Menyadap Ponsel Presiden Prabowo, Listyo Sigit Cs Terancam 10 Tahun Penjara
Bareskrim menetapkan tiga tersangka kasus penyadapan ilegal ponsel Prabowo. Mereka terancam hukuman hingga 10 tahun penjara.
Ilustrasi/JIBI-bisnis.com
Harianjogja.com, JAKARTA — Lembaga Penjamin Simpanan memastikan perbankan di Tanah Air masih memiliki pengaman yang kuat dalam menghadapi kondisi perekonomian yang penuh ketidakstabilan.
Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Fauzi Ichsan mengatakan saat ini loan at risk (LaR) yang terdiri dari kolektibilitas dua ditambah kolektibilitas satu yang direstrukturisasi masih stabil di angka 10%. Sementara kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan saat ini dikisaran 23%.
Alhasil, kondisi di atas masih terbilang aman jika hal terburuk terjadi yakni keseluruhan LaR menjadi kredit bermasalah (non performing loan/NPL).
"Saya tidak katakan itu terjadi ya, tetapi NPL Indonesia itu pernah di atas 3% ketika resesi global 2009 dan CAR perbankan Indonesia tidak setinggi saat ini," katanya, Senin (4/11/2019).
Per September 2019, LPS mencatat NPL perbankan dipelopori oleh industri properti atau realestate yang bertengger di level 6%. Selanjutnya, sektor perdagangan 3,8%, sektor pengolahan 3,6%, sektor konstruksi 3,5%, dan pertambangan atau komoditas 3,1% yang pada awal 2018 sempat di atas 6%.
Fauzi memastikan dengan dukungan bantalan perbankan Indonesia yakni pertumbuhan ekonomi stabil 5%, suku bunga rendah, dan kurs stabil maka kualitas kinerja perbankan ke depan tidak akan bergeser terlalu banyak. Khususnya NPL pun meski kini perlahan menunjukkan pertumbuhan, Fauzi masih menilai kemungkinan meningkat hingga 3% sangat terbatas.
Komisaris Independen PT Bank Central Asia Tbk. Raden Pardede mengatakan, untuk saat ini, NPL perbankan masih bisa ditekan di bawah level 3%. Namun menurutnya, risiko-risiko yang akan menyebabkan peningkatan NPL mulai terlihat.
"Untuk ukuran global, NPL [industri perbankan] di bawah 3% relatif rendah, cuma ada risiko-risiko di mana LaR dan special mentions yang mulai direstrukturisasi, dan sektor-sektor yang mulai batuk-batu juga sudah ada," katanya.
Raden menilai, jika kondisi pertumbuhan ekonomi semakin melambat dan merosot, maka akan sangat berbahaya terhadap NPL secara industri. Oleh karenanya, imbuh Raden, harus ada stimulus dari regulator agar kondisi ekonomi Indonesia jangan sampai melemah.
Sementara itu, di sisi bank, harus mulai melakukan antisipasi awal dengan melakukan restrukturisasi sektor-sektor yang dinilai berpotensi menjadi kredit macet.
"Harus diantisipasi, diperbaiki lebih awal, dimitigasi risikonya, jangan nanti karena lebih baik sedia payung sebelum hujan," tutur Raden.
Lebih lanjut, dia memproyeksikan masih akan terjadi kenaikan rasio NPL hingga akhir tahun, khususnya pada kredit yang tergolong special mention.
"Akan tetapi, NPl masih bisa dikurangi kalau bank menyiapkan provisi, jadi dia akan makan CAR, margin turun. Itu harus dilakukan di dalam situasi yang melambat saat ini," paparnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Bareskrim menetapkan tiga tersangka kasus penyadapan ilegal ponsel Prabowo. Mereka terancam hukuman hingga 10 tahun penjara.
FPF berencana menggelar penghormatan khusus untuk Cristiano Ronaldo setelah sang kapten mengumumkan pensiun dari timnas Portugal.
Lima HP dari POCO, vivo, dan Huawei bisa menjadi pilihan pada November 2026. Simak spesifikasi dan harga masing-masing.
Pemkab Bantul melanjutkan PPBMP pada 2027 dengan anggaran Rp40 juta per padukuhan. Sebanyak 40% dialokasikan untuk penanganan kemiskinan dan stunting.
Marc Marquez berpeluang meraih gelar MotoGP 2026 di Qatar. Ia unggul 44 poin dan berpeluang melampaui rekor Valentino Rossi.
Crystal Palace bermain imbang 1-1 melawan Hoffenheim di Liga Europa. Gol Kamada menit akhir menyelamatkan 10 pemain Palace.