DIREKTUR PT BOROBUDUR OTO MOBIL: Bergerak dan Menyerang

DIREKTUR PT BOROBUDUR OTO MOBIL: Bergerak dan MenyerangDirektur PT Borobudur Oto Mobil sekaligus General Manager Wilayah DKI, Jabar, Jateng Deta Group Ana Mukhlisin ketika ditemui di Hartono Mall, Sleman beberapa waktu lalu./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
10 Desember 2019 23:27 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Meskipun dunia bisnis otomotif secara nasional mengalami perlambatan, tetapi hal tersebut tidak menyurutkan semangat Direktur PT Borobudur Oto Mobil sekaligus General Manager Wilayah DKI, Jabar, Jateng Deta Group Ana Mukhlisin dalam menjual produk Mitsubishi. Strategi bergerak dan menyerang diterapkan untuk tetap eksis di pasaran.

Pada 2010, Ana Mukhlisin ditarik ke DIY untuk menjadi Kepala Cabang PT Borobudur Oto Mobil yang berada di Jalan Solo. Ia ditarik karena sepak terjangnya berjualan Mitsubishi di Purwokerto dan strateginya yang efektif untuk menguasai pasar. Saat ia masuk ke DIY, terjadi konflik. Namun, hal itu ia anggap sebagai sesuatu yang wajar. "Karena saya orang kampung, orang yang baru masuk ke kota langsung sebagai Kepala Cabang. Ada pro dan kontra. Saya tekadnya satu saya ke Jogja bukan karena saya sendiri, tetapi karena tugas. Kalau memang yang di sini enggak setuju, saya akan cari yang lain, jadi jangan marah. Pasti ada kompetisi. Ada gejolak," ujar dia kepada Harian Jogja ketika ditemui di Hartono Mall, Sleman beberapa waktu lalu.

Meski demikian, terhadap orang yang tidak sepaham ia tetap berusaha merangkul dan mendampingi mereka. Ia percaya semakin tinggi ilmu dan posisinya, ia harus bisa menerapkan diri sebagai pelayan bagi semua orang. Ia harus memahami kendala yang dihadapi setiap anak buahnya.

"Kami harus bantu walaupun bergejolak. Kami rangkul semua. Kalau kami mau punya arti bagi orang lain, kami harus memberikan arti bagi orang lain terlebih dahulu. Mereka yang butuh arahan kami arahin, tetapi enggak cuma diarahin tetapi juga dicontohin. Kalau tipenya bossy, nuntut saja akan sulit," kata dia.

Kehadirannya di DIY pun berhasil menata PT BOM yang awalnya hanya ada satu dealer berkembang menjadi tiga. Upaya kerasnya dan keyakinannya didukung oleh alam semesta yaitu Mitsubishi ekspansi pasar dengan mengeluarkan produk passenger pertama yakni Pajero Sport. Hal itu membuat penjualan Mitsubishi semakin lancar. "Namun, untuk berjualan kami butuh jaringan yang banyak. Itu yang saya pegang. Kalau enggak ditunjang network akan sulit. Kemudian masuklah Xpander yang semakin menambah penjualan," kata dia.

Kemudian, pada 2015 ia ditarik ke Jakarta untuk menjadi General Manager Wilayah DKI, Jabar, Jateng Deta Group yang mengayomi. PT BOM untuk wilayah Jateng, dan beberapa PT lain di Jawa Barat yakni PT Mahligai Puteri Berlian, Jakarta yakni PT Batavia Bintang Berlian, Sulawesi yakni PT Makassar Mandiri Putera Utama, dan Kalimantan yakni PT Mandau Berlian Sejati.

Ia mengakui saat ini bisnis otomotif secara otomotif sedang melambat seiring perlambatan ekonomi global. Namun, ia tidak lantas tinggal diam menerima keadaan. Justru strategi pasar yanga agresif diterapkan. "Ilmu yang tepat adalah bergerak dan menyerang. Mau nungguin apa? Lebih baik bergerak dan berbuat sesuatu daripada diem aja," kata dia.

 

Obat Nyamuk

Sebelum dipindah ke DIY menjadi Kepala Cabang di DIY dan menjadi General Manager Wilayah DKI, Jabar, Jateng Deta Group ia mengalami perjalanan karier yang berliku. Ia berkecimpung di bidang bisnsis sejak sebelum lulus kuliah. Ia bertekad ketika di semester terakhir tidak ingin membebani orang tua lagi sehingga ia mulai berjualan kain. Ia melihat peluang berjualan kain

Karena kebutuhan mahasiswa semester akhir untuk memiliki baju dan celana kain resmi ketika seminar dan bertemu dosen untuk konsultasi. Ia juga pernah menyewa kandang dan mengelola ayam. Ia mulai merasakan enaknya mencari uang sendiri. Kemudian lulusan Univesitas Jendelar Sudirman, Purwokerto ini terobsesi menjadi sales executive yang terlihat keren. Ia sudah memiliki bakat berjualan dan koneksi sehingga berani mencoba melamar profesi itu.

Pada waktu itu sekitar 2002 ia diterima menjadi sales executive di sebuah dealer mobil merek lain. Merek itu kala itu produknya masih terbatas. Namun, ia tidak patah arang. Justru hal itu menjadi semangat baginya. Diusir, ditolak menjadi makanan sehari-hari. Hal itulah yang  menempanya sebagai sales executive yang andal. "Saya berhasil menjual satu bulan satu, kemudian bulan kedua bisa jualan dua. Saya pakai ilmu obat nyamuk yaitu mulai mencari konsumen di area terdekat dari dealer. Kemudian, pada akhir 2002 keluar produk passenger yang laris manis. Tetapi, saya pada 2003 kemudian pindah ke Mitsubishi di Purwokerto. Waktu itu karena ada pergantian atasan yang enggak smooth. Bagi saya tim yang solid adalah kunci kesuksesan," jelas dia.

Pada 2003 itu, ketika ia wisuda. Pola obat nyambut kembali diterapkan tetapi ia mendatangi pasar ke pasar karena saat itu Mitsubishi baru memiliki produk komersial dan belum memiliki passenger. Penjualan pun mudah karena potensi pasar yang besar.

Ia kemudian dipromosikan menjadi supervisor outlet pada 2004. Selama karier banyak kerikil tajam yang dihadapi. Outlet Mitsubishi DIY yang dibuka di Purwokerto berhasil mendominasi pasar sehingga meresahkan dealer lain. Kemudian keluarlah kebijakan closed market dari ATPM pada 2007. Di situlah ia mengalami krisis.

DIY menjadi tidak bisa menyuplai Purwokerto. Namun, krisis itu menjadi semangat dan pembelajaran. Justru ia memanfaatkan itu untuk menggandeng dealer-dealer yang awalnya menjadi saingan dan menjadi mitra kerja. Ia belanja mobil di dealer-dealer tersebut untuk dijual kembali. "Intinya, ketika kita punya tekad kuat dan yakin dan selalu berusaha dan tawakal, maka Tuhan akan membukakan pintu. Semesta akan mendukung. Jangan pernah berpikiran negatif karena nanti yang terjadi hanya negatifnya saja," ujar dia.