Digital Savvy Mulai Geser Transaksi Berbasis Kartu

Digital Savvy Mulai Geser Transaksi Berbasis Kartu Direktur Operasional Ritel PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) Anton F Siregar (kiri) bersama CEO PT Fintek Karya Nusantara (Link Aja!) Danu Wicaksana , membuka aplikasi DigiAsk selepas menandatangani naskah kerja sama, di Jakarta, Rabu (27/3). Askrindo bersama LinkAja! memperkenalkan DigiAsk untuk membayar polis Asuransi Kecelakaan Diri melalui e-wallet atau keuangan berbasis elektronik. - Bisnis Indonesia/Endang Muchtar
11 Februari 2020 11:22 WIB Maria Elena Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Tren digital savvy yang semakin banyak mendapat kemudahan bertransaksi secara nontunai mulai menggerus transaksi berbasis kartu. 

Secara industri, Bank Indonesia mencatat volume transaksi menggunakan kartu ATM dan ATM + debet pada 2019 tercatat tumbuh 9,67% year on year (yoy), melmambat dibandingkan 2018 yang tumbuh 12,54%. Di sisi lain, nilai transaksi juga turut mengalami perlambatan, dari 11,71% pada 2018 menjadi sebesar 7,01% pada 2019. Perlambatan transaksi tersebut pun dibenarkan oleh salah satu bank milik negara (Himbara), PT bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

Direktur Teknologi Informasi dan Operasi BNI Dadang Setiabudi mengatakan sistem pembayaran menggunakan aplikasi berbasis QR code ataupun NFC (Near Field Communication), saat ini memang sedang marak, baik yang di terbitkan oleh bank maupun perusahaan teknologi finansial (tekfin).

Namun menurutnya, sejauh ini secara persentase porporsi, transaksi berbasis nonkartu masih belum terlalu besar terhadap total transaksi yang berjalan di industri. Sehingga menurut Dadang, dalam satu-dua tahun ke depan, penggunaan kartu masih tetap diandalkan di industri. "Dalam satu hingga dua tahun ke depan kemungkinan besar transaksi masih di dominasi oleh alat pembayaran yang berbasis kartu, baik kartu debit maupun kartu kredit. Hal tersebut diakibatkan karena metode pembayaran yang menggunakan uang elektronik berbasis server memiliki limit dalam transaksi, sehingga untuk transaksi dengan jumlah besar masyarakat masih menggunakan kartu," katanya kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Senin (10/2).

 

Lambat tetapi Tumbuh

Kepala Divisi Product Management BNI Donny Bima juga beranggapan dalam lima tahun terakhir secara industri, transaksi belanja menggunakan kartu debit memang menunjukkan perlambatan meski tetap mencatat pertumbuhan yang positif.

Menurutnya, hal ini tidak dapat dipungkiri karena perlambatan tersebut banyak dipengaruhi oleh berkembang pesatnya alternatif mode pembayaran tanpa uang tunai (cashless) yang sebelumnya terfokus pada transaksi berbasis kartu.

Transaksi berbasis kartu juga terdisrupsi oleh cashless transaction berbasis apps wallet atau dompet digital yang banyak dirilis oleh perusahaan tekfin. Tren cashless ini pun ikut didorong dengan kemudahan pembukaan akun, serta model kampanye yang agresif berbentuk subsidi belanja atau promo, sehingga nasabah jadi memiliki alternatif lain untuk belanja secara nontunai.

"Meski demikian, dengan strategi yang terukur dan fokus untuk menggarap nasabah yang loyal dan logis, pertumbuhan transaksi belanja kartu debit BNI masih bertumbuh dengan angka pertumbuhan yang relatif cukup baik," jelasnya.

Dadang menambahkan perseroan telah mengantisipasi terhadap perlambatan transaksi berbasis kartu tersebut, yakni dengan pengembangan Link Aja, dompet digital hasil kolaborasi Bank Himbara. "Kami sudah persiapkan dengan baik, yaitu dengan kolaborasi Himbara dengan Link Aja. Link Aja ke depan akan menjadi alat pembayaran yang multi fungsi, karena Link Aja akan memaksimalkan fitur pembayarannya menggunakan sumber dana kartu debit dan kartu kredit disamping yang saat ini sudah berlangsung yaitu uang elektronik sebagai sumber dananya," tutur Dadang.

Dengan demikian, dia menambahkan nasabah BNI akan dipermudah dalam bertransaksi tanpa harus menggunakan kartu.

Pengamat keamanan siber dari Communication & Information System Security Research Center (CISSRec) Pratama Persadha berpendapat jika melihat tren saat ini, maka peran mesin Electronic Data Capture (EDC), yang menggunakan alat transaksi berbasis kartu akan teralihkan.

Pratama mencontohkan alat transaksi seperti QR code saat ini sudah mulai digunakan beberapa toko peritel besar sebagai pengganti kartu member. Hal ini secara teknis juga sebenarnya dapat digunakan untuk menggantikan fungsi EDC saat memproses transaksi kartu debit dan kartu kredit.

"Ke depan QRIS akan menggusur EDC. Namun memang untuk saat ini, EDC masih diperlukan karena ada transaksi dengan kartu dan ada juga model QR code yang tidak statis yang dicetak dengan mesin EDC," jelas Pratama.

Sumber : Bisnis Indonesia