Yuk Investasi Jangka Panjang!

Yuk Investasi Jangka Panjang!Ilustrasi bursa saham (Bisnis/Dedi Gunawan)
29 Agustus 2019 03:37 WIB Denis Riantiza Meilanova Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Guna memastikan kondisi keuangan tetap baik di masa mendatang, investasi jangka panjang sangat diperlukan. Misalnya untuk biaya pernikahan, dana pendidikan anak, dan persiapan pensiun.

Durasi investasi jangka panjang biasanya lebih dari setahun atau bahkan hingga berpuluh-puluh tahun. Adapun keuntungan investasi jangka panjang tidak bisa diperoleh dalam waktu cepat. Meski demikian, keuntungan yang diperoleh cenderung lebih stabil dan risikonya jauh lebih rendah dibandingkan investasi jangka pendek.

Berikut ada beberapa jenis investasi jangka panjang yang bisa Anda pertimbangkan:

1. Emas

Emas merupakan barang investasi populer dan digemari oleh para investor karena sifatnya yang safe haven. Emas dapat bertahan dan bahkan mampu meningkat pada saat kondisi pasar mengalami goncangan atau ketika aset investasi lain menurun.

Dalam jangka pendek harga emas dapat bergejolak dan sangat fluktuatif. Namun dalam jangka panjang, nilainya cenderung mengalami kenaikan. Berdasarkan informasi Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia Antam, harga emas Antam pada 2011 berada pada level Rp401.000 per gram. Sedangkan pada 27 Agustus 2019, harga emas Antam telah menembus Rp766.500 per gram.

Oleh karena itu, emas sangat cocok untuk investasi jangka panjang. Kelebihan lainnya emas memiliki likuiditas tinggi sehingga dapat dijual dengan cepat.

2. Saham

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) saham diartikan sebagai bukti pemilikan bagian modal perseroan terbatas yang memberi hak atas dividen dan lain-lain menurut besar kecilnya modal yang disetor.

Dengan membeli saham di bursa berarti investor mendapatkan bagian sekian persen kepemilikan perusahaan yang menjual sahamnya. Investor memperoleh imbal hasil berupa kenaikan harga saham ketika kinerja perusahaan baik atau dividen ketika perusahaan untung.

Investasi saham cenderung memberikan keuntungan yang besar dibandingkan instumen investasi lainnya. Namun demikian, juga memiliki risiko yang sangat tinggi. Harga saham dapat naik dan turun secara drastis dalam jangka waktu yang cepat.

3. Properti

Investasi properti, baik tanah maupun bangunan, dapat menjadi pilihan investasi jangka panjang yang cukup menjanjikan. Properti yang merupakan salah satu kebutuhan pokok akan selalu dibutuhkan dan dicari, sementara ketersediaannya semakin terbatas. Oleh karena itu, tak heran bila nilainya akan cenderung meningkat dari waktu ke waktu.

Selain mendapat capital gain atau kenaikan harga di masa depan, keuntungan lain dari investasi properti adalah mendapat penghasilan sewa dengan memiliki beberapa rumah sewa atau kos. Ini bisa menjadi sumber penghasilan ketika memasuki usia pensiun.

Dibutuhkan modal besar untuk memulai investasi ini. Di sisi lain, investasi properti tidak likuid. Artinya, tidak mudah dicairkan apabila investor membutuhkan dana cepat.

4. Asuransi

Asuransi juga bisa menjadi salah satu pilihan untuk investasi jangka panjang. Asuransi berguna untuk meminimalisir kerugian keuangan bila terjadi risiko di masa mendatang. Misalnya, suatu saat Anda atau keluarga Anda jatuh sakit dan memerlukan penanganan khusus yang memerlukan biaya cukup besar, maka asuransi kesehatan akan dapat membantu meringankan biaya pengobatan.

Begitu juga jika memiliki asuransi pendidikan, bisa digunakan untuk persiapan dana pendidikan anak yang tiap tahunnya mengalami kenaikan.

5. Reksa dana

Instrumen investasi jangka panjang berikutnya adalah reksa dana. Reksa dana sendiri merupakan wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi.

Terdapat beberapa jenis reksa dana dengan tingkat risikonya masing-masing. Para perencana keuangan menyarankan agar berinvestasi pada reksa dana saham bila untuk memenuhi kebutuhan keuangan jangka panjang.

Berinvestasi pada reksa dana saham mirip dengan membeli saham secara langsung. Bedanya pada reksa dana saham, pemilihan saham dilakukan oleh manajer investasi. Risiko membeli saham langsung juga lebih besar karena diperlukan kelihaian investor dalam menganalisis pergerakan saham.

Sumber : solopos.com