Bawang Merah Dorong Deflasi September

Bawang Merah Dorong Deflasi SeptemberIlustrasi pedagang bawang merah - JIBI/Harian Jogja/Holy Kartika N.S
02 Oktober 2019 08:22 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatatkan Jogja mengalami deflasi sebesar 0,07% pada September 2019. Andil terbesar yang mendorong terjadi deflasi adalah bawang merah turun sebesar 24,52%.

Kepala BPS DIY Johanes De Britto Priyono mengungkapkan adapun laju inflasi kalender yaitu September 2019 terhadap Desember 2018 sebesar 1,80 persen. "Untuk laju inflasi year on year yakni September 2019 terhadap September 2018 sebesar 2,99 persen," kata dia, Selasa (1/10).

Ia menjelaskan deflasi September terjadi karena turunnya harga yang ditunjukkan oleh turunnya indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok bahan makanan turun 1,34%. Sementara, kelompok makanan jadi minuman, rokok dan tembakau naik 0,10%; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar naik 0,24%; kelompok sandang naik 0,95%; kelompok kesehatan naik 0,30%; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga naik 0,27%, dan kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan naik 0,14%.

Beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga pada Bulan September 2019 sehingga memberikan andil mendorong terjadinya deflasi di antaranya bawang merah turun 24,52%. "Bawang merah memberikan andil -0,09 persen. Daging ayam ras turun 8,54 persen dengan memberikan andil sebesar -0,08 persen; telur ayam ras turun 4,77 persen dengan memberikan andil sebesar -0,03 persen," kata dia.

Adapun komoditas lain yakni cabai rawit, cabai merah, kacang panjang, semangka dan bir turun 8,46%, 5,99%, 13,24%, 12,24% dan 2,48% dengan memberikan andil masing-masing sebesar -0,02%; ketimun, kembang kol, pepaya, tarif kereta api, baju kaos berkerah, cabe hijau, bawang putih, biskuit dan terong panjang turun 25,14%, 19,46%, 2,92%, 2,08 persen, 3,08%, 9,23%, 1,34%, 2,57% dan 10,00% dengan memberikan andil masing-masing sebesar -0,01%.

Sebaliknya komoditas yang mengalami kenaikan harga sehingga menahan laju deflasi di antaranya beras naik 1,07 persen dengan memberikan andil sebesar 0,04%; angkutan udara dan kontrak rumah naik 2,68% dan 1,17% dengan masing-masing memberikan andil sebesar 0,03%; emas perhiasan dan akademi/perguruan tinggi naik 2,92% dan 0,84 persen dengan masing-masing memberikan andil sebesar 0,02%; jeruk, susu untuk balita, upah pembantu RT, mie bakso, bayam, sekolah dasar, kopi bubuk, bahan bakar rumah tangga, teh, pasta gigi, sepatu, pampers dan pisang naik 2,70%, 1,54%, 0,59%, 1,07%, 7,14%, 0,99%, 5,32%, 0,30%, 2,34%, 2,20%, 4,80%, 3,01% dan 1,10% dengan masing-masing memberikan andil sebesar 0,01%.

 Harga Bawang Merah

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY Yanto Apriyanto mengakui selama September harga bawang merah mengalami penurunan cukup signifikan hingga berada jauh di bawah harga acuan. Harga rata-rata bawang merah per Senin (30/9) berdasarkan pantauan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY sebesar Rp12.000 per kilogram (kg). "Memang harga bawang merah baru fluktuasi. Hal ini disebabkan panen yang bersamaan di beberapa tempat sehingga persediaan sangat cukup. Adapun harga acuan Pemerintah Rp32.000 per kg," kata dia, Senin.

Ia menjelaskan panen bawang merah terjadi di beberapa sentra bawang merah, termasuk di DIY. Panen tersebut membuat persedian berlebih sehingga memengaruhi harga bawang. Dari pantauan Disperindag DIY harga bawang merah turun dari Rp13.300 per kg menjadi Rp12.000 per kg. 

Perkembangan indeks harga konsumen:

Inflasi

Kota Jogja September 2019

-Deflasi tertinggi 7.08% Sub Kelompok Bumbu-bumbuan

-Andil Deflasi: bawang merah (-009), ayam (-0,08), telur (-0,03)

 Deflasi September 2019: 0,07%

Inflasi Januari-September 2019: 1,80%

Inflasi September 2018-September 2019: 2,99%

 Inflasi tertinggi 1,70% Sub Kelompok Barang Pribadi & Sandang lainnya

Andli inflasi: beras (0,04), angkutan udara (0,03), kontrak rumah (0,03)

 Sumber: BPS DIY