Kreasikan Batu Pijakan Taman bak Benda Seni

Kreasikan Batu Pijakan Taman bak Benda SeniContoh produk wall decor Setapak 9. - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
20 September 2019 17:27 WIB Salsabila Annisa Azmi Ekbis Share :

Beberapa tahun menjadi guru seni rupa dengan status honorer, Joni Martono, akhirnya memutuskan untuk memperluas waktu berkaryanya dengan mendirikan Setapak 9. Ia membuat kreasi batu pijakan taman dengan motif unik seperti lukisan.

Karier Jono sebagai guru seni rupa honorer dimulai pada 2006. Selama lima tahun, Joni tak hanya mengajar di salah satu SMP favorit Kota Jogja. Sebagai guru, dia juga rajin mengikuti berbagai kompetisi desain logo dan produk.

Hal itu dia lakukan bukan semata-mata untuk dirinya sendiri, namun juga untuk para siswa siswinya. Joni ingin mendobrak stigma mereka bahwa seni adalah bidang yang kurang menjanjikan untuk hidup masa depan.

“Kebetulan saya suka berkebun. Dulu di sebelah kandang sapi rumah saya ada taman kecil. Saya juga suka mengamati batu pijakan taman pada umumnya desainnya monoton. Saya kepikiran untuk merintis bisnis batu pijakan taman dengan menggunakan ilmu seni rupa yang saya miliki. Sambil mengajar, saya mulai merintis bisnis ini,” kata Joni saat ditemui Harian Jogja di Galeri Setapak 9, belum lama ini.

Batu pijakan taman yang Joni buat memiliki diameter 30 sentimeter dengan ketebalan empat sentimeter. Di atas batu material semen itu Joni melukis aneka motif dengan ornamen hiasan batu putih dan hitam. Motif yang disediakan awalnya bertema hewan, transportasi, budaya dan juga aktualisasi diri Joni. Misalnya, motif Paralayang yang menggambarkan hobinya. Motif dikerjakan dengan warna yang masih sederhana.

Masa awal merintis bisnis, Joni membagi waktunya menjadi tiga, yaitu mengajar, merintis bisnis dan mengikuti berbagai kompetisi desain untuk modal bisnisnya. Salah satu cita-citanya tercapai, siswanya memandang dia sebagai sosok inspiratif, stigma mereka akan seni pun berubah menjadi lebih baik.

Sayangnya lambat laun Joni kewalahan sebab semua proses pembuatan produk Setapak 9 masih dikerjakan seorang diri. Dia pun akhirnya melepas karir sebagai guru dan memutuskan fokus membesarkan karyanya dalam Setapak 9.

“Saya coba tawarkan ke toko jual tanaman, atau peralatan taman, waktu itu harganya masih Rp70.000. Ternyata masih terlalu mahal di Jogja, jadi tidak laku. Akhirnya saya sambi ikut kompetisi lagi, setelahnya saya sempat mau nyerah karena kok merintis bisnis ternyata susah sekali, tetapi ada satu teman yang menyadarkan saya, kalau saya kelamaan berhenti nanti ide saya diambil,” kata Joni.

Joni mulai berkarya lagi dengan aneka motif. Di tengah usahanya berinovasi, tak disangka pesanan justru datang dari pihak perorangan di Malang. Bobot batu pijakan taman yang dipesan mencapai lima kilogram, sehingga membuat ongkos kirim membengkak. Setelah pesanan itu diantar, Joni menyadari dua hal. Pertama, pasarnya merupakan segmen menengah atas dan kedua dia harus menemukan formulasi tepat agar kepingan batu pijakan tipis namun tetap kuat.

Formula adonan semen melalui tahap eksperimen yang panjang. Berulang kali Joni harus mendapati batu pijakan tamannya pecah saat dikirim atau pecah saat digunakan konsumen dan akhirnya dia harus mengganti uang mereka. Setelah beberapa bulan, formula pun ditemukan. Joni beralih fokus untuk persiapan branding untuk segmen menengah atas dengan slogan “Bukan Sekadar Batu Pijakan.”

Memperkaya Motif
Joni menambah ornamen, memperkaya teknik gradasi warna dan memperkaya kategori motif. Konsumen juga bisa request desain. Desain yang paling laris adalah melukis impian dan aktualisasi diri. Misalnya ada yang bercita-cita ingin pergi ke Paris, mereka minta digambarkan Menara Eiffel. Ada pula yang pernah memesan angka kelahiran kucing dan angka kematian kucing.

Joni juga membuat motif bertema hewan langka, buah, dan budaya. Joni memberi penjelasan di balik lukisan dan motif batu pijakan buatannya sebagai sarana edukasi. Selain itu di dalam kemasan juga terdapat tips memasang batu pijakan agar tidak mudah pecah. Joni pun berinovasi membuat wall décor (hiasan dinding) dengan ornamen glow in the dark (bersinar dalam kegelapan).

“Sekarang pasar kebanyakan di luar Kota Jogja, Jogja mungkin hanya delapan persen. Saat ini harganya sudah Rp150.000 per pieces. Saya juga sudah tambah tenaga yang bakat lukis. Biasanya dalam sehari bisa terima order empat keping, rata-rata proses pembuatan selesai dalam waktu satu minggu,” kata Joni.

Prestasi Jadi Sarana Menyasar Segmen Kelas Atas

Sederet prestasi pernah disabet Joni. Mulai dari Wirausaha Muda Mandiri, Juara 1 Lomba Logo UGM 2008, Black Innovation Award 2013, Juara 1 Hari Teknologi Tepat Guna hingga The Big Start Season 3 dari Blibli.com. Menurutnya prestasi itu tidak hanya untuk dirinya sendiri, namun juga keberlangsungan bisnisnya.

“Itu sebagai salah satu sarana branding [pengenalan merek], ketika orang merasa harganya terlalu mahal, mereka akan menilai produk saya pantas dihargai segitu. Saya kan sebenarnya menjual desain-desain saya, dan saya juga sering menang kompetisi desain,” kata Joni belum lama ini.

Demi branding, Joni pun rela “bakar duit” demi merombak total taman kecilnya. Awalnya taman kecilnya bersandingan dengan kandang sapi dan ayam.

Saat ini dia sudah membangun galeri mini dengan display berbagai batu pijakan warna-warni baik itu di dinding maupun di rerumputan. Sehingga tempat tersebut nyaman dikunjungi calon konsumen, termasuk para pegiat seni dan budaya yang ingin sharing bersamanya.

“Ke depan juga saya ingin ini jadi Setapak 9 Academy, artinya orang bebas kalau mau ke sini dan sharing tentang seni, bisnis dan apa saja. Saya juga ingin galeri ini bisa jadi tempat refreshing, foto-foto. Saat ini saya sedang dalam tahap pembuatan spot foto baru di dinding luar ini,” kata Joni.

Melihat banyak konsumen yang memesan batu pijakan taman sebagai hiasan taman sekolah, ke depannya Joni juga berencana menyasar pasar pendidikan dengan batu pijakan taman bermotif buah atau benda lainnya dengan angka awal. Motif bisa juga berkembang menjadi motif lain yang kaya makna dan edukasi.