Serius Mau Buat Kementerian Digital?

Serius Mau Buat Kementerian Digital?Ilustrasi iklan digital - Bisnis.com
13 September 2019 12:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Wacana pemerintah pusat membentuk kementerian digital untuk mendukung ekonomi digital dinilai belum terlalu penting.

Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta, yang juga merupakan pengamat ekonomi, Edy Suandi Hamid mengatakan Indonesia tidak perlu terlalu banyak Kementerian, termasuk kementerian digital ini.

“Kita lihat saja arahnya ke mana, untuk menguatkan apa. Kalau digital kan bisa ke Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) untuk ekonomi bisa ke Kementerian Perdagangan atau Perindustrian,” kata Eddy, Kamis (12/9).

Seharusnya, kata Edy, pemerintah merampingkan yang sudah ada. Misalnya dengan menempatkan divisi tersebut berada di bawah kementerian yang sudah ada. Tinggal dilihat mana yang berhubungan dekat.

Untuk kesiapan menghadapi ekonomi digital sendiri, hal terpenting yang perlu disiapkan adalah penguatan sumber daya manusia (SDM). Menurut dia, Indonesia perlu belajar dari negara yang sudah maju ekonomi digitalnya, seperti Jepang maupun Singapura.

Edy mengatakan era digital ini tidak dapat dihindari. Namun perlu perlu peran serta berbagai lapisan masyarakat atau pemerintah. Tidak hanya Pemerintah Pusat, tetapi juga pemerintah daerah. Jogja dinilainya memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital, dengan SDM yang dimiliki. “Dari Pemerintah Pusat mensitimulus. Namun tidak cukup pusat, tetapi daerah-daerah juga perlu berperan serta,” ujarnya.

Sebelumnya, Innovative Academy UGM menilai Jogja memiliki potensi besar untuk berkembangnya startup digital, yang dapat mendukung perekonomian. “Startup digital secara talenta bagus, jumlah banyak, secara kualitas bagus. Banyak startup medium ada tim developer di Jogja,” ucap Head of

Program Innovative Academy UGM, Sebastian Alex Darmawangsa.

Alex menilai startup di Jogja pun beragam. Selain itu juga, jika dibandingkan dengan startup di Jakarta, yang lebih ke arah money oriented, startup di Jogja lebih ada sentuhan sosialnya. Sebab cukup banyak startup di Jogja yang mengangkat apa yang dibutuhkan di tengah masyarakat.

Ia mengatakan faktor pendorong tumbuhnya startup di Jogja sendiri yang membedakan dengan daerah lain yaitu adanya banyak akademisi di Jogja. “Jogja kuat dengan akademisinya, membedakan dengan kota lain. Akademisi dapat memberi hasil riset kemudian dipadukan atau calon-calon startup dapat konsultasi,” ujarnya.