DIY Harus Siap Hadapi Perlambatan Ekonomi Global

DIY Harus Siap Hadapi Perlambatan Ekonomi GlobalPenyerahan kotak amal kepada Masjid Islamic Center UAD yang memiliki tanda Beramal Melalui QRIS dari Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji (kedua kiri) kepada Rektor UAD Muchlas (ketiga kanan) dalam Seminar Outlook Perekonomian dan Keuangan 2020 di Amphitarium Kampus Utama UAD, Rabu (29/1)./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
01 Februari 2020 06:22 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Perlambatan ekonomi global yang diikuti dengan tantangan disrupsi ekonomi digital harus disikapi dengan penguatan kapabilitas sumber daya manusia untuk menghasilkan inovasi dalam menjawab tantangan tersebut. DIY pun harus mempersiapkan diri agar dapat bertahan dari situasi ini. 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY Hilman Tisnawan mengungkapkan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY berhasil menjaga laju inflasi selama 2019 yakni sebesar 2,77% (year on year/yoy) yang masih pada sasaran yang ditetapkan yakni 3,5% dengan plus minus 1%. Target inflasi pada 2020 pun lebih kecil dari target 2019 yakni 3% dengan plus minus 1%.

Hilman yang juga sebagai Wakil Ketua TPID DIY menyebutkan upaya pengendalian inflasi yang dilakukan Pemda DIY melalui TPID semakin solid. Pihaknya pun berharap stabilitas harga di DIY semakin baik sehingga TPID DIY menargetkan inflasi untuk turun 0,5%.

Dia menyebutkan dalam dua tahun terakhir, ekonomi DIY tumbuh ditopang sektor domestik, utamanya investasi bangunan dari konstruksi proyek strategis nasional Yogyakarta International Airport (YIA). Setelah proyek tersebut berakhir, dalam jangka pendek pertumbuhan ekonomi DIY diperkirakan kembali ke rata-rata normal. Pada 2020, ekonomi DIY diperkirakan melambat, pada kisaran 5,3%-5,7% (yoy). "Dalam jangka menengah, kami meyakini keberadaan bandara baru akan mendorong munculnya rambatan ekonomi. Investasi bangunan masih akan tumbuh seiring berkembangnya kawasan aerotropolis, pembangunan infrastruktur akses jalur kereta api, hingga perhotelan," ujar dia dalam Seminar Outlook Perekonomian dan Keuangan 2020 di Amphitarium Kampus Utama UAD, Bantul, Rabu (29/1). Acara ini digelar Bank Indonesia bersama dengan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Ia mengatakan dari investasi nonbangunan, BI memetakan sumber pertumbuhan ekonomi baru melalui riset growth srategy. BI mengidentifikasi optimalisasi kinerja subsektor unggulan antara lain industri tekstil dan produk turunan (TPT) termasuk fesyen; mebel dan kerajinan kayu; jasa pariwisata; akomodasi makanan minuman dan industri kreatif termasuk animasi dan gim.

Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi DIY 2020 pada kisaran 5,3%-5,7% (yoy). Ekonomi DIY cenderung kembali ke rata-rata normal setelah 2019 dan 2018 ekonomi DIY melonjak akibat investasi bangunan dari proyek strategis nasional di DIY. 

Rencana Preventif

Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji mengungkapkan sepanjang 2019 gejolak ekonomi dan politik global membayangi ekonomi nasional. "Oleh karena itu perlu untuk mendesain rencana preventif atas tak menentunya ekonomi global sebagai langkah antisipasi kebijakan elonomi dalam negeri. Pemerintah akan bijak jima memproyeksikan sumber potensi, sumber ekonomi 2020," kata dia.

Ia menyoroti UMKM merupakan sumber ekonomi yang tahan terhadap goncangan. Hal itu tercermin pada krisis 2008. "Ini bisa terjadi karena umumnya UMKM hasilkan barang konsumsi dan jasa yang sangat dekat dengan kebutuham masyarakat. Pendapatan masyarakat merosot enggak pengaruh banyak pada permintaan barang dan jasa. Beda dengan industri skala besar. Pelaku usaha UMKM umumnya mamanfaatkan suber daya lokal. Artinya sebagian UMKM enggak butuh bahan impor dan enggak ditopang dana pinjaman bank tetapi dana sendiri. Ketika perbankan terpuruk dan suku bunga tinggi enggak pengaruhi UMKM di Indonesia," kata dia.

