Anggaran Infrastruktur DIY 2027 Dipangkas Rp33,25 miliar, Jalan Tetap Prioritas
Anggaran infrastruktur DIY 2027 turun Rp33,25 miliar menjadi Rp1,157 triliun. Pemda memprioritaskan jalan, rumah sakit, dan transportasi.
Ilustrasi SPBU-dok/Bisnis Indonesia
Harianjogja.com, JOGJA— PT Pertamina (Persero) menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi per 1 Juli 2025 di sejumlah daerah. Harga BBM di DIY untuk Pertamax naik dari Rp12.100 per liter pada Juni 2025 menjadi Rp12.500 per liter. Harga harga Pertamax Turbo naik dari Rp13.050 per liter menjadi Rp13.500 per liter.
Lalu Pertamax Green naik dari Rp12.800 per liter menjadi Rp13.250 per liter. Harga BBM Dexlite juga mengalami kenaikan dari Rp12.740 per liter menjadi Rp13.320 per liter, dan Pertamina Dex naik dari Rp13.200 per liter menjadi Rp13.650 per liter.
Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi mengatakan kenaikan harga BBM non subsidi ini sudah tepat. Ia menjelaskan harga BBM non subsidi dievaluasi secara reguler dengan mempertimbangkan beberapa variabel.
Seperti harga minyak dunia dan kurs rupiah terhadap dolar AS, sehingga kenaikan harga BBM non subsidi sudah tepat. Besaran kenaikannya menurutnya juga sudah ideal.
"Keputusan harga BBM non subsidi dievaluasi secara reguler dengan mempertimbangkan variabel," ucapnya, Selasa (1/7/2025).
Fahmy mengatakan untuk harga BBM subsidi selama harga minyak dunia masih di bawah 100 dolar AS per barel, tidak perlu dinaikkan. Sebab kenaikan harga BBM subsidi akan memicu inflasi, menurunkan daya beli dan memperlambat pertumbuhan ekonomi
"[harga BBM subsidi tidak perlu naik] selama harga minyak dunia masih di bawah 100 dolar AS," lanjutnya.
Ekonom Senior Indef, Tauhid Ahmad menyampaikan dampak perang Iran-Israel akan dirasakan dalam beberapa bentuk. Di antaranya tekanan nilai tukar rupiah, koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), kenaikan harga minyak dan BBM, serta gangguan logistik global.
Ketergantungan terhadap harga energi dunia membuat ekonomi nasional rentan terhadap konflik eksternal. Menurutnya jika konflik berlanjut Indonesia perlu melakukan antisipasi pada inflasi akibat kenaikan harga minyak, capital outflow, pelemahan rupiah, serta risiko pasokan logistik dan kenaikan biaya produksi.
Menurutnya konflik geopolitik kini tidak lagi bersifat militer semata, tetapi menembus ke ranah ekonomi dan perdagangan. "Oleh karena itu, respons Indonesia harus mencakup kebijakan energi, kestabilan nilai tukar, dan mitigasi rantai pasok," tuturnya. (**)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Anggaran infrastruktur DIY 2027 turun Rp33,25 miliar menjadi Rp1,157 triliun. Pemda memprioritaskan jalan, rumah sakit, dan transportasi.
KPK menyita empat mobil terkait dugaan korupsi dana siap pakai BNPB, termasuk BMW, AION, dan BYD Atto 3 Superior.
Komisi D DPRD Gunungkidul berharap UMK 2027 disesuaikan dengan biaya hidup, kemampuan perusahaan, dan formula pengupahan yang berlaku.
Disdik Sleman merehabilitasi 15 SMP negeri pada 2026 dengan anggaran Rp2,2675 miliar. Kerusakan bangunan didominasi atap dan kayu keropos akibat rayap.
Prabowo memerintahkan ESDM, Pertamina, dan Danantara memeriksa kontrak distribusi minyak setelah keterlambatan pasokan di Bali.
DPC PDIP Kota Jogja menggelar kaderisasi bagi 64 peserta di Kaliurang untuk memperkuat ideologi, disiplin, dan komitmen memperjuangkan rakyat.