Mau Adopsi Bus Listrik, Perusahaan Otobus Terkendala Daya Jelajah Yang Terbatas

Mau Adopsi Bus Listrik, Perusahaan Otobus Terkendala Daya Jelajah Yang TerbatasBeberapa pengunjung melihat-lihat bus bertenaga listrik MAB. Bus ini dirancang sebagai sarana transportasi dalam kota dan antarkota. - Bisnis.com/Fatkhurl Maskur
29 Agustus 2019 14:37 WIB Thomas Mola Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Perusahaan otobus terkendala harga bus listrik yang mahal.

GM Goverment Relation PT Mobil Anak Bangsa (MAB) Puryanto mengatakan perusahaan otobus saat ini sulit untuk menggunakan kendaraan listrik karena harga yang masih mahal dan belum bisa digunakan untuk jarak jauh. Hal itu dipengaruhi oleh teknologi baterai dan infrastruktur pendukung untuk pengisian daya listrik dengan cepat.

Dia juga menilai dukungan perusahaan pembiayaan melalui suku bunga yang kompetitif juga sangat penting bagi perusahaan otobus yang ingin menggunakan bus listrik karena mayoritas pembelian dilakukan secara kredit.

Dia mengatakan, harga bus listrik saat ini masih mahal lantaran komponen baterai. Bus MAB dipasarkan mulai dari Rp4,5 miliar, tergantung spesifikasi yang diminta oleh calon konsumen.

“Harga Rp4,5 miliar itu sudah termasuk karoseri artinya unit utuh. Kurang lebihnya belum kami finalisasi akan clear kalau sudah ada calon pembeli dengan spesifikasi yang diminta,” ujarnya di Jakarta, baru-baru ini.

Puryanto menuturkan, hingga sejauh ini bus listrik MAB telah dibeli oleh PT Paiton Energy, perusahaan pembangkit listrik di Jawa Timur. Bus listrik itu digunakan untuk bus karyawan mengganti bus konvensional karena perusahaan merupakan perusahaan listrik.

Dia mengatakan, beberapa pemerintah daerah juga telah menyatakan minat untuk menggunakan bus listrik. Menurutnya, Pemda pun perlu mengalokasikan dana untuk membeli bus listrik dalam APBD.

MAB, katanya, akan memberikan alat pengisian daya secara gratis jika membeli empat unit bus. Adapun untuk pembelian 1 unit, perusahaan yang didirikan oleh Moeldoko ini juga menyediakan alat pengisian daya tetapi tidak gratis.

“Nanti tinggal disambung ke PLN. Kami usulkan adanya semacam subsidi untuk tambah daya karena cukup mahal. Kami harapkan adanya kemudahan dari pemeritah,” katanya.

Sumber : Bisnis.com