Produk Ramah Lingkungan Akan Jadi Tren

Produk Ramah Lingkungan Akan Jadi TrenPengunjung melihat produk dan berbincang dengan peserta pameran dalam ajang Jogja International Furniture and Craft Fair Indonesia (Jiffina) 2019 yang berlangsung di Jogja Expo Center, Bantul, Rabu (13/3). / JIBI/Harian Jogja - Desi Suryanto
15 Januari 2020 07:07 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Produk mebel dan kerajinan yang ramah lingkungan dinilai menjadi tren pada 2020 ini. Hal ini berkaitan dengan kesadaran masyarakat akan kelestarian lingkungan yang semakin meningkat. 

Ketua Bidang Organisasi DPP Asosiasi Industri Mebel & Kerajinan Indonesia (Asmindo) Endro Wardoyo menyebutkan produk daur ulang akan menjadi magnet bisnis mebel dan kerajinan pada tahun ini. Hal ini seiring kampanye pelestarian lingkungan yang semakin gencar dilakukan. "Daur ulang dan kelestarian alam sudah menjadi isu global. Produk yang ramah lingkungan akan menjadi produk yang semakin dicari oleh konsumen," kata dia, Selasa (14/1).

Ia mengungkapkan kuncinya ada di desain mebel. Saat ini memang sedang tren mebel daur ulang misalnya dari kayu bongkaran rumah. Tren daur ulang ini sudah dimulai beberapa tahun lalu, tetapi saat ini semakin meningkat peminatnya. Pada mulanya, tren ini diminati oleh pasar internasional, tetapi lama kelamaan tren ini diikuti pula oleh pasar domestik. "Awalnya internasional, tetapi pasar sudah mulai ikut karena memang mengikuti tren atau referensi dari luar negeri," terang dia.

Sementara, tren bentuk saat ini lebih condong ke desain minimalis. Pada prinsipnya, ujar Endro, perajin atau pengusaha mampu memenuhi permintaan pasar. Apa yang diminta konsumen akan dipenuhi oleh pengusaha mebel. Untuk melihat tren lebih mudah dilihat di pameran. Apalagi DIY akan diselenggarakan pameran Jogja International Furniture and Craft Fair Indonesia (JIFFINA) pada Maret 2020. Produk ramah lingkungan pun akan banyak mendominasi pameran karena mengikuti keinginan pasar.

Ia mengatakan perajin di DIY memiliki banyak potensi sehingga untuk mengikuti tren pasar tidaklah susah. Menurutnya kreativitas perajin tidak perlu diragukan lagi dan banyak inovasi yang mereka ciptakan untuk produk mebel. Produk mebel DIY tidak hanya diminati masyarakat luar negeri, tetapi juga pasar domestik. "Potensinya luar biasa. Kerajinan dan mebel di Bali saja hampir 40 hingga 60 persennya berasal dari DIY. Ini kesempatan yang besar untuk dikembangkan, dikemas dan difasilitasi. Apalagi untuk keperluan pasar domestik," ujar dia.

Kreativitas dan inovasi dari setiap perajin sangat diperlukan untuk bisa terus bersaing apalagi di tengah gempuran produk impor. Jika tidak memiliki nilai jual yang lebih, justru bisa kalah. Endro menyebutkan produk-produk impor mebel dan kerajinan yang masuk pasar domestik. "Hal ini tentu saja mengganggu pelaku industri mebel dan kerajinan lokal karena rata-rata produk impor merupakan produksi massal yang menguasai pasar di beberapa daerah. Tinggal upaya pemerintah untuk melindungi produk-produk lokal khususnya dari UKM dengan kemudahan dari sisi regulasi atau kebijakan," kata dia.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) DIY produk kayu dan barang dari kayu memberikan kontribusi sebesar 3,87% terhadap total nilai ekspor DIY pada 2019 periode Januari-November. Total ekspor kayu dan barang dari kayu di DIY tercatat sebesar US$14,2 juta [Rp194,2 miliar]. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu di mana nilai ekspor kayu dan barang dari kayu sebesar US$14,9 juta [Rp203,7 miliar].