Banyak Proyek Infrastruktur di DIY, Pengusaha Harus Melek Digital

Banyak Proyek Infrastruktur di DIY, Pengusaha Harus Melek DigitalIlustrasi belanja online - JIBI/Bisnis.com
05 November 2019 19:17 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Banyaknya proyek infrastruktur di DIY berdampak pada pelaku usaha di dekat lokasi proyek.

Dinas Koperasi dan Usaha Mirko Kecil Menengah (UMKM) DIY menilai perkembangan ini mendesak UMKM untuk melek digital atau go digital. mengungkapkan dorongan diarahkan agar pelaku UMKM memanfaatkan platform digital atau perdagangan elektronik sebagai sarana pemasaran produknya.

“Dengan e-commerce, sama saja dengan membuka cabang di banyak tempat sekaligus, sehingga lebih efisien dan praktis. Jadi, ketika jualan secara offline terganggu, penjualan secara online tetap jalan dengan lancar. Inilah pentingnya go digital,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UMKM DIY Srie Nurkyatsiwi, Selasa (5/11).

Ia mengungkapkan saat ini e-commerce sudah menjadi kebutuhan pelaku UMKM dalam mengembangkan usahanya.

Namun, e-commerce akan percuma apabila pelaku UMKM tidak menjaga kualitas produknya.

“Dalam upaya peningkatan UMKM naik kelas dan go digital, harus ada pembinaan yang menyeluruh dimulai dari hulu, tengah, sampai dengan hilir,” ujar Srie.

Di bagian hulu, pembinaan dilakukan mulai dari kualitas, kontinuitas, dan kapasitas produksi, mutu desain produk, inovasi teknologi, sampai dengan pengemasan (packaging). Di bagian tengah, diarahkan upaya untuk membimbing UMKM bisa mengakses pembiayaan produktif dari lembaga keuangan maupun koperasi termasuk di era sekarang dengan e-financing dan e-payment.

“Pembinaan ini juga mencakup pemberdayaan UMKM dari sisi sertifikasi dan standardisasi produk, hak cipta dan hak merek. Di bagian hilir fasilitas diberikan kepada UMKM  dalam bentuk promosi produk melalui pameran,” kata dia.

Secara nasional sampai dengan saat ini pelaku UMKM yang sudah go online mencapai 4 juta atau masih sekitar separuh dari target pemerintah pada 2019.

Jumlah UMKM di DIY sampai dengan akhir tahun 2018 sekitar 258.000 dengan lebih dari 90% merupakan pelaku usaha dengan skala mikro dan jenis usaha yang beragam terbagi atas sektor kuliner, kriya, dan fesyen. Sebagian besar belum belum melakukan pemasaran secara e-commerce.

Sementara, pelaku UMKM binaan sebanyak kurang lebih 3.000, mereka yang memanfaatkan pemasaran secara online sebanyak  76,4% dan offline mencapai 24,6%. Namun, tingkat pengelolaan media sangat rendah.

Asumsi pemanfaatan online oleh pelaku UMKM mencapai kurang lebih 75% dan baru 40% pelaku yang memanfaatkan e-commerce. Sementara, pelaku UMKM merasa e-commerce sudah menjadi suatu kebutuhan dalam meningkatkan pemasaran dan pada akhirnya akan bermuara pada peningkatan kapasitas produksi dan pendapatan.