PURNA SUKMA HIDAYAT : Karya Seni Rupa Dua Dimensi dari Impian, Doa dan Cerita

PURNA SUKMA HIDAYAT : Karya Seni Rupa Dua Dimensi dari Impian, Doa dan CeritaPurna Sukma Hidayat dan karya-karyanya./ Ist. - dok. pribadi
19 Oktober 2019 12:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Menjual narasi dari pengalaman, impian, doa, ataupun cerita dari orang-orang yang dikumpulkan dan coba diceritakan ulang melalui karya seni visual dua dimensi, coba dilakukan oleh Purna Sukma Hidayat atau biasa disebut Cutnotslices.

Ketertarikan Sukma pada karya seni kurang lebih setelah mengenal dan mengulik dunia fotografi kontemporer, sekitar 2012-2013. Pada saat itu ia mulai berkarya dengan media fotografi.

Seiring berjalannya waktu, pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah, ini lebih banyak menekuni street art tetapi tetap fokus pada visual dua dimensi. Ia merasa lebih asyik dan seru ketika membuat karya yang nantinya disuguhkan dan dimiliki oleh publik.

Meski terkadang ia juga membuat karya dalam medium kanvas yang biasanya untuk keperluan pameran di dalam galeri. Dalam membuat karya, ia lebih sering menggunakan teknik stencil, karena lebih proporsional, simpel, dan karya dapat direpetisi. Jadi lebih sering pakai cat semprot daripada cat kuas.

Nama Cutnotslices ia pilih dari masalah sepele. “Sayakan sering memotong kertas untuk dijadikan stencil, nah gak sengaja jarinya juga ikut keiris. Jadilah, cut not slices,” kata pria 25 tahun itu.

Sukma mengungkapkan dalam karyanya coba menjual narasi dari pengalaman, impian, doa, ataupun cerita dari orang-orang yang ia kumpulkan dan dia mencoba menceritakan ulang.

“Nantinya akan ia ubah dengan tanda dan visual yang menurut saya pas dan estetik sehingga rasa dan perasaan seseorang dapat diwakilkan dalam karya saya. Kalau yang membedakan dengan seniman lain lebih pada style yang saya gunakan. Saya memilih gaya pop art dengan paduan potongan teks, garis abstrak, serta ornamen, yang saya kemas secara manis,” ujarnya.

Ide dari karyanya biasanya muncul dari pengamatan terhadap diluar dirinya yang nantinya ia intropeksikan pada dirinya kembali. “Jadi semisal orang orang sedang gelisah dengan sampah, maka saya melihat dulu, observasi dulu, lalu apa yang saya dapat apakah sama dengan apa yang saya rasakan, dan mungkin juga sama dengan apa yang mereka dan saya harapkan. Barulah saya mencoba menggabungkan semua narasi yang terkumpul,” katanya.

Kini karya-karyanya mulai dikoleksi oleh orang asing. Mulai dari Inggris, Prancis, Cheko dan beberapa kolektor dari luar negeri lainnya. Berbagai pameran yang sering ia ikuti baik di tingkat lokal, nasional, maupun Internasional pun turut membantunya menunjukan karyanya pada penonton maupun kolektor baru. Harga yang ia patok dari kayanya mulai Rp500.000 hingga belasan juta tergantung kerumitan.

“Harapannya sih pengin awet terus berkarya saja. Jangan sampai saya menemukan kenyamanan dalam berkarya, jadi biar lebih explore ke sana sini, dan tetap menjadi kesenian yang seru untuk terus digiati,” ucapnya. (herlambang.jati@harianjogja.com)