keterampilan-keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja pada era sekarang dan mendatang,” ucap Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM itu).

Menurut dia, pembekalan yang dapat diberikan seperti keterampilan untuk penggunaan teknologi informasi secara baik dan manfaat. Juga perlu memperhatikan tren life style orang untuk berwisata. Apalagi, kata dia, pariwisata di Jogja sangat potensial. “Maka keterampilan hospitality, bahasa, pemandu wisata, kuliner yang baik dan sehat,” katanya.

Eko menilai BLK cukup membantu untuk mengurangi angka pengangguran dan meningkatan derajat ekonomi masyarakat sehingga BLK harus terus diperbarui menyesuaikan perkembangan kebutuhan lapangan kerja. Ia percaya pengelola dari BLK telah siap untuk penyesuaian.

Sebelumnya, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) DIY, Andung Prihadi Santosa mengungkapkan saat ini pelatihan-pelatihan dan materi di BLK masih bersifat konvensional. “Belum ke digital. Konvensional tetap karena jumlah tingkat nasional saja yang lulusan SD dan DIY masih tinggi penganggurannya. Jadi belum memungkinkan untuk yang ke programming dan semacamnya,” kata Andung.

Dia mengatakan pelatihan-pelatihan saat ini masih didominasi pada sektor yang bersifat pada karya, kewirausahaan, kemudian seperti las, lalu dibidang garmen, perhotelan. Beberapa juga mengikuti perkembangan dan kondisi yang ada. Seperti di Kulonprogo, diberikan pelatihan untuk mendukung keberadaan bandara.

Untuk materi yang mengarah ke Revolusi Industri 4.0 menurutnya saat ini tengah dipersiapkan oleh Kementrian. Kesiapan tersebut juga tidak mudah, lantaran perlu menjadi perhatian mulai dari materi, dan kemampuan instruktur sendiri.