Wow .. Tiap Hari Rp100 Juta Uang Lusuh Diserap dari Beringharjo

Wow .. Tiap Hari Rp100 Juta Uang Lusuh Diserap dari BeringharjoWakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi memberikan selempang pada perwakilan agen bank yang akan bertugas menukarkan uang lusuh dengan yang baru di Pasar Beringharjo, Rabu (22/5/2019). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
19 September 2019 07:57 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Serapan uang lusuh di Pasar Beringharjo terus meningkat. Setiap hari Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bisa menyerap uang lusuh hingga Rp100 juta.

Sejak peresmiannya pada tanggal 22 Mei 2019, program Pasar Kawasan Bebas Uang Lusuh (Pakabul) dinilai memberikan hasil yang sangat positif. Ini berdasarkan hasil evaluasi dan monitoring intensif KPw BI DIY bersama Pemerintah Kota Jogja terhadap perkembangan peredaran uang lusuh di kawasan Pasar Beringharjo, Jogja.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Hilman Tisnawan menyebutkan capaian program Pakabul tersebut tercermin dari peningkatan uang lusuh yang berhasil diserap KPw BI DIY. "Sebanyak 22 orang agen Pemburu Uang Lusuh [Apul] mampu mengumpulkan uang lusuh sebesar Rp30 juta hingga Rp100 juta per hari dari tangan para pedagang Pasar Beringharjo," kata dia, Rabu (18/9).

Hilman menjelaskan Apul tersebut tidak hanya berasal dari KPw BI DIY, tetapi juga dari perbankan di DIY. Pada awal peluncurannya, Pakabul dilaksanakan bekerja sama dengan Bank Mandiri dan Bank Jogja. Kemudian, pada Agustus 2019 BRI dan Bank BPD DIY bergabung dalam program ini untuk memperkuat efektivitas program Pakabul mengingat besarnya potensi uang lusuh yang beredar.

"Antusiasme pedagang pasar dalam menukarkan uang lusuh, mendorong adanya peningkatan tingkat kualitas kelayakan uang yang ada di DIY. Berdasarkan hasil survei internal dari KPw BI DIY, uang pecahan kecil [UPK] yang semula berada pada level enam meningkat signifikan menjadi sembulan [skala 1-16]. Sementara untuk uang pecahan besar [UPB] juga tercatat meningkat dari level tujuh menjadi 10," terang dia.

Deputi Kepala Perwakilan BI DIY Miyono menjelaskan kesuksesan program Pakabul tidak terlepas dari sosialisasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia kepada masyarakat terkait dengan Gerakan Lima Jangan Dalam Merawat Rupiah. "Lima jangan itu yaitu jangan dilipat, jangan dicoret, jangan distapler, jangan diremas, dan jangan dibasahi," kata dia.

Gerakan tersebut dinilai mampu mengedukasi masyarakat untuk mencintai rupiah sehingga dapat berdampak terhadap turunnya peredaran uang lusuh yang ada di DIY. Selain itu, KPw BI DIY juga melaksanakan beberapa program pendukung lainnya antara lain peningkatan frekuensi layanan kas keliling kepada masyarakat, memperluas jaringan kerja sama dengan perbankan, serta mendorong program elektronifikasi/ gerakan nontunai di Pasar Beringharjo.

Melihat keberhasilan Program Pakabul di Pasar Beringharjo, KPw BI DIY akan memperluas cakupan program di seluruh wilayah DIY. "Diharapkan dengan meluasnya cakupan program, kualitas uang beredar yang ada di seluruh wilayah DIY dapat mencapai skala yang optimal," ujar dia.