Ternyata Harga Cabai di Jogja Mahal Gara-Gara Ini

Ternyata Harga Cabai di Jogja Mahal Gara-Gara IniIlustrasi cabai - Reuters
29 Januari 2020 09:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kenaikan harga cabai di DIY dinilai turut didorong karena pengaruh penjualan oleh petani ke luar daerah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Hilman Tisnawan mengatakan saat ini belum mengetahui secara pasti pengaruh cabai terhadap inflasi. Menurutnya, kenaikan harga ini tidak hanya di Jogja.

“Harga di luar daerah memengaruhi, istilahnya Jogja price taker bukan price maker. Istilahnya cabai di sini melimpah tetapi di luar kurang, jadi harga naik. Tetapi kami tidak bisa juga melarang petani menjual ke luar daerah. Pasti mereka juga cari harga yang lebih tinggi,” kata Hilman, Selasa (28/1).

Meski begitu menurut Hilman, kenaikan ini sifatnya temporer saja. Optimalisasi Tim Pemantau Inflasi Daerah (TPID) pun dilakukan, dan terus berkoordinasi. Pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat, untuk sedikit mengurangi penggunaan cabai sementara.

Wali Kota Jogja, Haryadi Suyuti menambahkan, cuaca yang memasuki masa penghujan turut memengaruhi produksi cabai. “Musim hujan ini tidak baik produksinya, supply sedikit akibatnya harga naik. Tetapi kami monitor terus kami punya TPID,” ucapnya.

Kepala Bidang Perdangangan dalam Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Yanto Aprianto mengatakan hingga saat ini untuk cabai merah TM atau cabai konsumsi dan cabai rawit merah harga cukup tinggi, hal ini karena luasan panen terbatas. Contoh Kulonprogo hanya untuk konsumsi Jogja, sudah tidak lagi pasok ke Jakarta. Selain itu, luasan panen, cuaca dan hama juga memengaruhi.

“Selama ini lelang di Kulonprogo biasa ke Jakarta dan Sumatra. Namun sekarang produk pertanian Kulonprogo hanya cukup untuk kebutuhan Jogja. Perkiraan pertengahan Maret dan April sudah panen raya dan stok masih tersedia. Upaya Pemda DIY dalam hal ini melakukan pantauan harga di tiga pasar rakyat yakni Beringharjo, Kranggan serta Demangan,” ucapnya.

Pantauan, kata dia, meliputi pengawasan pergerakan distribusi komoditas hingga apakah ada penimbunan atau permainan pedagang. Namun Yanto menuturkan selama ini tidak ditemukan pedagang yang bermain curang.