Harga Minyak Belum Lepas dari Sentimen Negatif

Harga Minyak Belum Lepas dari Sentimen NegatifIlustrasi perdagangan minyak - JIBI/Bisnis.com
19 Agustus 2019 03:37 WIB Dika Irawan Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Harga minyak mentah menguat pada perdagangan pekan lalu, tetapi harga emas hitam ini masih rentan lemah, karena prospek permintaan masih buram.

Mengutip Bloomberg, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup menguat 0,73% atau 0,40 poin ke posisi US$54,87 per barel, Jumat (16/8/2019).

Tak jauh berbeda, harga minyak Brent juga menguat 0,70% atau 0,41 poin ke posisi US$58,64 per barel.

Awan gelap minyak itu setidaknya terlihat dari perkiraan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) yang dirilis baru-baru ini.

Kumpulan negara-negara produsen minyak ini masih cemas terhadap permintaan komoditas energi tersebut.

Dilansir dari Reuters, Minggu (18/8/2019), organisasi itu telah memangkas proyeksi permintaan minyak global di sisa akhir 2019. Perkiraan ini dilatarbelakangi oleh pertumbuhan ekonomi yang melambat.

Bersamaan dengan hal itu, kartel tersebut juga melihat kompetitor minyak lainnya tak menunjukkan tanda-tanda menurunkan produksi. Sebaliknya, mereka memompa minyak lebih banyak.

Sudah pasti, hal tersebut menjadi tantangan bagi OPEC yang berusaha menahan pasokan untuk menaikkan harga.

Dalam laporan bulannya, OPEC mencukur perkiraan permintaan minyak global pada 2019 sebanyak 40.000 barel per hari menjadi 1,10 juta bph. Secara keseluruhan konumsi minyak dunia diperkirakan mencapai 99,92 juta barel per hari.

Kondisi tersebut mengindikasikan pasar akan sedikit surplus pada tahun depan.

Prospek bearish tersebut terjadi di tengah sengketa perdagangan Amerika Serikat dan China dan Brexit. Situasi itu bisa menekan OPEC dan sekutu mereka termasuk Rusia untuk mempertahankan kebijakan pemangkasan produksi untuk mendukung harga.

Sementara itu prospek fundamental pasar tampaknya agak bearish untuk sisa tahun ini, mengingat pelemahan pertumbuhan ekonomi, masalah perdagangan global yang sedang berlangsung, dan perlambatan pertumbuhan permintaan minyak.

"Oleh sebab itu tetap penting untuk memantau secara ketat keseimbangan pasokan/permintaan dan membantu stabilitas pasar di bulan-bulan mendatang,” kata OPEC dalam laporan tersebut.

Untuk diketahui, OPEC sangat jarang memberikan pandangan ke depan yang bearish seperti ini.  Terlepas dari pemangkasan OPEC, harga minyak telah jatuh dari puncaknya pada April 2019 di atas US$75 per barel, yang tertekan oleh kekhawatiran perdagangan dan perlambatan ekonomi.

Sebagai informasi, OPEC, Rusia dan produsen lain sejak 1 Januari telah menerapkan kesepakatan untuk memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari.

Aliansi yang dikenal sebagai OPEC + tersebut pada Juli memperbarui pakta tersebut hingga Maret 2020. Tujuannya untuk menghindari penumpukan persediaan yang dapat menekan harga.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia