Berkat Pertumbuhan Ponsel, Industri Iklan Diprediksi Capai Rp105 Triliun

Berkat Pertumbuhan Ponsel, Industri Iklan Diprediksi Capai Rp105 TriliunIlustrasi iklan digital - Bisnis.com
12 Desember 2019 07:47 WIB Rahmad Fauzan Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Bisnis periklanan di Indonesia diperkirakan bakal bertumbuh pesat tahun depan. Massifnya jumlah pengguna ponsel pintar di Tanah Air menjadi faktor penyebab terbesar. 

Berdasarkan laporan berjudul 2019 Global Digital Ad Trends report by PubMatic, nilai ekonomi periklanan di Indonesia diprediksi mencapai Rp105 triliun atau meningkat 7,9% dari tahun ini, yang diperkirakan mencapai Rp98 triliun sampai dengan akhir tahun.

Country Manager, MMA Indonesia Shanti Tolani mengatakan estimasi sangat masuk akal karena sangat massifnya jumlah pengguna ponsel pintar di Tanah Air, yang diperkirakan bakal mencapai 410 juta orang pada 2025. "Sebagai salah satu pasar dengan pertumbuhan industri berbasis seluler tercepat, Indonesia menawarkan peluang bagi pemasar dalam memanfaatkan berbagai saluran dinamis untuk menggaet khalayak yang luas," ujarnya di Jakarta, Rabu (11/12).

Shanti mengatakan selain dominasi ponsel pintar pesatnya pertumuhan bisnis periklanan di Tanah Air didorong oleh beberapa hal lain, seperti terjadinya pergeseran dari laptop ke ponsel yang dikatakan cukup besar sejak 2014-2019.

Banyaknya waktu yang dihabiskan masyarakat Indonesia untuk berinteraksi secara daring di media sosial menjadi faktor pendorong selanjutnya. Laporan yang sama mengungkapkan sebanyak 92% pengguna Internet di Indonesia rata-rata menghabiskan tiga jam 26 menit per hari untuk mengakses media sosial.

"Banyak pertimbangan belanja yang dipengaruhi oleh media sosial. Hal ini merupakan alasan melalui influencer menjadi sebuah tren," lanjut Shanti.

Selain itu, laporan yang sama menunjukkan nilai pengeluaran yang dihabiskan untuk keperluan periklanan di Indonesia pada 2019 diperkirakan mencapai US$2,6 miliar atau setara dengan Rp36,5 triliun, naik 26% dibandingkan dengan tahun lalu. Angka tersebut diklaim mengalahkan negara-negara di Eropa Rusia, Swedia, Prancis, Belanda, and Italia.

Televisi dan digital merupakan media utama yang paling banyak menjadi ruang alokasi dana untuk periklanan dengan masing-masing mengalami pertumbuhan 2% dan 18% dibandingkan dengan 2018. 

Berbasis Digital

Menurut laporan lain bertajuk Dentsu Aegis Network’s DAN Global Outlook mengatakan

Google, Youtube, Facebook dan Instagram menguasai sekitar 50% dari total pengeluaran untuk iklan digital. Secara keseluruhan, pengeluaran iklan berbasis digital diprediksi tumbuh 19% pada 2019 atau relatif moderat dibandingkan dengan pertumbuhan hampir tiga digit yang terjadi beberapa tahun silam.

Pertumbuhan yang dialami bisnis iklan berbasis digital mayoritas disumbangkan oleh video dengan pertumbuhan sebanyak 33%, dan media sosial 27%.

Menurut 2019 Global Digital Ad Trends report by PubMatic, terkait dengan lansekap industri periklanan Tanah Air, impresi gawai dan banyaknya jumlah klik menarik sebagian besar pengeluaran iklan di Indonesia. Hal tersebut juga dinilai merefleksikan pertumbuhan jumlah pengguna ponsel pintar di Tanah Air. 

Tantangan Ke Depan

Meski demikian, tidak dapat diabaikan juga bahwa tingkat penipuan iklan berbasis mobile di Indonesia terbilang tinggi. Menurut Mobile Marketing Association (MMA), total kerugian akibat penipuan periklanan di Indonesia pada 2019 bisa mencapai US$120 juta [Rp1,6 triliun], dengan sektor-sektor industri yang menjadi target adalah dagang-el, teknologi finansial, fast moving consumer goods (FMCG), dan industri gim.

Shanti Tolani mengatakan tingginya penetrasi ponsel mobile, pesatnya pertambahan jumlah penggunaan metode e-payment serta pengeluaran yang besar di ranah digital dan pasar daring, menjadi penyebab tingginya potensi penipuan periklanan di Indonesia.

Penipuan dikatakan lebih cenderung mengacu pada hal-hal tertentu di dalam trafik sebuah situs. Pola yang digunakan bisa saja dengan menipu di satu situs selama satu pekan dan di situs lain pada pekan berikutnya.

Leader Digital, Mindshare, Maneesheel Gautam sebelumnya mengatakan iklan bodong, klik bot, serta trafik yang tidak valid saat ini menjadi kekhawatiran utama bagi para pelaku pasar digital. Dalam praktiknya, kata Gautam, penipuan periklanan melibatkan banyak pihak, mulai dari peretas, black market yang menjual perangkat lunak, makelar trafik, dan publisher yang dalam tingkatan tertentu sadar atas praktik penipuan yang berlangsung.

Namun demikian, lanjut Gautam, industri periklanan di Indonesia layak mendapatkan situasi yang akuntabel guna meyakinkan praktik penipuan tersebut benar-benar telah dihilangkan.

Bagaimanapun, kesadaran para pelaku bisnis mengenai penipuan iklan dan cara menangani permasalahan tersebut semakin membaik.

 

 

Sumber : Bisnis Indonesia