DEPUTI KPw BI DIY : Miyono Berusaha Tidak Panik di Tengah Bencana

DEPUTI KPw BI DIY : Miyono Berusaha Tidak Panik di Tengah BencanaDeputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY Miyono ketika menjadi narasumber dalam acara The Captain di Radio Star Jogja FM, Jogja, Senin (17/2) malam./ Ist - Star Jogja FM
19 Februari 2020 07:22 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY Miyono pernah mengalami musibah bencana gempa bumi dan tsunami pada 28 September 2018 ketika menjabat sebagai Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tengah (Sulteng) lalu. Menghadapi kondisi krisis di tengah bencana alam bukan hal yang mudah dan dibutuhkan tekad yang kuat.

Miyono yang pernah menjadi pimpinan BI di Palu selama 2,9 tahun memiliki langkah atau sikap yang menjadi kunci sukses di tengah situasi krisis. “Kuncinya adalah tidak panik. Saya berusaha merenung, menatap langit minta pertolongan tuhan. Saya mencoba tidak panik,” kata dia ketika menjadi narasumber dalam program The Captain di Radio Star Jogja 101,3 FM, Senin (17/2) malam.

Tidak panik menjadi kunci pertama ketika menghadapi situasi krisis terlebih dirinya adalah seorang pemimpin saat itu. Selain itu, ia juga harus berpikir jernih karena banyak pegawai yang minta izin meninggalkan Palu lantaran ada isu gempa yang lebih besar. Dalam situasi itu, ia berupaya menenangkan dan menyatukan tekad dengan pegawai lain. "Kita kalau mati, kita di mana saja bisa mati,” kata dia.

Mengambil keputusan itu tidaklah mudah karena saat itu situasi genting pascabencana. Oleh karena itu, akan banyak pemakluman ketika kondisi bencana. Namun, ia memantapkan diri dan meminta pegawainya untuk tetap melayani masyarakat. “Kami ini sudah bersumpah untuk melayani, walaupun saat itu saya juga belum bisa berkomunikasi dengan pimpinan kami. Kami ambil sikap itu,” jelas dia.

Miyono menyebutkan setelah semua bencana dilalui, saat ini kondisi perekonomian di Palu jauh lebih baik. Menjadi pemimpin di tengah situasi krisis di Palu saat itu pun menjadi pengalaman yang tidak pernah ia lupakan. “Ketika pamitan mereka pada nangis. Mereka bilang terima kasih ketika itu bapak ada di samping kami baik di senang maupun susah, ketika ada di kondisi ini tidak melarikan diri,” jelas dia.

Miyono mengatakan untuk bisa sukses ia berpesan untuk terus jujur, disiplin, tidak lari tanggung jawab, bekerja cerdas dan ikhlas. Ia mengaku mendapat pelajaran atau didikan dari orang tua untuk selalu memberikan pelayanan kepada orang lain.

“Saya punya lima sikap hidup utama yang jadi pedoman hidup saya selain Al-Qur’an dan Hadis. Pertama prasaja hidup sederhana, intinya bisa menyesuaikan. Prayoga itu mengamalkan hal baik untuk dijadikan contoh. Pranata menghormati UU yang berlaku. Prasetya menepati janji. Prayitna itu waspada hati-hati dan tidak ceroboh. Supaya mengambil keijakan tidak pelit harus dikalkulasi antara dampak positif dan negatif,” ungkap dia.