Ekonomi DIY Diprediksi Menguat, Ini Dasarnya

Ekonomi DIY Diprediksi Menguat, Ini Dasarnya Ilustrasi UMKM - Bisnis Indonesia/Rachman
04 Oktober 2019 11:02 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Optimisme konsumen terhadap kondisi perekonomian DIY menguat, yang tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 144,4, jauh di atas batas indeks 100. Hal ini berdasarkan survei konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia DIY pada September 2019.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Hilman Tisnawan menjelaskan indeks tersebut terpantau naik 1,6 poin dari indeks bulan sebelumnya dan naik 6,8 poin dari indeks periode yang sama tahun lalu. “Menguatnya optimisme ini ditopang oleh meningkatnya indeks keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan,” ujar dia, Kamis (3/10).

Pada September 2019, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) naik 2,6 poin dari capaian Agustus 2019 menjadi 136,3. Menguatnya optimisme ini terkonfirmasi oleh keyakinan sebagian besar responden bahwa kegiatan usaha saat ini relatif membaik. Kenaikan IKE dimotori oleh kenaikan indeks pada hampir seluruh komponen pembentuknya, utamanya Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja sebesar 5,0 poin ke level 132,5.

Sejalan dengan itu, Indeks Penghasilan Saat ini terpantau meningkat 3,0 poin dari indeks bulan sebelumnya ke level 143,5. Peningkatan ini mendorong konsumen tetap optimis untuk melakukan pembelian barang tahan lama (durable goods), terutama pada komoditas elektronik (HP, TV, AC, lemari es), kendaraan (sepeda motor, mobil), serta furnitur dan perabotan rumah tangga.

Menguatnya optimisme konsumen terhadap kondisi perekonomian DIY diperkirakan akan berlanjut pada enam bulan ke depan, yang terindikasi dari naiknya Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) sebesar 0,5 poin menjadi 152,5. Kenaikan IEK dimotori oleh meningkatnya Indeks Ekspektasi Penghasilan ke Depan sebesar 8,0 poin ke level 157,5, yang ditengarai didorong oleh kenaikan/tambahan gaji/upah dan kenaikan omset usaha pada enam bulan ke depan.

Berdasarkan persepsi konsumen, menguatnya ekspektasi terhadap penghasilan juga dipengaruhi oleh keyakinan jika kegiatan usaha enam bulan mendatang relatif membaik dibandingkan saat ini, yang terkonfirmasi oleh Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha sebesar 156,0, jauh di atas batas indeks 100. Kondisi ini diperkirakan didorong oleh pembiayaan perbankan yang relatif mudah, serta subsidi/insentif dari pemerintah dan perbaikan infrastruktur yang relatif meningkat. 

Lapangan Kerja

Seiring dengan itu, konsumen optimis ketersediaan lapangan kerja pada enam bulan ke depan lebih tinggi dibandingkan saat ini, dengan indeks yang terpantau berada di level optimis 144,0. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya kegiatan/proyek pemerintah/swasta dan membaiknya kondisi ekonomi yang ditengarai akan mendorong masuknya aliran dana investasi asing ke Indonesia sehingga jumlah perusahaan asing yang beroperasi di dalam negeri semakin bertambah.

Pada periode tiga bulan yang akan datang (Desember 2019), konsumen memperkirakan adanya kenaikan harga dibandingkan saat ini, seiring dengan tingginya permintaan barang/jasa pada periode hari raya keagamaan (Natal) dan tahun baru. Hasil survei juga mengindikasikan bahwa tekanan harga pada Desember 2019 diperkirakan lebih tinggi dari November 2019 (month to month), tetapi ditengarai lebih rendah dari Desember 2018 (year on year/yoy).

“Kondisi ini tercermin dari Indeks Ekpektasi Harga [IEH] tiga bulan mendatang yang berada pada level 170,0, naik 1,5 poin dari indeks bulan sebelumnya, dan turun 1,5 poin dari indeks bulan yang sama tahun lalu,” ungkap dia.

Kenaikan harga dibandingkan saat ini diperkiraan juga terjadi pada enam bulan mendatang (Maret 2020), yang ditengarai didorong oleh kenaikan tarif dasar listrik sejak awal 2020. Dari hasil survei, tekanan harga pada Maret 2020 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan Februari 2020 (mtm) maupun Maret 2019 (yoy). Hal ini tercermin dari Indeks Ekpektasi Harga (IEH) enam bulan mendatang yang berada pada level 181,5, naik 3,5 poin dari indeks bulan sebelumnya, dan naik 1,5 poin dari indeks bulan yang sama tahun lalu. 

Peningkatan Konsumsi

Sejalan dengan peningkatan persepsi konsumen terhadap penghasilan saat ini, rata-rata alokasi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) meningkat menjadi 65,5% dari 61,1% pada Agustus 2019. Peningkatan proporsi konsumsi ini diikuti dengan turunnya alokasi pendapatan yang disimpan (saving to income ratio) menjadi 17,5% dari 20,4% pada bulan sebelumnya. Seiring dengan itu, alokasi pendapatan untuk pembayaran cicilan pinjaman (debt service to income ratio) terpantau menurun menjadi 17,0% dari 18,6% pada Agustus 2019.

Hampir seluruh responden (98,1%) mengaku pendapatan yang diperoleh saat ini dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga, dengan 18,9% di antaranya memiliki tingkat penghasilan yang melebihi standar kebutuhan sehari–hari. Survei menunjukkan 88,5% responden telah memiliki dana cadangan untuk kejadian tak terduga, dengan mayoritas berupa deposito/tabungan/cash dan bernilai lebih dari satu hingga tiga bulan pendapatan.

Mayoritas responden rumah tangga menjadikan instrumen simpanan pada perbankan sebagai preferensi utama untuk menempatkan kelebihan pendapatan dalam 12 bulan mendatang (sampai dengan September 2020), terutama dalam bentuk tabungan atau deposito, emas atau perhiasan, dan properti. Sementara, terkait pemilihan jasa perbankan, konsumen secara konsisten mempertimbangkan dari segi keamanan (99,9% responden), pelayanan (97,9% responden), serta lokasi (80,3% responden).