 

Kinerja Keuangan

Kepala OJK DIY Untung Nugroho mengungkapkan pada November 2019, kinerja keuangan perbankan di DIY bertumbuh positif apabila dibandingkan dengan pertumbuhan nasional. Loan Deposit Ratio (LDR) 65,14% relatif stabil, tetapi masih berada di bawah nasional sebesar 93,14%. "Rasio NPL cenderung mengalami perbaikan kualitas yang tercermin dari rasio 2,91 persen [2018] ke 2,79 persen. Dan masih relatif cukup baik dibandingkan dengan nasional sebesar 2,87 persen," kata dia.

Untung menjelaskan total penyaluran kredit UMKM perbankan mencapai Rp19,100 miliar atau tumbuh sebesar 7,87% (yoy), dengan rasio NPL sebesar 3,73%. Angka ini menunjukkan rasio NPL mengalami perbaikan dibandingkan bulan Oktober 2019 yaitu 4,03%). Dengan share terbesar 84,83% disalurkan oleh bank umum dan sisanya sebesar 15,17% oleh BPR.

Kinerja keuangan perbankan syariah di DIY bertumbuh positif. Finance to Deposit Ratio (FDR) 70,02% relatif stabil, tetapi masih berada di bawah nasional sebesar 86,08%. Rasio NPF cenderung menurun kualitas yang tercermin dari rasio 2,11% (2018) ke 3,13%, tetapi relatif positif dibandingkan dengan nasional sebesar 3,32%. "Kinerja keuangan Bank Umum bertumbuh positif. Loan Deposit Ratio [LDR] 62,06 persen relatif stabil, tetapi masih berada di bawah nasional 92,88 persen. Rasio NPL mengalami perbaikan kualitas yang tercermin dari rasio 2,61 persen [2018] ke 2,33 persen. Dan masih relatif lebih rendah dibandingkan dengan nasional sebesar 2,77 persen," kata dia.

Kinerja keuangan BPR bertumbuh positif dan di atas pertumbuhan Bank Umum di DIY. LDR 97,97% relatif stabil, tetapi masih berada di bawah nasional 106,98%. Rasio NPL cenderung mengalami penurunan kualitas yang tercermin dari rasio 5,04% (2018) ke 5,84%, namun kondisi relatif positif dibandingkan nasional sebesar 7,37%.  

Keuangan Digital

Dalam acara tersebut Bank Indonesia juga menyerahkan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) berupa kotak amal kepada Masjid Islamic Center UAD yang memiliki tanda Beramal Melalui QRIS dan imbauan Lima Jangan. QRIS merupakan inovasi di era keuangan digital, yaitu standar QR Code pembayaran untuk sistem pembayaran Indonesia yang dikembangkan oleh Bank Indonesia dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI). Saat ini QRIS menjadikan pembayaran nontunai lebih menjangkau seluruh masyarakat, mudah, aman, efisien dan cepat; sehingga memperlancar masyarakat dalam menyalurkan amalnya. Sementara di sisi tunainya, kotak amal tersebut memberikan himbauan merawat rupiah dengan Lima Jangan yaitu Jangan Dilipat, Jangan Dicoret, Jangan Distapler, Jangan Diremas dan Jangan Dibasahi.

Gerakan tersebut sebagai upaya edukasi kepada masyarakat untuk merawat dan mencintai rupiah sehingga dapat berdampak terhadap turunnya peredaran uang lusuh yang ada di DIY. "Kami mengharapkan kotak amal ini selanjutnya dapat menyebar ke masjid-masjid dan rumah ibadah lainnya di DIY sehingga penyaluran dana amal masyarakat dapat lebih besar lagi yang pada akhirnya dapat membantu masyarakat DIY lainnya yang membutuhkan," ujar dia.