Jelang Natal, Harga Telur Ayam Merangkak Naik

Jelang Natal, Harga Telur Ayam Merangkak NaikWanti, salah satu pedagang bahan pangan di Pasar Beringharjo, Jogja, menata dagangan telurnya, Senin (16/12). Ia mengeluhkan kenaikan harga telur selama sepekan ini./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
17 Desember 2019 10:22 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kementerian Perdagangan memantau harga bangan pangan di Jogja jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) di Pasar Kranggan dan Pasar Beringharjo, Jogja, Senin (16/12). Berdasarkan hasil pantauan, secara umum harga bahan pangan cenderung stabil, tetapi untuk harga telur mengalami kenaikan cukup tinggi.

Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Kementerian Perdagangan Tjahya Widayanti mengungkapkan secara umum harga bahan pangan masih terkendali kecuali harga telur ayam yang mengalami kenaikan. "Harga telur ayam dari pantauan hari ini [Senin] bervariasi dari Rp25.500 dan Rp26.000 per kilogram (kg). Kami akan cek ke pemasok, apa yang menjadi penyebab harga telur ayam naik. Tadi ada yang bilang karena permintaan naik. Tetapi permintaan naik itu bukan langsung jadi alasan untuk harga naik," ujar dia kepada wartawan seusai memantau harga di Pasar Beringharjo, Jogja, Senin.

Ia mengungkapkan harga acuan untuk telur ayam Rp23.000 per kg. Kenaikan yang terjadi saat ini cukup tinggi karena mencapai Rp2.500 hingga Rp3.000 per kg. Untuk pasokan, ia mengungkapkan tidak ada masalah. Justru hal inilah yang membuat munculnya pertanyaan kenapa harga naik.

"Pasokan telur aman. Ini jadi pertanyaan kenapa harga naik. Kami akan cek ke peternaknya. Apakah karena memang cost produksi yang naik karena ada isu harga jagung mulai naik. Kami akan hubungi Pinsar Cabang Jogja. Kita minta satgas pangan menyelidiki kenapa naik. Jangan biarkan masyarakan terbebani dengan harga yang tinggi," ujar dia.

Untuk bahan pangan beras para pedagang mengaku ada kenaikan saat kulakan sebesar Rp100 per kg. Namun, mereka menjual dengan harga tetap. Harga cabai, bawang merah, dan bawang putih juga stabil. "Untuk minyak goreng sebenarnya ada ketentuan harga eceran tertinggi (HET) untuk curah Rp10.500 per liter, tadi dijual Rp11.000. Kami akan cek siapa distributor dan pengecer kenapa harga naik. Curah sudah diimbau untuk dikemas dalam kemasan sederhana ada ketentutan 11.000 per liter. Saat ini curah masih boleh, tetapi ke depan akan dilarang," tutur dia.

Ia menyebutkan permintaan daging ayam juga mengalami kenaikan. Meski demikian harga di Jogja masih stabil dan dalam koridor harga acuan Rp33.000 per kg. "Untuk Jogja harga masih normal meskipun hasil pantauan di beberapa daerah lain mengalami kenaikan. Daging ayam di sini masih sesuai harga acuan Rp33.000 per kg untuk ayam yang masih utuh. Kalau yanv sudah dipotong Rp34.000 per kg jadi masih dalam koridor ketentuan yang ada," ungkap dia.

Ia mengimbau para pedagang untuk tidak menaikkan harga ketika tidak ada kelangkaan. Tujuannya agar masyarakat tidak terbebani. "Pada umumnya Nataru kenaikan harga tidak setinggi Lebaran. Harusnya enggak jadi masalah. Imbauan untuk masyarakat saya sarankan belanja sebatas keperluan kita saja. Jangan berlebihan," terang dia.

 

Selama Sepekan

Salah satu pedagang bahan pangan di Pasar Beringharjo Tinem mengungkapkan kenaikan harga telur ayam sudah terjadi selama sepekan ini. Kenaikan yang terjadi pun cukup signifikan yakni menjadi Rp26.000 per kg. Padahal harga pada umumnya Rp22.000 per kg. "Harganya naik, tetapi pasokan dan permintaannya tetap. Enggak ada kenaikan permintaan ataupun pengurangan pasokan. Saya juga heran kenapa harga bisa naik," ujar dia.

Ia mengungkapkan kondisi ini membuat pedagang kesulitan menjual bahan pangannya. Ia menyebutkan selain harga telur, beberapa bahan pangan lain juga mengalami kenaikan seperti gula pasir. "Gula pasir harganya naik dari biasanya Rp12.500 per kg sekarang menjadi Rp13.000 per kg. Harga beras juga naik Rp500 per kg-nya. Minyak goreng kemasan juga naik Rp500 per liter," kata dia.

Pedagang lainnya Wanti mengungkapkan saat ini belum banyak permintaan telur dari konsumen. Menurutnya, kenaikan permintaan biasanya terjadi mendekati Natal sekitar H-7. "Untuk stok juga masih sama untuk sekarang. Kalau mendekati Natal biasanya ada peningkatan sekitar 20 persen," kata dia.