Advertisement
Sriwijaya Disarankan Berhenti Beroperasi
Pesawat Sriwijaya Air menunggu persiapan penerbangan di apron Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (11/12). - JIBI/Felix Jody Kinarwan
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Menyusul pemutusan kerja sama operasi dengan Garuda Indonesia Group yang mengakibatkan layanan penerbangan menjadi terganggu, Sriwijaya Air dan NAM Air disarankan untuk menghentikan operasional sementara.
Pemerhati penerbangan sekaligus anggota Ombudsman RI Alvin Lie menuturkan Sriwijaya Air hanya mengoperasikan beberapa pesawat sehingga ada sejumlah penerbangan yang mengalami keterlambatan (delayed) hingga dibatalkan (cancelled). Hal tersebut merugikan pengguna jasa angkutan udara.
Advertisement
"Kalau sudah seperti ini sebaiknya [Sriwijaya] hentikan operasi sementara, daripada hanya mengoperasikan beberapa pesawat saja. Langkah ini juga sebagai bentuk komitmen jaminan mereka pada keselamatan penerbangan," katanya kepada Bisnis.com, Kamis (7/11/2019).
Menurutnya, Sriwijaya perlu segera membereskan penunjukan jajaran direksi baru, mengangkut penumpang yang terlantar menggunakan maskapai lain, dan menghentikan penjualan tiket sampai ada kejelasan.
BACA JUGA
Pada saat Garuda Indonesia Group dan Sriwijaya Air sepakat untuk rujuk pada 1 Oktober 2019, disekapati adanya masa transisi yang dilaksanakan oleh jajaran direksi khusus. Direksi tersebut hanya memiliki mandat hingga 31 Oktober 2019.
Sampai saat ini, lanjutnya, belum ada kesepakatan pembaruan maupun penunjukan direksi definitif usai masa transisi berakhir. Secara otomatis perizinan maskapai tersebut sudah tidak memenuhi syarat lagi dan berisiko menyalahi aturan.
Di sisi lain, Alvin berpendapat beberapa BUMN seperti PT Gapura Angkasa, PT GMF Aero Asia Tbk., hingga Pertamina terus menagih kewajiban terhadap Sriwijaya Air. Hal tersebut bakal memberatkan maskapai milik keluarga Chandra Lie itu.
Bila Sriwijaya Air kesulitan untuk menyelesaikan biaya perawatan pesawat, imbuhnya, ada aspek keselamatan penerbangan yang dipertaruhkan. "Saya mendesak Kemenhub untuk bersikap tegas dalam masalah ini," ujarnya.
Dia menilai penyebab pecah kongsi tersebut berasal dari ketidaksamaan prinsip kedua kelompok maskapai tersebut. Fokus utama Garuda dalam KSO adalah untuk membantu Sriwijaya agar kondisi keiangannya cukup sehat, sehingga dapat membayar utang yang sudah menunpuk di berbagai BUMN.
Sebaliknya, Sriwijaya Air dinilai memanfaatkan KSO untuk meningkatkan nilai perusahaannya, sehingga ada kenaikan pendapatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Polresta Sleman Selidiki Video Viral Perselisihan Pelanggan Ojol
Advertisement
Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun
Advertisement
Berita Populer
- Harga Emas Pegadaian Turun, Galeri24 dan UBS Kompak Terkoreksi
- Satgas Saber Awasi Harga Daging Sapi Jelang Ramadhan 2026
- Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp64.150 per Kg Hari Ini
- Harga Emas Antam Terjun Rp183.000, Buyback Ikut Turun
- Cek Saldo Minimum Mandiri, BRI, BNI Terbaru Februari 2026
- Elon Musk Merger SpaceX dan xAI, Valuasi Capai Rp25.154 Triliun
Advertisement
Advertisement



